Mbah Minah dan Buah Coklat

foto: detiknews.com

Hukum memang harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tapi jika seorang nenek miskin yang tua renta harus menderita menjalani sebuah proses persidangan yang menurut saya “tidak manusiawi” hanya ada satu kata, Jiancuk …. (sorry nih saya agak emosi)

Saya geregetan ketika nonton sebuah tayangan di televisi acara talk-show yang menghadirkan “bintang tamu” mBah Minah alias nenek Minah “Sang Pencuri”. Bagimana pihak-pihak terkait tega berbuat “dholim” kepada seorang nenek tua.

Coba kalo nenek tua itu nenek/ibu si administratur PT Rumpun Sari Antan (RSA)  atau ia adalah nenek/ibu pak mandor, atau nenek/ibu Anda? Pak administratur (semoga mendapat balasan setimpal dari Yang Maha Kuasa) di acara televisi itu dengan arogan mengatakan: “Dia tidak menemui saya untuk minta maaf”. Mungkin maksudnya mBah Minah nenek tua renta harus datang, menyembah, mencium tangan dan mohon Ampun. (Emang siapa lo pak administratur?). Bukankah mbah minah sudah meminta maaf kepada pak mandor sebagai wakil perusahaan yang seharusnya meneruskan kepada “yang mulia” menajemen perusahaan?

Meskipun hakim sempat menangis, tapi toh pak hakim menjatuhkan vonis. Apa gak bisa kalo vonisnya bebas saja pak hakim meskipun pada kenyataannya mBah Minah langsung bebas ? Kalo saya hakimnya sudah pasti vonis bebas karena buah coklat yang “dicuri” sudah dikembalikan dan perusahaan  tidak dirugikan sama sekali. Udah ah, kalo kepanjangan nulisnya jadinya pengen nyumpahin itu PT. Baca aja kutipan dari republikaonline ini:

