Jagong Manten

Njagong manten, sebutan untuk sebuah tradisi yang kerap dilakukan malam sebelum prosesi akad nikah pada esok harinya, berupa kumpul-kumpul dengan teman, sanak saudara dan tetangga dengan suguhan makanan khas kue lapis, wajik, gemblong dan kopi super panas. Banyak cerita lucu-lucu, suasana keakraban sampai hal-hal serius semisal masalah pilkada dan pil-pil lainnya dibicarakan orang-orang disana.

Saya agak terusik dan terperanjat dengan pertanyaan seorang teman njagong – mas kiai Obey Al Kanduri (maaf, apabila ada kesamaan nama hanya kebetulan saja) waktu itu, “….. sak jane wong lanang kuwi kepiye tho mas…”. Pertanyaan ituia ungkapkan secara spontan saat melihat kaligrafi bertuliskan  ayat Al Qur’an surah An Nisa’ yang sangat populer itu dipajang tukang dekorasi persis diatas kursi pelaminan sang penganten.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء

“…. wah, kalau dipotong dan dipenggal sampai situ saja, bisa-bisa disalah artikan nih….” ujarnya.

Kekhawatiran teman njagong saya itu memang cukup beralasan, coba panjenengan bayangkan, kalau ayat ini hanya difahami dari segi harfiyyahnya saja dan cukup berhenti disitu, mbak-mbak fatayat wal muslimat (wanita-wanita muda dan wanita-wanita muslim, yang agak tua tentunya) pasti marah besar dan kebakaran jenggot (saya pernah nonton acara on the spot di TV7 ada wanita berjenggot dan berbrewok yang lebatnya melebihi jenggot dan brewok saya), sebab bisa diartikan begini,   “Kaum laki-laki adalah pemimpin kaum wanita sebab gender laki-lakinya”, weleh weleh…..
Padahal –menurut saya- kunci dari pemahaman ayat ini justru berada pada ayat selanjutnya,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Qowwamuna, adalah bentuk plural dari Qowwamun dan merupakan sighat mubalaghah, sebuah ungkapan untuk menunjukkan sesuatu yang teramat sangat, kalau Qo’imun bisa berarti yang berdiri, yang memimpin, Qowwamun berarti yang teramat sangat berdiri atau memimpin, mbah kiai saya memaknai – ingkang banget ulihe nguasani.

Huruf ba’ yang terdapat dalam lafadz bima fadldlola dan bima anfaqu berfaedah sababiyyah, menunjukkan kausalitas, dan lafadz ma adalah ma mashdariyyah, takwilannya bima fadldlala…. adalah bisababi tafdlilillah ba’dlohum ‘ala ba’dlin wa bisababi infaqihim min amwalihim

Jadi ada dua alasan mengapa kaum laki-laki secara umum diberi predikat Qowwamuna atas kaum wanita.
Pertama, disebabkan anugrah/fadlol dari Allah SWT. Pertanyaannya, kenapa Allah SWT memberi anugrah terhadap kaum laki-laki?, disebabkan banyaknya tanggung jawab yang diemban seperti kewajiban sebagai kepala rumah tangga dalam mengurus, mendidik, menafkahi, kewajiban jihad dalam arti perang fisik, kewajiban jum’ah dan jama’ah serta kewajiban lainnya yang tidak dibebankan kepada kaum wanita, serta hak-hak seperti Sholahiyyah Lin Nubuwwah, hak nikah, cerai, ruju’, dll. Jadi predikat Qowwamuna itu semata-mata karena anugrah Allah SWT, bukan karena gender laki-lakinya.

Sebenarnya ada satu rahasia, mudah-mudahan teman njagong saya, mas kiai Obey Al Kanduri tidak marah kalau ini saya ungkap. Jadi begini, sengaja Allah SWT memakai lafadz “ba’dlohum ‘ala ba’dlin”  dan tidak menggunakan “ba’dlohum ‘alaihinna” karena Lil ibham, untuk menyamarkan dan tidak diredaksikan secara vulgar, sebab kadang-kadang ada wanita yang “lebih hebat” daripada laki-laki. Lho, lah…….

قالوا : وعدل عن الضميرين فلم يأت بما فضل الله عليهن لما في ذكر بعض من الإبهام الذي لا يقتضي عموم الضمير ، فرب أنثى فضلت ذكرا

Kedua, disebabkan nafkah yang harus diberikan kaum laki-laki terhadap kaum wanita yang menjadi tanggung jawabnya. Saat menikah, ada kewajiban membayar mahar, begitu menjadi istrinya, ada kewajiban menafkahi, dan semua itu tidak dibebankan kepada kaum wanita.

