Demi Layani Seorang Gadis SMU Perusahaan Ini Rela Merugi

Wah bener gak sih yang beritanya:

358535_stasiun-kami-shirataki-hokkaido-jepang-_663_382VIVA.co.id – Engaru adalah sebuah kota kecil yang ada di Prefektur Hokkaido, Jepang. Sekitar tiga tahun lalu, sebuah stasiun kereta api yang ada di dekat kota tersebut, yaitu Kami-Shirataki, ditutup.

Dilansir dari cctvnews, Sabtu 9 Januari 2016, alasan penutupan adalah karena perusahaan kereta api yang melayani jalur tersebut (Japan Railway atau JR) terus mengalami kerugian. Selain lokasinya yang terpencil, kereta barang juga sudah lagi melewati stasiun tersebut.

Namun, JR mengubah keputusan, dengan tetap membuka stasiun Kami-Shirataki. Alasannya, ada seorang gadis yang setiap hari selalu memakai jasa transportasi kereta api di stasiun tersebut.

Gadis yang tidak disebutkan namanya itu saat ini masih duduk di bangku SMU, dan ia akan segera lulus pada 26 Maret 2016 mendatang. Jadi, hingga waktu kelulusan, JR akan tetap mengoperasikan satu rangkaian kereta api, khusus untuk gadis itu.

Setiap hari, ada dua rangkaian kereta yang akan menuju ke Kami-Shirataki. Jadwalnya tergantung dari jam masuk dan pulang sang gadis.

Setelah lulus, baru JR akan resmi menutup stasiun Kami-Shirataki.

sumber

Obat Anjing

maaf gambar saya comot aja nih

Bingung kasih judulnya nih,,,,,,

Seorang anak Papua,
Usia 10 tahun, namanya Edward Goram.

Suatu hari, Goram lari menemui Pak Purwadi.

Goram meminta Pak Purwadi untuk mengobati anjingnya yang sekarat.

Pak Pur tersenyum dan mengiyakan. Mereka berdua menuju rumah Goram.

Melihat anjing tersebut sedang sekarat, Pak Pur yang asli Bantul itu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjing dan berkata dalam bahasa Jawa:

“Su, Asu (jing, anjing), nek kowe arep mati yo mati o (kalau kamu mau mati ya mati aja), nek arep urip yo waras o (Kalau mau hidup, sembuhlah).

Goram yang tidak bisa bahasa Jawa berpikir Pak Pur menggunakan bahasa Latin.

Diam2 Goram menghafalkan kata2 yang dia kira mantra / do’a itu.

Setelah itu pak Pur langsung pulang.

Beberapa hari kemudian, Goram lari2 ke rumah pak Pur bermaksud melaporkan kalau anjingnya sudah sembuh.

Namun ternyata Pak Purwadi sedang sakit. Goram terkejut, langsung menuju ke kamar Pak Pur dan menempelkan telapak tangannya ke jidat pak Pur.

Selanjutnya Goram membaca mantra :

“Su, asu, nek kowe arep mati yo mati o, nek arep urip yo waras o.”

Pak Purwadi kaget dan tertawa langsung sembuh.

Siapa yang hari ini lagi sakit? Senyum & tawamu setelah membaca ini, juga membuatmu sembuh & pulih ya.

Sebab hati yang gembira adalah obat yang manjur bagi kita.

(Maaf ya,,, ini buat humor saja bukan maksud bully membully dan atau SARA. Ini repost dari postingan di Facebook Status)

Sent via BlackBerry® exclusively for dwipo

Surat Aneh Kepada Dompet Dhuafa

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Beberapa tahun silam, ada sebuah surat yang cukup unik datang ke kantor Dompet Dhuafa (DD). Biasanya setiap hari lebih dari 20 surat permohonan bantuan singgah ke kantor DD.

Pada umumnya, surat permohonan bantuan itu isinya agak panjang, berhubung hendak menceritakan masalah dan mengajukan bantuan. Tidak sedikit dari surat-surat itu yang ditulis panjang lebar dengan narasi yang memilukan.

Tapi hari itu, datang sebuah surat yang tidak biasanya. Setelah dibuka, isinya ternyata hanya satu kalimat saja. Kalimat itu berbunyi: “Jika diizinkan, saya akan datang ke kantor Dompet Dhuafa.” Kita semua yang membacanya tentu merasa heran terhadap surat ini.

Sepanjang sejarah DD, belum pernah ada surat yang isinya seperti itu. Karena itu kemudian, kita segera membalas surat itu dengan jawaban : “Silakan Bapak datang ke kantor Dompet Dhuafa, Pada hari … (tertentu), jam … (tertentu).”

