Ujian Nasional

Selama ini, seluruh elemen bangsa mulai dari sekolah, orang tua, masyarakat pada umumnya telah sangat sukses meletakkan cap ujian nasional sebagai sesuatu yang sangat menegangkan. Begitu hebat ketegangan itu malah sudah terlacak bahkan dari namanya: ujian nasional. Nama ini seolah-olah mengklain: bahwa inilah jenis ujian yang menentukan hidup dan mati, yang akan menentukan nasib seseorang, dan karenanya akan menentukan nasib bangsa, dan karenanya lagi harus disambut dengan ketegangan gegap gempita.

Ketidak lulusan dalam ujian nasional sungguh dianggap akan menimbulkan pagebluk kebangsaan. Sekolah-sekolah akan tecoreng mukanya, orang tua akan dilanda aib dan anak-anak yang tidak lulus akan menjadi paria dan tertawaan sekitarnya. Inilah kenapa, kelulusan ujian ini menjadi penting sekali, menjadi yang paling penting dari semuanya. Karena lulus menjadi yang utama, maka menadi lulus itulah juga soal utama. Karenanya bagaimana menjadi lulus itulah kemudian yang menggoda sebagian (besar?) dari kita.

Karenanya, mengamankan ujian nasioanl harus seperti hendak mengamankan serangan musuh dari luar angkasa. Kebocoran soal adalah hantu yang menakutkan karena berkali-kali itu terjadi dan mencari bocoran adalah tradisi yang tak pernah mati. Padahal mari kita melakulan uji coba: seandainya bocoran soal yang diburu itu ditebar-tebarkan secara gratis, adakah nasib bangsa ini akan serta merta berubah. Biarlah semua orang membaca dan menjawab. Pertanyaannya: apakah
seluruh bangsa ini tiba-tiba akan menjadi pintar? Kalau saja kita sukses merahasiakan soal ujian itu dan menekan angka kebocoran sampai nol persen, apakah Indonesia lalu akan menjadi negara yang makmur dan kaya raya?

Pertanyaan ini pasti tak pelru dijawab, karena bahkan jenis pertanyaan ini sudah keliru. Tetapi semangatnya ialah meluruskan pikiran yang bengkok tanpa terasa. Bahwa soal yang dengan gegap gempita diamankan karena rawan pencurian itu, hanyalah soal anak-anak sekolah biasa saja. Ia bukan rumus rahasia atau sejenis ilmu sihir yang kalau orang membacanya akan menjadi super hero atau mahkluk berbahaya. Sekali lagi, semua kegaduhan ini pasti berakar dari tujuan untuk lulus itu. Begitu menegangkan fokus pada tujuan itu sampai ia menggeser cara kita menjalani prosesnya.

Karena kini, gagal proses itulah yang tampaknya sedang menjadi wabah sosial kita. Kecenderungan untuk menghindari proses yang semestinya itulah sebetulnya biang seluruh kemerosotan. Butuh cepat kaya, cepat pintar, cepat biasa. Begitu singkat daya tahan kita di depan jerih payah. Bukan bahwa kita adalah penggemar jerih payah, tetapi ada hukum yang telah kepalang mustahil untuk melenyapkan begitu saja kewajiban berjerih payah. Jerih payah semacam ini tidak bisa tidak harus dijalani, bukan dihindari. Pengingkaran kepada jenis jerih payah wajib inilah yang menjadi biang seluruh kekacauan. Ujian nasional yang sesungguhnya pasti bukan soal lulus dan tidak lulus, tetapi juga bagaimana caranya menjadi lulus. (Prie GS)

Posted with WordPress for BlackBerry.

2 comments

  1. Pemerintah dan Badan Standar Pendidikan Nasional telah siap dengan formula baru penilaian kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Untuk itu, pelaksanaan ujian nasional tahun ajaran 2010/2011 hanya dilaksanakan satu kali pada bulan Mei 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s