Halal Bihalal | Silaturrahmi

Hari ini orang-orang masih sibuk mudik, mungkin masih ada yag terjebak macet di jalan dan belum sampai tempat tujuan. Sabar, toh, tujuan kita adalah untuk silaturrahmi. Namun sebentar lagi akan banyak acara yang “berjudul” Halal Bihalal. Organisasi pemerintah, departemen, lembaga, club dan mungkin sebuah group di facebook, semuanya bakal disibukkan dengan acara halal bihalal.

Setiap hari raya ‘Idul fitri tiba, tidak hanya baju baru, banyak makanan atau kue yang disediakan yang menjadi ciri khas untuk menyambut kedatangan “hari kemenangan” setelah melaksanakan puasa satu bulan penuh. Ada hal yang lebih dari itu, yaitu halal bihalal. Halal bihalal, adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa negara tetangga dalam rumpun melayu, seperti Malaysia.

Tradisi budaya saling memaafkan setelah ramadhan ini lebih populer disebut halal-bihalal yang melibatkan berbagai kalangan, tidak saja pemeluk Islam, non Islampun larut di dalamnya. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air yang menjadi refleksi ajaran Islam yang menekankan pada sikap persaudaraan, persatuan, dan persatuan dalam wadah Negara Kesatuan RI.

Dalam pengertian yang lebih luas, halal bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari setelah hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu syathaniyah. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, yang dengan dilandasi keimanan dan ketaqwaan setelah melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan tulus ikhlas, hanya memburu ridho Allah, agar dosa-dosa diampuni. Namun, dosa yang diampuni itu hanya yang berhubungan langsung dengan Allah. Masih ada dosa lain yang berkaitan dengan bani adam, dimana ampunan Allah bergantung pada pengampunan yang orang bersangkutan. “Idul fitri” sendiri diambil dari nama zakat yang wajib dikeluarkan oleh orang-orang Islam yang mampu, sebelum pelaksanaan shalat ‘Id, yaitu zakat “fitrah” dan jika dikeluarkan setelah shalat ‘Id, maka tergolong kepada shodakoh bukan zakat fitrah. Sementara “lebaran”, dalam pandangan masyarakat umum, biasanya dipahami sebagai sebuah perayaan yang diadakan usai melaksanakan puasa Ramadhan.

Menurut Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab “halal” yang diapit dengan satu kata penghubung huruf “ba” (dibaca: bi). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, tetapi masyarakat Arab sendiri tidak akan paham arti dan makna halal bihalal, ini merupakan hasil kreativitas (ijtihad) bangsa Melayu. Halal bihalal tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat Asia Tenggara.

Prosesi silaturrahmi dan ritual saling memaafkan dalam halal bihalal, sepintas bisa disebut sebagai sebuah simbol keagamaan yang menjadi tradisi tahunan. Padahal, dalam ajaran Islam, setiap kita melakukan kesalahan baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, hendaknya langsung meminta maaf. Permohonan maaf kepada Allah, dimanifestasikan dengan membaca istigfar dan penyesalan yang mendalam disertai komitmen untuk tidak mengulangi kembali perbuatan yang telah dilakukan (taubatan nashuha), bukan taubat sambel, sambel itu adalah pedas tetap saja dimakan dimakan lagi. Sedangkan kepada sesama manusia, harus diwujudkan dengan permohonan maaf dengan jalan bersilaturahmi dan meminta keikhlasan kepada orang yang pernah disakiti untuk memaafkan kesalahan yang pernah dilakukannya itu.

Tidak akan ada yang menyangkal, tradisi silaturahmi dan saling bermaafan antar sesama manusia adalah hal yang sangat indah. Sebuah proses edukasi untuk mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Memaafkan kesalahan orang tidaklah gampang, segampang membalikan telapak tangan. Itu sebabnya, para sufi mengajarkan kepada kita, agar melatih diri memaafkan kesalahan orang lain secara simultan. Kedewasaan Rohaniah akan menghasilkan seseorang memiliki sifat pemaaf. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika mengendalikan kekuatan kutub marah diantara dua kekuatan pengecut dan pemberani. Sifat pemaaf itu telah mewarnai akhlak para nabi dan orang-orang saleh. Rohani mereka telah dipenuhi sifat-sifat Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Berkaitan dengan tradisi saling memaafkan saat lebaran dan ‘Idul fitri dalam halal bihalal, sampai ini kesan yang muncul sebatas ritual yang lebih bersifat simbolistik, namun tujuannya mulia, tidak ada salahnya untuk tetap dilestarikan. Hal tersebut, tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat, tetapi halal bihalal ini merupakan tradisi yang baik dan mulia. Intinya adalah silaturahmi, yaitu menyambung tali kasih sayang antara sesama manusia yang renggang. Kata silaturahmi berasal dari kata “rahim”. Kata “rahmat”, “rahman”, “arham”, dan sebagainya mempunyai akar kata yang sama, yaitu “rahim”. Rahim ibu adalah suatu tempat yang kuat dan penuh dengan kasih sayang. Menyambung silaturahim berarti menyambung kasih sayang antara sesama manusia.

Alangkah sejuk dan indahnya hidup ini, jika kita selalu berbagi kasih sayang kepada semua makhluk hidup, khususnya sesama manusia sebagai implementasi “hablum minannaasi”. Orang yang selalu mengisi hidup dengan kasih sayang biasanya mempunyai usia yang panjang. Kalau anda ingin umur yang panjang, perbanyaklah silaturahmi. Makna usia panjang tidak selalu berkaitan dengan usia fisik, tetapi juga bisa berarti panjang dalam pengertian masa atau sisa usia digunakan dan dimanfaatkan untuk hal-hal yang sifatnya baik.

Kaitannya dengan hal tersebut di atas, Al Qur’an telah memperingatkan kepada kita : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.(QS. Ali Imran 133-135)

Halal bihalal inilah ajang kita bersilaturahmi dan saling memaafkan antar sesama kita semua. sebaiknya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya hanya melalui ucapan lisan, kartu ucapan selamat atau pesan singkat (SMS), tetapi juga harus dibarengi perbuatan-perbuatan baik dan menyenangkan hati orang lain. (sumber: bimas islam)

Kapan acara halal bihalal Anda?

Advertisements

2 comments

  1. iyalah..halal bi halal kan silaturahim yang praktis (waktu, tempat, biaya, dll). tapi mestinya maaf memaafkan khususnya ditujukan kepada orang yang peling pernah kita salahkan/hinakan… gitu ya ustad

    jwb: setuju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s