Pada hari dan jam yang dijanjikan, kita telah menanti tamu yang akan datang. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki dengan perawakan pendek dan agak kurus. Kedua tangannya (maaf) putus dari pangkal lengan, dan kedua kakinya seperti pernah mengalami sakit polio (dengan bentuk sedikit agak melengkung).

Menyaksikan kehadiran lelaki tersebut, segeralah kita mengerti mengapa lelaki tersebut menulis surat seperti itu. Rupanya, dia ingin kita melihat saja secara langsung kondisi dirinya. Batinnya mungkin berkata, “tak perlulah saya menceritakan panjang lebar, cukuplah Anda lihat sendiri, barulah Anda mengerti apa yang saya maksudkan.”

Melihat kehadiran lelaki tersebut dan mengerti kondisi yang dialami oleh lelaki tersebut, kami pun bergegas menawarkan bantuan kepada beliau.

Salah seorang karyawan DD kemudian berkata, “Pak, apa yang bisa DD lakukan, untuk bisa membantu Bapak ?” Lelaki tersebut kemudian menjawab, “Saya mohon DD membantu saya satu…saja, mohon DD membelikan saya satu buah mesin ketik.”

Mendengar ungkapan bahwa lelaki itu ingin dibelikan mesin ketik, karyawan DD pun bertanya lagi, “Mohon maaf Bapak, apakah anak Bapak ada yang sedang ditugasi menulis paper atau makalah, seperti itu ?”

Lelaki itu pun menjawab lagi, “Oh …, bukan …, mesin ketik itu bukan untuk anak saya, tapi untuk saya, saya biasa mengetik kok …” mendengar jawaban tersebut, karyawan DD pun terperanjat, sehingga terucap, “Mengetik dengan….?” Spontan lelaki itu pun menjawab, “Saya biasa mengetik dengan kaki saya…”

Seterusnya lelaki itu pun melanjutkan, “Kalau Bapak berjalan-jalan di kawasan Pasar Senen, di sana akan terlihat banyak kios-kios jasa mengetik, salah satunya adalah kios saya. Saya biasa melayani jasa mengetik. Cuma selama ini mesin ketiknya punya toke saya. Sehingga hasilnya dibagi dua. Saya bermimpi, jika saya punya mesin ketik sendiri, mungkin hasilnya jadi lebih besar …”

Mendengar penuturan lelaki itu, tiba-tiba saja terasa ada pukulan keras menghantam ulu hati kita yang mendengarnya. Bagaimana tidak, ada seorang lelaki yang mengalami cacat fisik, yang sesungguhnya teramat pantas dikasihani dan disantuni setiap saat, akan tetapi ternyata yang diharapkannya justru adalah bantuan yang membuatnya bisa tetap berusaha dan produktif.

Lelaki itu bukan ingin dibantu sehingga tergantung pada belas kasihan orang lain, tetapi justru ingin dibantu yang membuatnya mandiri dan tegak di atas kekuatannya sendiri.

Lelaki itu laksana malaikat yang dihadirkan kepada kita untuk menyampaikan pesan agar kita lebih menghargai diri kita dengan berusaha menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Karena pada zaman sekarang ini, betapa banyak anak muda, fisiknya utuh, tubuhnya sehat dan kuat, tetapi jiwanya lemah dengan ingin dikasihani dan mengharap iba dari orang lain.

Betapa banyak manusia di dunia ini, yang kondisi fisiknya jauh lebih baik dari Bapak tersebut, tetapi hidupnya ingin bergantung kepada belas kasihan dan santunan orang lain.

Kepada Bapak tersebut, DD akhirnya membelikan satu buah mesin ketik baru, sambil dalam hati berucap, “Terima kasih Bapak, telah datang dan seolah menasehati kami, sungguh kehadiran Bapak telah membawa kesan mendalam untuk kami.”

– Ditulis Ahmad Juwaini, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa –

… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …

Sekarang anda mempunyai Dua pilihan :
1. Biarkan Tulisan ini berada di page ini supaya orang lain tidak membaca.
2. Menyebarkan ke Teman yang lain dengan klik ‘Bagikan’ supaya orang lain ikut terinspiari dan Inysaallah mendapat pahala.

Sumber: http://blogduniaguru.blogspot.com/2015/01/kisah-nyata-surat-aneh-kepada-dompet.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook&m=1 Sent via BlackBerry® exclusively for dwipo