Kiamat Sudah Dekat

Kabar bahwa kiamat sudah dekat ditambah maraknya musibah di hari-hari ini, membuat saya tak berani berspekulasi. Langsung saja saya putuskan bahwa kiamat memang sudah dekat atau setidaknya makin mendekat. Apalagi kiamat itu bisa dirumuskan dalam tiga sesi: kiamat individual, kiamat komunal dan kiamat global.

Kiamat individual jelas tak perlu didramatisasi karena ia bisa terjadi hampir sehari-hari. Bagi pihak yang sudah berumur di atas rata-rata usia hidup manusia Indonesia, kiamat itu malah sudah dekat sekali, tinggal menghitung hari. Atau umur berapapun Anda, cuma dengan satu sentakan gempa, seorang ibu bisa meninggalkan bayinya yang tengah disusui. Di saat itu setiap dari kita bisa berpikir cuma kepada diri sendiri. Bahkan hanya dengan sakit kepala sederhana, seorang bapak akan menghadiahi bentakan kepada anak yang mestinya sedang bergairah hendak menunjukkan nilai ulangannya. Padahal penyebab sakit kepala itu, kini banyak sekali.
Jika ingin bukti masuklah ke jalan raya dan nikmatilah pemandangan ini: ada orang memberi tanda ke kanan tapi belok ke kiri, ada yang berjalan lambat di jalur cepat dan berjalan cepat di jalur lambat, ada angkot yang parkir tidak di pinggir juga tidak di tengah, dan yang masih sering saya jumpai hingga saat ini: ada saja pengemudi yang jika kebelet lebih suka mengencingi pintu mobilnya sendiri. Bayangkan, pintu berkahnya sendiri dikencingi.
Jadi kiamat individual itu nyaris menjadi peristiwa mekanik saja katimbang peristiwa dramatik. Agak melebar ialah kiamat komunal. Cukup hanya dengan terlibat di dalamnya, tak perlu benar-benar harus terluka dan kehilangan nyawa, seseorang bisa trauma berkepanjangan akibat gempa. Melihat rumah, tidak hanya rumah kita, tetapi juga rumah seluruh desa yang pelan-pelan jadi kubangan lumpur raksasa adalah pemandangan yang tak cukup disebut cuma dengan kata memilukan. Cukup hanya dengan sebuah semburan, ribuan orang bisa menjadi serombongan musfair tanpa sejarah, tanpa kampung halaman secara tiba-tiba.
Kiamat komunal ini pasti lebih dramatik, tetapi jangan-jangan, bagi sebagian pihak ia tetap saja peristiwa mekanik. Buktinya apapun bencana telah menghajar Indonesia, hinga hari ini masih ada saja bank yang diboboli pemiliknya, ada asuransi yang dianggap menipu nasabahnya, ada pejabat publik yang tertangkap basah menerima suap, mabuk, sampai berpose mesra dengan pacar gelapnya. Cuma sejenak setelah menyiarkan jerit tangis korban bencana, sebuah televisi harus kembali ke watak aslinya: industri. Harus ada perceraian artis yang dibuat bersambung. Kalau perlu setelah cerai secepatnya harus kawin lagi, dan harus cerai lagi, agar rating tetap tinggi. Menolong sesama pun harus menjadi bagian dari pertunjukkan: jangan sembarang menolong jika tidak mengandung nilai hiburan: kagetkan mereka agar air matanya berhamburan. Air mata itulah yang laku dan siapa bilang kesedihan tak mengandung nilai tontonan. Semakin gencar tangisnya, semakin cocok dikemas sebagai acara kejar tayang. Ingat, tidak setiap hari ada semburan lumpur dan gempa bumi. Tetapi cerita tentang kawin-cerai dan perselingkuhan orang terkenal, bisa terjadi setiap kali.
Jadi kiamat komunal pun yang sudah berkali-kali terjadi ini, tidak juga banyak meninggalkan ingatan yang berarti. Selebihnya, Indonesia masih berjalan seperti biasa. Hari ini sebuah jembatan megah diresmikan, esok harus sekrupnya sudah bisa dipreteli. Padahal kiamat komunal ini bisa terjadi kapan saja, sambil pula berekskalasi. Cukup dengan satu ledakan supervulcan saja 90 persen spesies bumi lenyap! Akan ada kabut asap yang menutup matahari selama berpuluh-puluh tahun dan bumi akan menjadi sebongkah es batu. Pakar geologi mencatat ada ribuan titik di bumi yang berpotensi memiliki hulu ledak ini dan salah satunya berada di sini: Sumatera.

Jadi apapun kontroversi tentang kiamat membuat saya berkeputusan untuk merasa tak punya banyak waktu lagi. Cadangan waktu yang tersisa bisa dicabut kapan saja. Maka siapa saja tak perlu buang-buang waktu: yang presiden tak lagi perlu bertengkar dengan wakilnya, yang gubernur dengan bupati dan walikota, yang walikota tak perlu bertengkar dengan sekdanya. Sebagai suami saya juga tak boleh lagi main sembunyi dengan istri bahkan untuk soal uang lelaki, yang dulu sering dilipat hingga licin di kaos kaki. Tak banyak waktu, tetapi mumpung masih ada waktu!(Prie GS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s