Kasus Soetarti dan Rusmini

Nenek Soetarti dan Rusmini (Foto: MediaIndonesia.com)

Apa yang terlintas dan terpikirkan dibenak Anda ketika mendengar berita bahwa dua orang nenek sepuh renta, janda dari pahlawan, harus mondar-mandir ke persidangan karena tuntutan penyerobotan tanah?

Sekedar mengingatkan, Perum Pegadaian melaporkan nenek Soetarti dan Rusmini  ke Polres Jakarta Timur. Tuduhannya, penyerobotan lahan/tahan  dan pidana menempati rumah yang bukan haknya. Seperti diketahui, kasus ini bermula dari niat keduanya untuk membeli rumah dinas Perum Pegadaian yang telah ditempati lebih dari 10 tahun. Pada 20 Agustus 2008 Perum Pegadaian mengeluarkan surat perintahan pengosongan rumah dinas atau jabatan kepada mereka.

Dua janda pahlawan itu menangis saat diwawancarai wartawan. Nenek Soertarti Soekarno (78) janda dari almarhum R Soekarno dan Nenek Rusmini (78) janda dari Almarhum A Kusaini. Mereka tak menyangka akan menjadi terdakwa.

Saya trenyuh, seketika terlintas almarhum ayah, almarhumah ibu dan nenek saya, serta nenek saya yang saya panggil simbok, mengikuti cara ibu memanggil beliau. Yang terbayang hanyalah perasaan tak karuan, hutang budi yang takkan pernah bisa terbalaskan dengan apapun ! Pandanglah sekali lagi wajah beliau berdua, lalu ingatlah ibu, nenek, dan orang-orang sepuh di sekitar Anda. apa yang Anda rasakan? Buat perum pegadaian, Anda punya slogan “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”, sudah seharuslah Anda bercermin dari slogan anda sendiri dalam kasus ini. Beruntung Presiden telah memerintahkan stafnya untuk mengupayakan rumah yang layak untuk  kedua nenek sepuh ini.  Setelah menemui deputi staf khusus Presiden, kedua nenek tua inipun dijanjikan akan mendapat rumah. Kita lihat saja nanti akhir cerita ini. (dari berbagai sumber)

Advertisements

2 comments

  1. For: SOETARTI dkk..

    Gigih tulang rapuh dan nyalimu kau paksa
    Beribu kata dan peluh kau curah
    Perih dirasa.. kalbu tergores duka mendera
    hanya rasa rindu raja dari segala raja semesta

    Hai Penguasa… sang dalang Negara…
    Kekasihnya tlah berkorban jiwa raga..
    Hingga tinggal tanah merah terukir nama
    Tiadakah pelita hingga bertingkah buta…

    Wahai… sang Pencipta yang slalu disapa
    Hati nya Letih.. Lelah.. Kecewa.. tiada tara..
    Kini tinggal DIKAU yang terakhir dipercaya…
    Yang berhak mengukir hidup dan cahaya..

    (Hati dan doa’ kami untukmu…By Areas)

    comment: puisi bagus banget mas, saya jadikan posting khusus. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s