Belajar Memahami Anak-anak

Anak merupakan amanah Allah yang harus kita didik agar menjadi anak saleh yang dapat membantu orang tuanya menjadi ahli surga. Bukankah selain ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, doa anak yang saleh merupakan amalan yang tidak akan putus walaupun kita wafat kelak? Memang tidak mudah hanya sekadar mewujudkan cita-cita ini, kalau apa yang kita berikan kepada anak hanya berupa teori-teori hidup belaka.

Kenyataannya, orang tua perlu berkolaborasi serta memberikan dukungannya bila hendak menerapkan pola hidup yang Islami apalagi terhadap anak-anak. Jangan sampai kita salah dengan alasan untuk melindungi anak sementara di sisi lain kita tengah berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan kebenaran (Islam). Kekompakan orang tua dalam keluarga akan sangat membantu melahirkan anak-anak saleh. Oleh karena itu, salehkanlah diri kita dulu selaku orang tua. Jika kita, misalnya ingin anak-anak melaksanakan shalat wajib tepat pada waktunya maka kita pun harus menerapkan hal yang sama.

Sebab, orang tua merupakan model bagi anak-anaknya. Mereka akan mencontoh apa yang orang tua kerjakan. Jangan mimpi anak akan menjalankan ibadah shaum dengan benar, jika orang tuanya sendiri masih tak konsisten dengan ibadah ini. Dan biasanya, untuk ini orang tua lebih suka egois. Terkadang mereka malah suka memberi alasan bahwa hal yang dilarang buat anak-anaknya tidak berlaku bagi mereka. Sebagai contoh kecil adalah saat orang tua melakukan kesalahan makan menggunakan tangan kiri dan hal itu lalu dipergoki anaknya; pada akhirnya orang tua membuat banyak alasan agar tetap terlihat baik di mata anaknya.

Alhasil, jangan pernah berharap anak akan melakukan hal yang kita perintahkan kalau ternyata kita sendiri tidak melakukan hal sama. Juga, jangan pernah kita merasa malu kalau diingatkan oleh anak-anak kita sendiri. Biasakan untuk mendengarkan pendapat-pendapat dan keinginan mereka sehingga komunikasi dapat berlangsung lancar. Dengan demikian, akan mudah bagi anak-anak untuk menerima apa yang kita perintahkan, misalnya, untuk shalat tepat pada waktunya. Dengan cara mereka melihat sendiri orang tua mereka shalat pada waktunya, hati mereka insya Allah akan tergerak untuk melakukan hal yang sama.

Dan setelah ini tentu saja tidak cukup hanya dengan keteladanan. Karena bisa jadi hanya berlaku untuk beberapa saat. Anak-anak akan tumbuh dewasa. Di saat seperti itu, biasanya mereka ingin bebas melakukan apa saja yang mereka sukai. Mereka senantiasa berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya diakui dan disejajarkan dengan orang dewasa, dalam kedudukannya yang bukan lagi sekadar objek.

Sayangnya, dengan kondisi seperti itu, masih banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk selalu menerima pendapat atau jalan pikiran orang tua. Sikap otoriter seperti itu justru akan menghancurkan harga diri anak dan membuatnya merasa bersalah. Sikap otoriter orang tua sebenarnya dapat memberikan efek samping yang sangat merugikan anak. Anak jadi takut untuk mengambil keputusan, kurang percaya diri, mudah sakit, dan menjadi emosional karena perasaannya tertekan. Lebih fatal lagi, mereka bisa menunjukkan sikap melawan, baik secara terselubung maupun terang-terangan.

Dengan demikian, jika terjadi perbedaan pendapat, maka pendekatan yang bersifat demokratis dan terbuka akan terasa lebih bijaksana. Salah satu caranya dapat dilakukan dengan membangun rasa saling pengertian, di mana masing-masing pihak berusaha memahami sudut pandang pihak lain. Biasanya, anak-anak yang telah beranjak besar tidak mau dipermalukan di hadapan orang lain. Karena itu, cara mengingatkan dan memberikan nasihat harus diubah dengan terus menerus berkomunikasi langsung dengan anak-anak tanpa ada orang lain yang menyaksikannya. Dengan begitu, selain privasi mereka terjaga, secara tidak langsung kita pun menghargai kedewasaan mereka.

Mulai dari sekarang, mari kita luangkan waktu untuk belajar memahami anak-anak. Kita, sebagai orang tua, jelas sudah “berpengalaman” menjadi anak-anak. Tetapi anak-anak? Saya kira mereka belum pernah mempunyai pengalaman menjadi orang tua. Dengan demikian, orang tua-lah yang kiranya harus belajar memahami anak dengan lapang hati. Tentu saja, apapun yang kita lakukan tidak lepas dari unsur ibadah dan pendidikan. Artinya, memahami anak bukan berarti menjadi kekanak-kanakan, melainkan menyelami dunia mereka agar kita mudah mengarahkannya. Wallahu a`lam. dr/mns/mqp (Penulis : Aa Gym – Republika)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s