Al Qurthuby berkata, dari ayat ini mayoritas Ulama’ memahami jika laki-laki tidak mampu memberi nafkah kepada istrinya, maka ia tidak termasuk yang mendapat predikat Qowwamun, dan jika tidak mendapat predikat Qowwamun, maka konsekwensinya sang istri berhak untuk keberatan menjadi obyek yang dipimpin alias berhak fasakh nikah, hadoh hadoh…….

قال القرطبي : فهم الجمهور من قوله : وبما أنفقوا من أموالهم ، أنه متى عجز عن نفقتها لم يكن قواماً عليها ، وإذا لم يكن قواماً عليها كان لها فسخ العقد لزوال المعقود الذي شرع لأجله النكاح.

Jadi sebenarnya, kalau difahami secara detail, ayat ini justru merupakan ayat yang feminis dan tidak terlalu “menonjolkan” kelaki-lakian.

Kembali ke pertanyaan teman njagong saya, “….. sak jane wong lanang kuwi kepiye tho mas…”                               Kalau menggunakan teori sebagian Ulama’ yang dinukil oleh Abu Hayyan Al Andalusi dalam tafsirnya Al Bahrul Muhith, bahwa ada dua hal yang harus dipenuhi seseorang yang menyebut dirinya laki-laki ;
Pertama, harus punya shodamah, kekuatan yang yang bisa mengalahkan lawan saat adu fisik.
Kedua, harus punya hazm, kemampuan untuk mempertimbangkan dan memutuskan permasalahan secara adil dan bijaksana. Dan yang agak ekstrim, teori ini menyebutkan tidak setiap yang berjenggot disebut “laki-laki”, karena banyak sekali yang berjenggot tetapi tidak bisa memberi manfaat, tidak membahayakan bahkan tidak mempunyai kemulyaan.

قيل : المراد بالرجال هنا من فيهم صدامة وحزم ، لا مطلق من له لحية. فكم من ذي لحية لا يكون له نفع ولا ضر ولا حرم ، ولذلك يقال : رجل بين الرجولية والرجولة

Dan yang lebih ekstrim lagi dan membuat bulu kuduk merinding adalah…

ولذلك ادعى بعض المفسرين أنَّ في الكلام حذفا تقديره : الرجال قوامون على النساء إن كانوا رجالا

Sebagian ahli tafsir memaknai ayat diatas begini, “Kaum laki-laki itu menjadi pemimpin kaum wanita jika memang mereka benar-benar laki-laki”, aduh biyuuuuung……

Tulisan ini tidak usah ditanggapi serius, lha wong jagong manten kok…… (to be continued)Njagong manten, sebutan untuk sebuah tradisi yang kerap dilakukan malam sebelum prosesi akad nikah pada esok harinya, berupa kumpul-kumpul dengan teman, sanak saudara dan tetangga dengan suguhan makanan khas kue lapis, wajik, gemblong dan kopi super panas. Banyak cerita lucu-lucu, suasana keakraban sampai hal-hal serius semisal masalah pilkada dan pil-pil lainnya dibicarakan orang-orang disana.

Saya agak terusik dan terperanjat dengan pertanyaan seorang teman njagong – mas kiai Obey Al Kanduri (maaf, apabila ada kesamaan nama hanya kebetulan saja) waktu itu, “….. sak jane wong lanang kuwi kepiye tho mas…”. Pertanyaan itu ia ungkapkan secara spontan saat melihat kaligrafi bertuliskan  ayat Al Qur’an surah An Nisa’ yang sangat populer itu dipajang tukang dekorasi persis diatas kursi pelaminan sang penganten.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء

“…. wah, kalau dipotong dan dipenggal sampai situ saja, bisa-bisa disalah artikan nih….” ujarnya.

Kekhawatiran teman njagong saya itu memang cukup beralasan, coba panjenengan bayangkan, kalau ayat ini hanya difahami dari segi harfiyyahnya saja dan cukup berhenti disitu, mbak-mbak fatayat wal muslimat (wanita-wanita muda dan wanita-wanita muslim, yang agak tua tentunya) pasti marah besar dan kebakaran jenggot (saya pernah nonton acara on the spot di TV7 ada wanita berjenggot dan berbrewok yang lebatnya melebihi jenggot dan brewok saya), sebab bisa diartikan begini,   “Kaum laki-laki adalah pemimpin kaum wanita sebab gender laki-lakinya”, weleh weleh…..
Padahal –menurut saya- kunci dari pemahaman ayat ini justru berada pada ayat selanjutnya,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Qowwamuna, adalah bentuk plural dari Qowwamun dan merupakan sighat mubalaghah, sebuah ungkapan untuk menunjukkan sesuatu yang teramat sangat, kalau Qo’imun bisa berarti yang berdiri, yang memimpin, Qowwamun berarti yang teramat sangat berdiri atau memimpin, mbah kiai saya memaknai – ingkang banget ulihe nguasani.

