Tragedi Situ Gintung

Hari itu Jum’at pagi tanggal 27 Maret 2009. Saya memang terlambat bangun. Biasanya subuh saya sudah menikmati secangkir kopi instant kesukaan saya. Tapi hari itu saya terlambat bangun.

“Bangun …., setu jebol…….”. “Bangun woi, tanggul setu jebol”.

Itulah teriakan orang-orang membangunkan saya dari tidur lelap. Maklum sebelumnya hari Kamis, tanggal 26 Maret, wilayah kami diterpa hujan deras, hujan es, dan angin kencang. Saya sibuk “jagain” rumah, karena bocor di sana-sini. Jadi cape, dan malamnya tertidur lelap setelah merasa semuanya aman.

Nah, setelah mendengar teriakan banyak orang, Saya melompat keluar rumah bertanya kepada tetangga yang berlari-lari. “Ada apaan? tanya saya. “Setu Gintung jebol mas, cepetan.” Saya lalu menelpon istri saya yang saat itu menginap di rumah orang tua yang lokasinya lebih dekat ke setu. “Air gak ke sini, tapi ke bawah, arah Poncol”. Alhamdulillah. Lalu saya sholat subuh, meskipun agak telat, dan langsung menuju tanggul.

Benar saja, sudah banyak orang di sana, air mengalir deras, dari atas tanggul, saya mendekat persis di bibir tanggung yang jebol. Lalu berlarian ke bawah, memutar melewati masjid “Jabal Rahmah” yang juga diterjang air. Ajaib, rumah di sekitar msjid hancur, roboh diterjang air bah, tapi masjid tetap berdiri utuh dan kokoh.

Rupanya saat bendungan jebol, masjid sudah selesai adzan, namun para jamaah belum lagi melaksanakan sholat air sudah datang. Lalu bergegaslah para jamaah menuju lantai 2, tempat yang lebih tinggi, dan alhamdulillah, tidak da seorangpun dari jamaah yang terbawa arus. begitu agak siang, yang lebih aneh lagi, masjid bagian bawah yang diterjang banjir cuma hilang beberapa keramik dan kusen serta buku-buku dan mushaf Al Qur’an. Sedangkan sajadah, karpet semuanya nyangkut di tiang masjid dan tidak terbawa arus. Sementara penghuni rumah di sebelah masjid, seorang wanita yang tengah mengandung 8 bulan dan suaminya, ditemukan meninggal.

Saya tidak perlu menceritakan apa yang saya lakukan di sana, yang jelas saya dan banyak warga, ikut berjalan mengikuti arus ke bawah, sambil tengok sana-sini mencari jangan-jangan ada orang yang terjepit pohon atau korban yang memerlukan pertolongan. Kami tidak terlalu jauh turun ke bawah karena air masih deras. Dan kami tidak menemukan satupun korban jiwa. Rupanya setelah hari bertambah siang, semakin banyak ditemukan banyak korban meninggal, di lokasi yang justru “jauh” dari bendungan.

foto: BBCINDONESIA.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s