Menolak Paris Hilton

Karena ditolak masuk Jepang, Paris Hilton batal ke Jakarta. Jadi, untuk sekadar urusan menolak atau menerima selebritas saja Indonesia juga tergantung Jepang.

Karena sulit membayangkan Jakarta memiliki keberanian untuk menolak kedatangan Paris, apalagi yang disebut Jepang itu cukup diwakili oleh otoritas imigrasinya saja atas sebuah alasan yang praktis: narkoba. Selain dikenal sebagai ratu pesta, Paris memang terkenal dengan urusan narkoba dan tentu, video mesumnya.

Jadi imigrasi Jepang itu, menyangkut soal Paris memilih fokus kepada satu soal saja: narkoba, tak peduli apakah ia seorang pesohor, pewaris tahta bisnis raksasa atau pemain sinetron kejar tayang yang sedang naik daun di negaranya. Semua jenis label dan popularitas artis ini sama sekali tidak mengintimidasi petugas imigrasi itu demi sebuah alasan yang dipilihnya. Kita tidak tahu, apakah petugas itu sedang ingin mencari sensasi, sedang cemburu, atau sedang ingin menegaskan sebuah pilihan moral. Tetapi apapun alasannya, keputusan itu adalah sebuah sikap. Dan setiap sikap, selalu membutuhkan keberanian. Di sebuah tatanan yang langka keberanian, akan mudah ditemui pula kelangkaan sikap. Dan di sebuah tatanan yang miskin sikap, selalu rawan kekacauan.

Jakarta misalnya, dikenal sebagai kota yang lebih banyak bersikap ‘’menerima’’ katimbang ‘’menolak’’ artis asing. Apakah ini juga sebuah sikap? Belum. Karena ia lebih menyerupai ketidakberdayaan. Karena kemudian jelas akibatnya, setelah mudah menerima, kota ini juga kemudian mudah sekali dipermainkan. Seorang pesulap asing telah diundang dan dibuatkan panggung raksasa di sini. Promosi besar-besaran dilakukan tak kalah dengan promo pilkada. Tetapi cuma sejenak menjelang pertunjukan, sang pesulap batal datang hanya karena perasaannya sedang meriang. Di rumahnya sana, ia dikabarkan harus repot bolak-balik ke polsek setempat karena dugaan tindak perkosaan.

Begitu juga penyanyi ini, yang kedatangannya telah ditunggu oleh jerit tangis penggemar fantiknya di sini. Sampai hari yang dijanjikan, ia juga batal pergi karena ia dikabarkan bertengkar hebat dengan pacarnya sehingga hatinya terluka sangat dalam. Konon begitu dalamnya sehingga apalah arti publik Indonesia yang sudah membeli tiket, sudah sikap histeris karena si penyanyi malah lebih lebih dulu histeris.

Sepanjang cuma akan manggung di Indonesia, dibuat mudah sajalah. Sebuah pertunjukkan boleh batal kapan saja cuma karena tiba-tiba si artis jerawatan mendadak atau uring-uringan akibat hujan seharian hingga kostumnya belum kering hingga sekarang. Dan kalau pun mereka benar-benar mau datang, daftar permintaannya panjang dan menakjubkan. Harap di sediakan air putih langsung dari negaranya karena ia tak percaya air Indonesia. Atau jika diteruskan, mereka bisa saja meminta udara khusus karena tak ingin berbagi dengan oksigen Indonesia yang penuh kekotoran.

Maka penolakan imigrasi Jepang itu, bagi saya lalu terlihat sebagai penegasan kedaulatan harga. Menjaga kedaulatan harga adalah tugas siapa saja, termasuk pembeli yang emoh masuk mal, jika ia di bangun di tempat yang keliru. Termasuk penyair yang menolak penghargaan hanya karena puisinya dinilai lewat polling SMS. Atau sastrawan yang menolak hadiah karena pemberinya adalah pihak yang menurutnya bermasalah. Masyarakat tanpa kedaulatan, akan mudah sekali diremehkan. (Parodi Prie GS (Kolom Suara Merdeka Minggu, taken from facebook note)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s