Random Country

Justin Bieber at the Sentul International Conv...

Justin Bieber at the Sentul International Convention Center in West Java, Indonesia (Photo credit: Wikipedia). == He was a random youtube singer ==

Saya ucapkan terimakasih kepada penyanyi pop Justin Bieber yang telah menyebut istilah random country. Sebutan itu tidak cuma langsung terkenal tetapi sekaligus membuat sebagian orang Indonesia marah karena ada indikasi dialamatkan pada negeri ini. Jika indikasi itu benar, maka rasa terimakasih ini bisa didasarkan atas beberapa hal:

Pertama, ucapan itu menjelaskan pemetaan aktual Indonesia. Bahkan di mata seorang penyanyi ABG yang baru saja diundang oleh negeri ini, dielukan-elukan oleh penggemarnya, disambut histeris dan dibayar mahal, tapi bahkan negara pengundang itu sama sekali tak perlu untuk masuk dalam ingatannya dan sekadar layak disebut sebagai random. Tak jelas apa maknanya, tetapi terjemahan yang paling banyak disebut ialah negara antah-berantah, sementara penerjemah lain menyebutnya acakadut.

Maka, susah payah Bung Karno mendirikan republik ini, Zamrud Khatulitiwa gelarnya, Koes Plus menyebut sebagai Negeri Kolam Susu, dari Sabang sampai Merauke itu lagunya, Maju Tak Gentar marsnya, tetapi cukup di tangan seorang penyanyi ABG seluruh gelar itu gugur dan berubah sekedar menjadi negeri generik, yang bahkan namanya, tak penting untuk dieja. Lupa saya kira pasti tidak, karena penyanyi ini pasti ingat berapa honor yang dia terima dari random country ini. Tetapi yang mudah dibayangkan ialah ia tak merasa perlu untuk mengingat.

Kalaupun akhirnya ia merasa harus meluruskan ucapanya dan mengaku mencintai Indonesia, pengakuan ini tidak terlalu penting lagi karena apa yang keluar dari bawah sadarnya, jauh lebih penting dari apa yang keluar dari pikiran sadarnya: sadar bahwa ada yang marah atas ucapannya.

Tetapi kedua, yang jauh lebih penting ialah, ucapan penyanyi itu bisa jadi valid, bahwa memang di benaknya, Indonesia ini benar-benar sebatas negeri random saja. Karena pada saat yang sama dikabarkan, banyak kajian atas Indonesia berhenti karena kekurangan dana. Kenapa dana itu berkurang bukan karena tak ada tetapi karena dihentikan. Kenapa dihentikan karena meneliti Indonesia tak lagi dianggap penting sepenting membuat penelitian atas China yang tumbuh sebagai raksasa dan mulai menakutkan Barat.

Indonesia walau besar tak perlu ditakuti karena dianggap kecil saja oleh mereka. Toh apa saja yang menjadi kekayaan negeri ini, mulai dari minyak sampai emas sudah menjadi milik mereka. Mereka paham penduduk negeri ini, termasuk pemerintahnya adalah pihak yang dengan suskses digiring pelan-pelan untuk menjadi pengontrak di negerinya sendiri. Ujung dari kegagalan kedaulatan itu akan menemukan bentuknya yang sempurna jika telah sampai pada kegagalan kedaulatan ekonomi.

Kini kegagalan kedaulatan itu malah sudah bersiap menuju inti: kegagalan kedaulatan pangan. Lihat saja, kita hanya kuat mengekspor bahan tambang tetapi agresf mengimpor bahan jadi dan bahan pangan. Jika pangan saja impor, jelas artinya: kedaulatan pangan itu tidak ada lagi. Sawah lestari di Jawa tidak lagi dilestarikan oleh para pemimpinnya. Dan bangsa yang menuju lapar itulah yang mengakibatkan negara ini akhirnya sampai disebut random oleh seorang penyanyi pop. (Prie GS)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s