Huruf ba’ yang terdapat dalam lafadz bima fadldlola dan bima anfaqu berfaedah sababiyyah, menunjukkan kausalitas, dan lafadz ma adalah ma mashdariyyah, takwilannya bima fadldlala…. adalah bisababi tafdlilillah ba’dlohum ‘ala ba’dlin wa bisababi infaqihim min amwalihim

Jadi ada dua alasan mengapa kaum laki-laki secara umum diberi predikat Qowwamuna atas kaum wanita.
Pertama, disebabkan anugrah/fadlol dari Allah SWT. Pertanyaannya, kenapa Allah SWT memberi anugrah terhadap kaum laki-laki?, disebabkan banyaknya tanggung jawab yang diemban seperti kewajiban sebagai kepala rumah tangga dalam mengurus, mendidik, menafkahi, kewajiban jihad dalam arti perang fisik, kewajiban jum’ah dan jama’ah serta kewajiban lainnya yang tidak dibebankan kepada kaum wanita, serta hak-hak seperti Sholahiyyah Lin Nubuwwah, hak nikah, cerai, ruju’, dll. Jadi predikat Qowwamuna itu semata-mata karena anugrah Allah SWT, bukan karena gender laki-lakinya.

Sebenarnya ada satu rahasia, mudah-mudahan teman njagong saya, mas kiai Obey Al Kanduri tidak marah kalau ini saya ungkap. Jadi begini, sengaja Allah SWT memakai lafadz “ba’dlohum ‘ala ba’dlin”  dan tidak menggunakan “ba’dlohum ‘alaihinna” karena Lil ibham, untuk menyamarkan dan tidak diredaksikan secara vulgar, sebab kadang-kadang ada wanita yang “lebih hebat” daripada laki-laki. Lho, lah…….

قالوا : وعدل عن الضميرين فلم يأت بما فضل الله عليهن لما في ذكر بعض من الإبهام الذي لا يقتضي عموم الضمير ، فرب أنثى فضلت ذكرا

Kedua, disebabkan nafkah yang harus diberikan kaum laki-laki terhadap kaum wanita yang menjadi tanggung jawabnya. Saat menikah, ada kewajiban membayar mahar, begitu menjadi istrinya, ada kewajiban menafkahi, dan semua itu tidak dibebankan kepada kaum wanita.

Al Qurthuby berkata, dari ayat ini mayoritas Ulama’ memahami jika laki-laki tidak mampu memberi nafkah kepada istrinya, maka ia tidak termasuk yang mendapat predikat Qowwamun, dan jika tidak mendapat predikat Qowwamun, maka konsekwensinya sang istri berhak untuk keberatan menjadi obyek yang dipimpin alias berhak fasakh nikah, hadoh hadoh…….

قال القرطبي : فهم الجمهور من قوله : وبما أنفقوا من أموالهم ، أنه متى عجز عن نفقتها لم يكن قواماً عليها ، وإذا لم يكن قواماً عليها كان لها فسخ العقد لزوال المعقود الذي شرع لأجله النكاح.

Jadi sebenarnya, kalau difahami secara detail, ayat ini justru merupakan ayat yang feminis dan tidak terlalu “menonjolkan” kelaki-lakian.

Kembali ke pertanyaan teman njagong saya, “….. sak jane wong lanang kuwi kepiye tho mas…”                               Kalau menggunakan teori sebagian Ulama’ yang dinukil oleh Abu Hayyan Al Andalusi dalam tafsirnya Al Bahrul Muhith, bahwa ada dua hal yang harus dipenuhi seseorang yang menyebut dirinya laki-laki ;
Pertama, harus punya shodamah, kekuatan yang yang bisa mengalahkan lawan saat adu fisik.
Kedua, harus punya hazm, kemampuan untuk mempertimbangkan dan memutuskan permasalahan secara adil dan bijaksana. Dan yang agak ekstrim, teori ini menyebutkan tidak setiap yang berjenggot disebut “laki-laki”, karena banyak sekali yang berjenggot tetapi tidak bisa memberi manfaat, tidak membahayakan bahkan tidak mempunyai kemulyaan.

قيل : المراد بالرجال هنا من فيهم صدامة وحزم ، لا مطلق من له لحية. فكم من ذي لحية لا يكون له نفع ولا ضر ولا حرم ، ولذلك يقال : رجل بين الرجولية والرجولة

Dan yang lebih ekstrim lagi dan membuat bulu kuduk merinding adalah…

ولذلك ادعى بعض المفسرين أنَّ في الكلام حذفا تقديره : الرجال قوامون على النساء إن كانوا رجالا

Sebagian ahli tafsir memaknai ayat diatas begini, “Kaum laki-laki itu menjadi pemimpin kaum wanita jika memang mereka benar-benar laki-laki”, aduh biyuuuuung……

Tulisan ini tidak usah ditanggapi serius, lha wong jagong manten kok…… (to be continued) – diambil dari facebook note

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s