miskin bps

Miskin menurut BPS

Tiap kali ada sensus penduduk pasti “ribut” menentukan “siapa yang termasuk orang miskin”. Ya mungkin karena tiap tahun kriteria miskin selalu berubah.

Jadi bisa terjadi tahun ini saya miskin, tahun lalu saya lebih miskin, tahun depan tergantung kriteria baru.

Badan Pusat Statistik menggunakan 14 kriteria untuk mengasumsikan kemiskan. Kriteria kemiskinan ini sempat menjadi polemik saat pemerintah meluncurkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Polemik kembali terjadi ketika kriteria tersebut kembali dipakai dalam Sensus Penduduk 2010, yang digelar 1-31 Mei ini.

Dikutip Antara, ke-14 kriteria rumah tangga miskin versi BPS itu, antara lain luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari delapan meter persegi per orang, jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan, jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

Warga juga dianggap miskin jika tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.

Kemudian, hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu, hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun, hanya sanggup makan satu/dua kali dalam sehari, tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik dan pendidikan tertinggi kepala kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD.

Kriteria lainnya, sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0,5 hektar, atau buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan atau pekerjaan lain dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan dan tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai Rp 500.000, seperti sepeda motor baik kredit atau non kredit, emas, ternak, kapal motor dan barang modal lain. (vivanews.com)

Ustadz Quraish Shihab mengatakan dalam bukunya “Wawasan Al-Qur’an” (Mizan, cetakan XVII, 2006) bahwa: “Dalam  Kamus  Besar  Bahasa Indonesia, kata “miskin” diartikan sebagai tidak berharta benda; serba kekurangan (berpenghasilan rendah).  Sedangkan  fakir diartikan sebagai orang yang sangat berkekurangan; atau sangat miskin.”

“Dari bahasa aslinya (Arab) kata  miskin  terambil  dari  kata sakana yang  berarti diam atau tenang, sedang faqir dari kata faqr yang pada mulanya berarti tulang punggung.  Faqir  adalah orang  yang  patah  tulang punggungnya, dalam arti bahwa beban yang dipikulnya sedemikian berat sehingga “mematahkan”  tulang punggungnya.” (news.antara.co.id)

Kalau menurut Anda, siapa dong orang miskin itu? Tentu Anda bukan orang miskin.

Posted with WordPress for BlackBerry.

One comment

  1. kalo ada sensus pasti rame2 ngaku miskin…kale aja bsk2 dapat bantuan….he…
    walaupun harta menggunung tetep ngaku miskin,takut pajak mengharap sumbangan.. wkwkwkwkwk

    jwb: harusnya malu ya mbak atik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s