Nestapa Terlecehkan

Posting ini adalah lanjutan kisah seorang teman yang pernah saya tulis dalam Nestapa Di Balik Keringat dan Nestapa Terus Berlanjut. Mungkin posting ini adalah serial tentang Nestapa.

Kali ini dia datang dengan muka muram, kusut dan tak bersemangat. “Kali ini ada apa lagi”, tanya saya memulai pembicaraan.

Ya, saya sadar bahwa saya harus mulai lagi bertindak sebagi seorang pendengar setia yang tanpa komentar, tanpa memberikan tanggapan dan apalagi solusi. Tugas saya memang hanya mendengarkan.

Pertama, Bagimana gak dongkol sih, gue bangun tidur, memang dibuatin kopi kesukaan gue, tapi kata pengantar yang diucapkan istri saya adalah “Kopi Tuh !!!.” Apa lo gak gondok. Sepantasnya kan “Kopinya tuh Ayah, ada di meja makan” atau syukur bisa yang lebih manis lagi.

Kedua, istri saya minta duit, bukannya dengan basa-basi ini itu tapi malah bilang: “Ambil duit 2 juta buat ini itu”. Coba kalo lo, itu kan duit gue, gue yang kerja mati-matian, minta duit ngomongnya kayak ngomong ke jongos-nya aja. Gua nasehatain, “Ngomongnya yang sopan biar gak durhaka sama suami, kualat.” Malah dia bilang “EGP. Itu kan hak gua”. “Enak aja ngomong tentang hak, kewajiban aja gak pernah dipenuhi, giliran duit, giliran hak, teriak lantang-lantang!.” Fuih ….

Saya biarkan teman saya itu nerocos terus mengungkapkan kekesalannya. Saya mengerti, dia hanya seorang diri di Jakarta ini, sebatang kara, tidak ada sanak saudara. beberapa bulan lalu mulai ada saudaranya yang datang ke Jakarta, tapi justru malah “ngrepotin” katanya. Lalu dia meneruskan kedongkolannya.

Ketiga, yang paling tidak bisa gw terima seumur hidup. Dia bilang: “Eh (maaf) babi, anak loe sakit. Bawa ke dokter sekarang!!!. Dan belum lagi gua jawab dia bilang lagi: “Anak lo sakit nih (maaf) bangsat!”.

Lalu temen saya terdiam, menangis. Saya tahu dia merasakan nestapa yang teramat sangat. Istrinya yang dia cintai, yang dia nikahi, yang memberinya anak-anak manis dengan mengorbankan apa saja sebagai pilihan atas hidupnya, malah sekarang justru hanya mampu memberikan duka, nestapa dan lara dalam hatinya.

Sudah?”, tanya saya pelan. “Kalo sudah kamu pulang. ambil air wudhu, sholat, lalu berceritalah kepada Yang Maha Kuasa. DIA akan memberikan segala jawaban untukmu dan solusi untukmu. Jangan putus asa jika DIA belum mengabulkan permintaannya. DIA Maha Tahu segala apa yang tidak kamu tahu. DIA-lah ang Membuat Rencana Hidupmu.” Hanya itu kata-kata yang bisa saya ucapkan untuk membantu menenangkan hatinya, meskipun saya tahu dia tetap tidak akan bisa tenang.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s