Air mata itu pun tak tertahankan jatuh. Saat membacakan berkas putusan vonis terdakwa pencurian tiga buah kakao, Ny Minah (55 tahun), linangan air mata tampak menetes di wajah Ketua Majelis Hakim, Muslich Bambang Luqmono. Dua hakim anggota yang mendampingi, Dedy Hermawan dan Socheh, juga terlihat galau dan tampak sedih. ”Saya juga dari keluarga petani,” papar Muslich. ”Ibu saya petani. Saya tidak bisa membayangkan kalau ibu saya yang menghadapi sidang semacam ini, hanya gara-gara tiga butir buah kakao seharga Rp 500.” Rasa keadilan masyarakat, menurut Bambang, telah dilukai atas kasus yang menimpa nenek beranak tujuh dengan belasan cucu itu. Tak heran jika pada akhirnya kasus Nenek Minah ini menarik perhatian masyarakat, karena telah menyentuh sisi kemanusiaan. Majelis hakim menilai, polisi, jaksa, dan hakim, mestinya bisa melihat dampak yang ditimbulkan dari perbuatan pelaku. ”Kalau dampaknya tak terlalu merugikan masyarakat secara luas, termasuk korban sendiri, mestinya bisa ditangani dengan pendekatan lain dulu, sehingga tidak semua diproses pidana,” kata hakim Bambang saat sidang di PN Purwokerto, Jateng, Kamis (19/11). Yang jelas, selama proses persidangan berlangsung, majelis hakim mengaku tidak menemukan hal-hal yang memberatkan pada Nenek Minah. Pertimbangan yang meringankan, lanjut Bambang, terdakwa Minah sudah lanjut usia, petani tua yang tidak punya apa-apa, selalu menghadiri persidangan tepat waktu meski harus tertatih-tatih karena sudah tua dan rumahnya jauh. Bahkan, proses hukum yang telah dijalani terdakwa Minah telah membuatnya letih jiwa raga, serta menguras tenaga dan harta bendanya. ”Semua yang dialami terdakwa Minah tersebut sudah cukup menjadi hukuman bagi dirinya,” tutur Bambang, saat membacakan amar putusan. Dengan dalih-dalih itu, majelis hakim menjatuhkan hukuman 1 bulan 15 hari kepada Minah dengan masa percobaan tiga bulan penjara. Hukuman tersebut tidak lagi dijalani Minah, karena sudah menjadi tahanan rumah dari 13 Oktober sampai 1 November. Bila dalam tiga bulan, Minah, warga Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kec Ajibarang, Kab Banyumas, itu kembali tersangkut masalah pidana, maka dia harus menjalani hukuman di atas. Minah juga harus membayar biaya perkara senilai Rp 1.000. Terhadap putusan tersebut, jaksa penuntut umum (JPU), Noorhaniyah SH, menyatakan pikir-pikir untuk mengajukan banding. Begitu sidang ditutup, keluarga dan kerabat Minah beserta puluhan warga yang memadati ruang sidang sontak bertepuk tangan. Nenek Minah yang diminta berdiri mendengar putusan tersebut, terlihat melontarkan senyum bersahaja.”Ibu Minah bisa memahami keputusan ini?” tanya ketua majelis hakim.Nenek Minah pun menjawab, ”Nggih , Pak Hakim.  Matur nuwun (iya Pak Hakim. Terima kasih),” jawabnya, lugu. Minah pun langsung keluar ruang sidang. Seakan tak sabar ingin segera pulang, ia lupa menyalami para hakim dan jaksa. Langkahnya tergopoh-gopoh saat hendak keluar kompleks gedung PN. Sebelum melangkah jauh, Minah sempat dihadang para aktivis LSM yang memberikan ucapan selamat. Bahkan, salah seorang aktivis menyerahkan uang yang dikumpulkan dari para pengunjung sidang. ” Niki ngge sangu kondur, Mbah (Ini buat bekal pulang, Mbah),” kata seorang aktivis LSM tersebut. Begitu sidang ditutup, beberapa LSM memang langsung mengedarkan kardus untuk diisi sumbangan dari para pengunjung. Tak terkecuali, para hakim yang baru menyidangkan perkara nenek Minah itu, juga ikut menyumbang. Dengan didampingi keluarganya, Minah kemudian menumpang kendaraan umum pulang ke rumahnya di Desa Darmakradenan yang berjarak sekitar 40 kilometer dari gedung PN Purwokerto. Sidang maraton Persidangan kemarin dilakukan secara maraton dengan agenda tiga materi sekaligus. Mulai pembacaan tuntutan, pledoi atau pembelaan, hingga pembacaan putusan. Pembacaan tuntuan dan pledoi dilakukan sekaligus tanpa ada jeda waktu. Sedangkan pembacaan putusan, dilakukan setelah majelis hakim menghentikan sementara sidang setelah penyampaian pledoi. Dalam tuntutan yang dibacakan di depan sidang, jaksa Noorhaniyah sebenarnya menuntut hukuman enam bulan penjara. Hal ini karena jaksa menilai, Minah terbukti telah melakukan pencurian tiga buah kakao milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) 4 yang ada di Desa Darmakradenan, Kec Ajibarang, Kab Banyumas. Dalam pledoinya, Minah yang tak didampingi pengacara, tidak mengajukan argumen pembelaan apa pun. Dia mengaku bersalah karena telah memetik buah kakao milik PT RSA. Kendati, dia masih bersikukuh bahwa buah kakao itu sudah diambil kembali oleh mandor PT RSA, Tarno dan Rajiwan. Minah hanya minta tidak dihukum penjara, karena dia sudah tua. Ditanya soal pendapatnya mengenai kasus Nenek Minah, hakim Bambang menyatakan, kasus seperti ini mestinya tak perlu sampai disidangkan di pengadilan. Ia meminta diselesaikan secara kekeluargaan. ”Saya kira akan lebih efektif bila diselesaikan dengan baik-baik secara kekeluargaan. Kita sendiri, sebagai lembaga pengadilan, tidak bisa menolak menyidangkan perkaranya, karena setelah menerima berkas perkara, (majelis hakim) mau tidak mau harus menyidangkan perkara ini,” katanya. Jaksa Noorhaniyah menyatakan, pihaknya tak bisa menghentikan kasus ini karena berkas-berkas perkara yang dilimpahkan dari kepolisian sudah lengkap. ”Kejaksaan tak bisa mengeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan), karena seluruh berkas dan buktinya sudah lengkap. Kita hanya bisa mengeluarkan SP3 bila berkasnya tidak lengkap atau barang buktinya kurang,” tuturnya. Persidangan nenek Minah mengundang perhatian masyarakat. Berbagai kalangan LSM di Banyumas terus memberikan dukungan moral, seperti dari Yayasan Babat, Lembaga Pengembangan dan Penelitian Sumber Daya Tanah dan Lingkungan Hidup (LPPSDTLH), Rumah Aspirasi Budiman, Paguyuban Petani Banyumas (PPB), dan Petisi 28. LSM yang menghadiri persidangan tak bisa menyembunyikan kegeramannya terhadap PT Rumpun Sari Antan. Menurut Widoro, aktivis LSM Babat, perusahaan perkebunan tersebut mestinya lebih memberdayakan petani yang ada di sekitar lahan milik PT RSA, bukan justru mengkriminalisasi para petani setempat. ”Apalagi, lahan yang digunakan sebagai areal perkebunan PT RSA adalah lahan yang masih disengketakan kepemilikannya oleh para petani,” kata Widoro.  Republika berulang kali mengonfirmasi PT RSA 4, namun hingga kemarin belum menerima tanggapan. Apa pun itu, nenek Minah kini bisa tersenyum bahagia, dan air mata hakim itu semoga bukan air mata buaya. ed: zaky ah

