Kewajiban Menepati Janji

Bismillah

Kadang kita lupa… mengira bahwa JANJI dimulut itu RINGAN…
Kadang kita lupa , atau pura-pura lupa alias NGLALI……
Padahal umumnya, yang diberi janji akan INGAT SEUMUR HIDUPnya……
Maukah diCAP sebagai PEMBUAL? karena janji yang tidak ditepati, akan dianggap SUKA NGAPUSI alias PEMBUAL… OMONG GEDE DOANG…

Suatu ketika saya berkunjung pada seorang dokter, kebetulan dktr tsb praktik di rumah ibundanya,krn dokter tsb lumayan akrab dgn saya maka dia cerita kalau ibundanya sedang sakit, shg hrs opname di RS,…. Subhanallah ….

Beberapa bulan lalu saat sy bertemu dg Ibunda dokter , beliau ‘sehat’ tak kurang suatu apapun, tp skrg…. masya Allah,… hdpnya tergantung pd obat !

Ada sedikit kisah tentang ‘Ibunda ‘ tsbt ….
Sang Bunda adlh slh seorang donatur sebuah yayasan,… beliau jg sering membantu org2 yg krg mampu untk biaya pendidikan, ktk sy bersilaturahmi di rumah “Bunda’ ada seorg Ibu bersama anknya,… spt biasa ‘Bunda’ memberikan bea siswa pd ank tsbt, krn di pandang krg ‘mampu’ …

 “Bunda’ bilang…. maaf,… saya ikhlas memberi bea siswa ini, saya janji setiap bulan akan membantu Rp 100.000,. utk nambah biaya pendidikan….

Saya krg tahu persis berapa kali ‘Bunda’ memberi bea siswa pd anak tsb ternyata setelah sy ketemu si Ibu dari ank penerima bea siswa tsb, si Ibu sudah tdk menenima bea siswa, si Ibu memang beberapa kali datang, tp tdk di beri ‘uang lg…. si Ibu mau ‘nagih’ tp selalu ada alasan ‘Bunda’ menghindari….

Saya tdk tahu apakah ‘Bunda’ sakit skrg, karena ingkar janji,… hanya Allah Yang Maha Tahu,….
Tetapi saya pernah membaca, barang siapa berhutang (Janji) dan tidak di tepati, sedangkan dia ada waktu untk membayar, maka hidup dan rizqinya tidak akan berkah, dan Allah sendiri yang akan menagih janji tsb,….. Astaghfirullah

Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah menunaikannya. Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan dalam hal ini termasuk larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir.

Manusia dalam hidup ini pasti ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Maka setiap kali seorang itu mulia dalam hubungannya dengan manusia dan terpercaya dalam pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya dan akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara seseorang tidak akan bisa meraih predikat orang yang baik dan mulia pergaulannya, kecuali jika ia menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji.

Sungguh Al-Qur`an telah memerhatikan permasalahan janji ini dan memberi dorongan serta memerintahkan untuk menepatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلاَ تَنْقُضُوا اْلأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا…

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (An-Nahl: 91)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)

Demikianlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar. Masuk pula dalam hal ini apa yang telah dijadikan sebagai persyaratan dalam akad pernikahan, akad jual beli, perdamaian, gencatan senjata, dan semisalnya.

Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati.

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Khishalul Munafiq no. 107 dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Seorang mukmin tampil beda dengan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya. Bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Orang yang membaca sirah (sejarah) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi Salafush Shalih akan mendapati bahwa menepati janji dan ikatan perjanjian tidak terbatas hanya sesama kaum muslimin. Bahkan terhadap lawan pun demikian. Sekian banyak perjanjian yang telah diikat antara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan musyrikin, tetap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jaga, sampai mereka sendiri yang memutus tali perjanjian itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِلاَّ الَّذِيْنَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوْكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

“Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)

