Antara Aku, Siti dan Sang Penebar Wangi

Hihihi judul yg terlalu lebay untuk cerita sederhana dari aku (seorang ibu) dengan Attar (Anakku sang penebar wangi) dengan seekor kucing tua yang bernama Siti …

Malam ini jadi tergerak menuliskan alkisah 3 makhluk Tuhan tersebut, gara-gara seharian ini seperti sedang diingatkan betapa pentingnya merenungi sepenggal perjalanan kisah kami bertiga supaya aku belajar lebih peka dan memahami belahan hatiku ke depan nanti (halah..)

Dimulai petualangan pagi ini, diriku yang terpaksa ikutan diskusi dan nderek berbagi pengalaman, di note sahabatku yg bercerita ttg dunia perkucingan. (Terpaksanya karena yg dibahas seputar kucing gitu looh, dan diriku secara special mendapatkan anugerah tag khusus yg kumaknakan sbg mandate utk ikut berpartisipasi berbagi ketakutanku sebagai makhluk penakut kucing)…🙂

E Lha kok pembahasan ttg si kuch-kuch-hutaing itu malah berlanjut lagi malam ini,…

Menjelang tertidurnya Si anak bontotku, tiba-tiba dia juga mencurahan isi hatinya. Dengan polos dan tanpa dosanya si penebar wangi menceritakan tentang betapa dia sangat merindukan kucingnya yg hilang. Betapa dia sangat menyayangi kucing tuanya itu, bahkan sempat bertanya “kenapa ya bu si Siti gak datang lagi? Apa dia sudah mati? Kasian bu, adek kangeeen sekali sama Siti bu”. “Hmmm kita doakan saja semoga si Siti sudah mendapatkan lagi teman barunya, yang boleh memelihara dia di dalam rumah” ucapku tertahan. “Kalau mati?” .”Kita doakan juga supaya Siti mendapatkan tempat di Surga bersama Allah”. Hiks Dari nadanya yg mellow benar2 terasa kalau dia benar-benar merindukan kucing tua itu. Ibu jadi merasa sangat sedih dan bersalah…dan menjadi makin teringat dengan si Siti….

Semenjak tetangga sebelah rumah memiliki kucing baru, sebenarnya sudah terbaca tanda2 mupengnya anakku itu untuk juga punya hewan itu di rumah kami. Meskipun sudah coba mengusulkan memelihara hewan itu sbg penghuni tambahan dirumah (yang tentusaja lgs ditolak ibu dan didukung ayah). Kulihat anak-2 jg tidak terlalu ngotot protes dengan keputusan kami, dan cukup menikmati hanya sebagai pengunjung kucing tetangga sebelah. Jadinya ibu berfikir memang memiliki kucing hanyalah keinginan sesaat melihat tetangga sebelah punya mainan baru.

Anak-anak memang sangat memahami betapa ibunya sangat takut dengan any kind of hewan berbulu, terutama si kucing itu. Tanpa lebih detil dijelaskan mrk bisa langsung menyimpulkan betapa parahnya derita phobia ibunya dgn si kucing, begitu melihat ekspresi si ibu yg lebay melihat hewan imut tsb di sekitar rumah (bahkan cuma gambar di TV aja rak wani). Terbukti ketika Aurell tetangga kami berinisiatif meminjamkan kucing anggoranya yg cantik utk dibawa pulang ke rumah. Attar malah dengan matang dan bijaksananya menolak, bahkan menjelaskan betapa ibunya sangat takut dengan binatang tsb.
Nggak hanya menjaga ibunya dari hewan phobi satu itu, anak2 kadang juga mendorong ibunya utk tdk takut dengan si kuc-2 “Nggak papa bu, dia nggak gigit kook, bulunya lembuttt sekali kayak boneka”. Tapi rasa takut tetaplah rasa takut, usaha anak2 membesarkan hati ibunya tentusaja tidak ada hasil yg significant wong kenyataannya, dari 1 generasi dari si ibu, mulai simbah, ibu, adek, tante2 sampai ke om2-nya semuanya memiliki phobia yg sama, takut kucing !!…