9 comments

  1. HUkum d indon tu HANYA berlaku buat Rakyat kecil…
    mandor PT RSA, Tarno dan Rajiwan = g punya otag…
    untung bukan tetangga gw..

  2. ini bukti klo negara ini menerapkan hukum rimba(yg kuat yg menang).
    gue setuju mbah minah d penjara tapi lahan kakaox d serahkn smua k mbah minah klo bs ama PTx skalian.
    hidup.. mbah minah, mati mbah korupsi…

    jwb: di mana rasa keadilan masyarakatkalo gitu ya mas. hidup mbah minah juga

  3. dari : Gerakan Bersama Rakyat Anti Korupsi! ANEh tapi nyata sekarang air mata buaya laris manis, buktinya waktu BAMBANG LUKMONO menjatuhkan vonis kepada mbah MINAH yang mencuri 3 bh kakao dan si Bambang bisa menangis hik..hik.. Tapi aneh si Bambang ini waktu di Pengadilan Negeri Cilacap memvonis bebas murni untuk sang koruptor kelas kakap. Dia tersenyum lebar dan tertawa ha… ha…. Hebat benar yang namanya air mata BUAYA. Hayo monggo sedoyo sing pengin mersani buktinipun, sami2 dateng Cilacap.

    jwb: mencla-mencle ya kang alias munawir alias munafik

  4. ya ALLAh,astagfirullahul azzim..semoga administrator PT.RSA diberi jalan oleh TUHAN..emgnya dia gak punya nenek/ibu apa????gak sekolah apa?n gak mikir apaa??…masalah sepele gitu diperrmasalahkan…disidangkan lagi..bener-bener deh!!!
    apa sih arti uang 2rb,bagi perusahaan besar(kaliiiiii)kyk PT.RSA,jaman skrg uang 2rb,dpt apa????permen aja paling dapat 6biji. duh jadii kesal..n pengen jadi pengacara nya WONK CILIK dah lau gini,pengen belaiin orang-orang yg lemah hukum….

    jwb: emang tuh

  5. Bener-bener deh….
    Negara ini mau dibawa kemana bila manusia yang ada di dalamnya masih seperti sang mandor yang kejam? dibayar berapa sih harus tega ma nenek renta yang miskin itu, tega nian…..dimana hati nuranimu pak mandor?

    jwb: padahal pak mandor itu temen SD anak si nenek, nenek juga kenal baik. wah …… Terlalu (Rhoma Irama mode on)

  6. duh, betapa diri ini tergoncang,
    benar-benar sang administatornya sangat-sangat tidak tahu diri. oh, sungguh, inikah negara hukum.

    please semoga akan ada perubahan, sebelum apatisme diri terhadap hukum membuncah. Grrrr

    bikin esmosi deh…..


    jwb: sempet nonton gak kemarin mas? asli bikin gemes

    1. sempat sempat sempat
      gemes, dan sangking gemesnya sekarang saya kalau ada berita tentang hukum langsung ganti saluran, lebih enak lihat kartun

      hehehehe…

      semoga tidak ada lagi kasus seperti ini
      Hm….
      semoga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s