Dahulu antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma ada ikatan perjanjian (gencatan senjata) dengan bangsa Romawi. Suatu waktu Mu’awiyah bermaksud menyerang mereka di mana dia tergesa-gesa satu bulan (sebelum habis masa perjanjiannya). Tiba-tiba datang seorang lelaki mengendarai kudanya dari negeri Romawi seraya mengatakan: “Tepatilah janji dan jangan berkhianat!” Ternyata dia adalah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama ‘Amr bin ‘Absah. Mu’awiyah lalu memanggilnya. Maka ‘Amr berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa antara ia dengan suatu kaum ada perjanjian maka tidak halal baginya untuk melepas ikatannya sampai berlalu masanya atau mengembalikan perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.” Akhirnya Mu’awiyah menarik diri beserta pasukannya. (Lihat Syu’abul Iman no. 4049-4050 dan Ash-Shahihah 5/472 hadits no. 2357)

Kalau hal itu bisa dilakukan terhadap kaum musyrikin, tentu lebih-lebih lagi terhadap kaum muslimin, kecuali perjanjian yang maksiat, maka tidak boleh dilaksanakan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلىَ شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Dan kaum muslimin (harus menjaga) atas persyaratan/perjanjian mereka, kecuali persyaratan yang mengharamkan yang dihalalkan atau menghalalkan yang haram.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1352, lihat Irwa`ul Ghalil no. 1303)

Siapapun orangnya yang masih sehat fitrahnya tidak akan suka kepada orang yang ingkar janji. Karenanya, dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka.

Namun anehnya ternyata masih banyak orang yang jika berjanji hanya sekedar igauan belaka. Dia tidak peduli dengan kehinaan yang disandangnya, karena orang yang punya mental suka dengan kerendahan tidak akan risih dengan kotoran yang menyelimuti dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لاَ يَتَّقُوْنَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (Al-Anfal: 55-56)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ عِنْدَ إِسْتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bagi setiap pengkhianat (akan ditancapkan) bendera pada pantatnya di hari kiamat.” (HR. Muslim bab Tahrimul Ghadr no. 1738 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Astaghfirullah…
Sahabat, mari kita belajar untuk tidak meremehkan apa yang kita ucapkan…
Semuanya tercatat rapi dalam buku amal kita yang kelak akan kita terima di akhirat…
Berdasarkan keridhoan Allah Subhana wata’ala dan catatan amal itulah yang akan menentukan dimana tempat tinggal abadi kita, apakah surgaNya atau nerakaNya??
Tentu setiap kita selalu berharap surgaNya…
Jadi, mari kita menimbang terlebih dahulu sebelum berucap, dan jangan mengingkarinya…

Semua terkait dengan akhlaq… dan erat hubungannya dengan iman…
Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang munafik… amin…

Saling mengingatkan dan saling mendo’akan dalam kebaikan dan kebenaran
Saling berbagi ilmu dari berbagai sumber asalkan tidak bertentangan dengan Allah Subhana wata’ala …

-Ismi on fb-

One comment

  1. Assalamu’alaikum Pak Ustadz, sungguh benar adanya saya sempat mengalami sendiri mengenai janji ini. Ternyata membayar janji itu sama dengan menjemput hidayah, dikala itu saya ingin kembali bertaubat ke jalan Allah, tiba-tiba suara hati mengisyaratkan untuk membayar janji2 yang pernah saya ucapkan, teringat waktu itu saya masih SD dan berjanji pada guru wali kelas saya, kalau saya lulus akan saya belikan beliau sepasang sepatu, setelah lulus dan sudah bekerja tidak pernah saya belikan. Sampai pada detik hati saya digerakkan untuk mencari guru SD saya dan teringat akan janji-janji yang pernah saya umbarkan, namun sayangnya waktu itu ketika saya cari beliau sudah meninggal tapi saya ga abis akal saya ijabkan kepada anaknya bahwa saya pernah berjanji dan saya ganti dengan uang dan mohon dihapuskan dan dimaafkan segala yang pernah terucap atau lupa bahwa saya mungkin pernah janji lebih dari itu. dan Alhamdulillah semenjak itu saya mulai mengingat apa yang pernah saya janjikan dan langsung membayarnya. ternyata benar janji Allah itu nyata, semakin dibukakan jalan keluar dan saya merasakan bantuan Allah datang dari arah yang tidak disangka-sangka asalkan kita menyadari apa yang pernah kita ucapkan.

    Terima kasih ya Rabb yang Maha mebolak-balikan hati, engkau telau menggerakkan hati hambaMu agar aku selalu tunduk akan perintahMu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s