Seorang Ayah

Menjadi seorang sungguh merupakan suatu hal yang teramat indah bagi saya.

Saya jadi teringat semua perjuangan (alm) ayahanda Saya yang kini menjadi figur yang tak tergantikan dalam hidup saya. Menjadi seorang ayah segera saja mendewasakan saya dalam setiap dimensi kehidupan.

Sering saya harus terbangun tengah malam karena tangisan putri saya, sering saya menggantikan popok putri saya, membersihkan kotoran saat ia buang air besar bahkan mencuci sendiri baju-baju, popok, sarung tangan-kaki, dan semua yang menjadi keperluan putri saya. Saya juga hampir setiap saat mengeringkan kepala putri saya dan tubuh mungil lucunya yang kerap basah oleh keringat.

Sering tangan saya terasa berat ketika menggendong mesra putri saya, namun itu tak ada artinya. Bahkan saya akan merasa lebih berat lagi jika saya tak segera dipercaya Allah untuk mengasuh seorang hamba.

Kini berat badan saya justru bertambah, saya yakin ini karena rasa bahagia yang saya rasakan hingga saat ini. Rumah menjadi hidup dan indah dengan kehadiran putri kami. Jerit tangis dan tawanya, senyumnya yang manis, matanya yang bening … Subhanallah….. indahnya ciptaan-Mu yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Saya ingin menjadi ayah sebagaimana Rasulullah menjadi ayah. Beliau menggendong anak-anak dan cucu-cucu beliau, bahkan terkadang beliau bermain berkejaran dengan mereka. Beliau tanami mereka dengan kecintaan kepada Allah. Beliau mendidik mereka dengan sempurna. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s