Pun kalau kemudian Attar memiliki kucing special bernama Siti itu, semuanya bermula tanpa proses perencanaan yg disengaja. Ketika bermain di taman Attar menemukan kucing kelaperan dan kesakitan (hampir mati katanya). Kondisi kucing coklat yang sudah tua, sakit-sakitan, dan dekil itu malah sangat membangkitkan rasa kasihan Attar untuk membina dan memeliharanya. Bahkan diberikan nama special Siti (hehehew nggak tau kenapa kucing kok namanya Siti, Maafkan attar ya kalo ada mbak yang bernama Siti ;P ). Semenjak di temukan di taman itu, hampir setiap hari pasti kucing tersebut disediakan makan oleh si Attar dan mbaknya secara kolaborasi. Dengan happy dan rasa sayangnya Attar menyiapkan jatah sarapan pagi, makan siang dan dinner si Siti. Si Kucing pun dengan antusias dan setia selalu datang on time setiap harinya sesuai jadwal yang diberikan. Apalagi ketika Siti juga menemukan tempat hangat untuk tidur malam di kolong mobil kami. (Meskipun ujung-2nya si embak jadi ada tugas tambahan menjaga ibu dari depan pintu rumah sampai ke mobil untuk memastikan ibu aman dari sentuhan si Siti )..hehew🙂

Singkat kata persahabatan mereka berlangsung dengan indahnya selama beberapa bulan terakhir. Mereka saling menjaga dan memelihara sampai suatu pagi, si Siti melakukan kesalahan fatal. Pagi-pagi sekali, waktu si Ibu turun dr kamar atas (sendirian), dia menjumpai si kucing coklat itu sudah duduk manis diatas sofa dan (bahkan) tersenyum ramah (yg terasa menyeringai) ke arah ibu2 takut kucing itu. Mendadak sontak, shock dan tak bisa berkata-kata si ibu kembali berlari ke atas lagi dengan begitu takutnya. Akibat kejadian itu, askes dan pengawasan terhadap si Siti semakin diperketat. Si Mbak sejatinya hanya bertugas untuk mengawasi anak-anak, diberikan mandat khusus untuk ikut serta mengawasi gerak-gerik si kucing agar jangan sampai memasuki wilayah dalam. Sementara si anak makin di tekan untuk menjalankan role dan responsibilitynya untuk mengajarkan batas-batas perilaku bagi sahabatnya. Sejak saat itu, sikap si mbak ke Siti jg mjd sangat kaku dan bbrp kali terkesan keras memperlakukan si Siti (Iya lah si mbak takut dimarahin ibu pastinya).

Hari haripun kembali berlalu, dan Sang ibu pun dengan kesibukannya di kantor tidak terlalu memperhatikan lagi, bahwa sepulang kerja tak dijumpainya si Siti di depan rumahnya. Tak di lihatnya lagi si kucing coklat di bawah kolong mobilnya. Hanya sekali bertanya ke anaknya kemana gerangan binatang kesayangannya. Dan kemudian kembali berlalu setelah mendengar penjelasan si kecil yg coba menyampaikan perpisahannya dengan si kucing tua itu. Si ibu tidak tergerak untuk menyadari betapa sebenarnya anak kecilnya menahan kesedihan dengan hilangnya sahabat barunya itu.
Sampai kejadian malam ini,…Si Ibu penakut yang sedemikian kecil hatinya itu, benar-benar baru menyadarinya ….Segitu nggak pekanya, segitu sibuknya, segitu takutnya sampai-sampai akhirnya nggak menyadari perasaan anaknya….Hiks,Betapa jahat dan egosinya ibu, Yang memanjakan ketakutannya, tidak menyadari ketidakpekaannya, hingga anak-anak yang akhirnya harus mengalahkan keinginan mereka demi menjaga zona aman ibunya.

Huhuhu, Maafkan ibumu ya anakku sayang,… Maafkan aku ya Siti,..
Semoga kesedihanmu segera hilang,..Semoga Siti sudah mendapatkan lagi teman barumu, Teman yang juga menyayangimu, Teman yang juga memeliharamu, Teman yang memiliki ibu lebih berani…lebih peka….(Dan logis…) For my Luvely Attar and his best cat, Siti……

facebook note by WT 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s