Yth Para Menteri

Jika Allah bermaksud menjadikan seorang pemimpin berhasil dalam kepemimpinannya, maka Dia jadikan para pembantunya (baca: para menterinya) orang-orang yang jujur dan tegas.

Jika pemimpin itu lupa, mereka mengingatkannya. Dan jika pemimpin itu lurus dan benar, mereka mendukung dan membantunya. Tetapi, jika Allah menghendaki kepemimpinan seorang pemimpin itu tidak berhasil, maka para pembantunya (baca: para menterinya) adalah orang-orang yang buruk yang tidak punya integritas.  (Hadis riwayat Abu Daud, dari Siti Aisyah ra)

Jika pemimpin itu salah, mereka tidak mengingatkannya. Dan jika benar, mereka tidak mendukungnya.”<I>Taujih nabawi (arahan Nabi) di atas mengisyaratkan secara jelas bahwa di antara variabel penting yang menentukan keberhasilan atau kegagalan dari seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, yaitu menyejahterakan masyarakatnya, adalah karakter dan watak serta integritas dari para pembantunya atau para menterinya.

Jika yang terpilih itu para menteri yang istiqomah dalam kebenaran, memiliki profesionalitas yang tinggi, maka akan berdampak positif terhadap visi dan misi pemimpinnya. Di samping itu, mereka juga memiliki keberanian untuk melakukan koreksi terhadap pemimpinnya yang melakukan kebijakan yang salah.

Sebaliknya, mendukung secara all-out kebijakan pemimpin yang benar yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Dalam kaitan ini, tentu saja pemimpin itu sendiri harus memiliki kebesaran jiwa dan kesediaan menerima koreksi dan kritik dari bawahannya, seperti yang telah dicontohkan oleh Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khathab ketika mereka menjadi khalifah (kepala negara).

Abu Bakar menyatakan, ”Kalian harus menolong aku apabila aku taat pada Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, kalian pun harus mengoreksi dan tidak perlu taat kepadaku jika aku maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.”Alangkah indahnya apabila pemimpin dan kabinetnya mengembangkan sikap, budaya kritis, dan saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan. Tidak akan ada pemimpin yang terjerumus pada kediktatoran yang akan menghancurkannya.

Sebaliknya, akan rusak dan hancur seorang pemimpin yang tidak mau menerima saran dan nasihat dari anggota kabinetnya maupun dari masyarakatnya. Terlebih lagi jika para anggota kabinet itu tidak memiliki keberanian untuk mengoreksi pemimpinnya karena takut tidak mendapatkan keuntungan yang bersifat material dan sesaat.

Pemimpin dan anggota kebinet yang demikian disebut dengan istilah mutraf yang hidupnya cenderung bermewah-mewahan dan berbuat fasik. Dan itulah tanda kehancuran suatu masyarakat dan bangsa.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Isra [17] ayat 16, ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” Wallahu A’lam bi ash-Shawab . |  republika online, judul asli “Anggota Kabinet Yang Kritis”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s