Rumah Tangga Islami

Entah kenapa, semakin “usia kesana” semakin sering saya ingin tahu hal-hal yang berkaitan dengan “persiapannya”. Salah satu yang menarik saya adalah tentang keluarga Islami. Mungkin saya tidak bisa sepenuhnya menciptakan keluarga Islami dalam keluarga karena itu dibutuhkan peran serta banyak pihak, namun setidak-tidaknya saya harus memulia dari diri saya sendiri.

Bagimana Rumah Tangga yang Islami itu?

  • Seorang istri haruslah taat kepada suami dalam perkara yang tidak
    mengandung kemungkaran kepada Allah. Dalam masalah Anda, seorang suami menghendaki sang istri tinggal di rumah untuk mendidik anak anaknya. Ini satu cita – cita / keinginan yang baik, dan harusnya istri taat dan mendukung keinginan baik suaminya.

  • Urusan mencari nafkah untuk istri, anak dan keluarga adalah urusan sang kepala rumah tangga / suami. Ini kewajiban suami. Adapun seorang istri mencari nafkah tambahan bagi keluarga itu sifatnya sunnat saja. Sedangkan urusan istri mendidik anak anaknya ketika suaminya pergi mencari nafkah, mengurus rumah tangga, termasuk melayani suami adalah wajib bagi sang istri. Yang jadi pertanyaan, apakah perkara yang wajib atau yang sunnat yang harus didahulukan oleh sang istri? Istri yang cerdik harusnya mendahulukan perkara yang wajib.
  • Seandainya seorang suami kerja diluar rumah dan sang istri juga bekerja di luar rumah, maka yang jadi pertanyaan, siapakah yang akan menjaga dan mendidik anak anaknya? Bila dihadirkan seorang pembantu, maka ini juga akan menimbulkan kejanggalan:
  1. Pertama, istri bekerja untuk mencari uang dengan meninggalkan rumah dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah uang didapat, uang tersebut digunakan untuk membayar seorang pembantu??? Ini satu keanehan berpikir…
  2. Kedua, apakah pembantu tersebut seorang yang pendidikannya baik, dan agamanya baik? Sehingga bisa mendidik anak anak menjadi orang yang sholeh dan sholehah? Sedangkan seorang istri itu dinikahi salah satunya karena agamanya baik dan diharapkan bisa mendidik anak-anaknya. Tidakkah kita berbangga bila suatu saat anak kita ditanya, ‘siapa yang mengajarimu membaca Al Qur’an?’ Dan sang anak menjawab, ‘ummi ku…’. Bukan jawaban ‘bibiku .. ‘ (maksudnya pembantunya), yang meluncur dari lisannya. Ini pun bila kita beruntung mendapatkan pembantu yang bisa mengajari Al Qur’an.
  • Tidak diragukan, bahwa pekerjaan rumah tangga yang dibebankan kepada istri memang cukup berat dan banyak. Pekerjaan administrasi di kantor memang lebih ringan. Ada bagusnya bila seorang suami berempati (istilah kerennya) dengan membantu sang istri. Misal, ketika sang istri memasak, dia (suami) menyapu halaman / membersihkan rumah. Atau ada kegiatan mencuci baju
    bersama ketika libur, dll. Dengan demikian sang istri tidak terlalu
    keberatan dengan pekerjaan rumah tangga. Dan sang istri juga bisa berbangga mempunyai suami yang bukan sembarang suami.
  • Hidup itu pilihan dan pada tiap pilihan ada konsekuensinya. Ketika sang istri tidak bekerja karena harus tinggal di rumah dan mengurus anak, maka imbasnya adalah pendapatan keluarga berkurang. Solusinya adalah sang suami harus kerja ekstra keras untuk menutupi kebutuhan hidup. Ini satu konsekuensi dari pilihan yang dibuat. Dari sini akan nampak izzah / kemuliaan seorang suami di mata istri dan keluarganya.
  • Seorang wanita di rumah, tidak berarti tidak bekerja menghasilkan uang. Satu pola pikir yang harus dihapus di masyarakat Indonesia ini adalah bekerja itu tidak mesti di kantoran yang berangkat pagi pulang sore (istilahnya nine to five). Ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah sambil memenuhi kewajiban sebagai istri dan ibu rumah tangga. Salah satu contohnya adalah menjadi penulis. Kalo ada usaha insya Allah ada jalan.
  • Bantahan terhadap kekhawatiran rejeki. Salah satu pertolongan Allah bagi orang yang menikah adalah Allah akan cukupkan rejekinya. Benarlah apa yang difirmankan Allah (yang artinya) : “Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunianya…. “. (An Nuur : 32). Kemudian kita lihat kenyataan dilapangan, banyak orang yang mula mula menikah tidak punya apa apa, alhamdulillah, Allah cukupkan rejeki buat

  • Suami wajib memberi nafkah istri. Seorang suami wajib memberi nafkah kepada istri, memberi pakaian, makanan kepada istrinya. Banyak para suami yang melupakan hal ini. Seorang istri harus mengeluarkan uang dari hasil usahanya untuk memberi belanja sehari-hari keluarga, termasuk juga membeli pakaian untuk dirinya sendiri. Para suami jarang atau bahkan tidak pernah memperhatikan apakah istrinya sudah makan atau belum. Para suami jarang sekali membelikan pakaian untuk istrinya. Perhatikan hadits dan ayat Al Qur’an berikut ini: “Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiakan orang yang harus diberi belanja.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (Q.S. Al Baqarah : 233). Sedangkan hak mereka (istri istri) yang harus kalian penuhi adalah kalian memberikan pakaian dan makanan kepada mereka dengan baik.” (HR. Tirmidzi (II/204) (Adabuz Zifaf hal. 238). Nafkah pemberian dari suami kepada istri / keluarganya selain untuk memenuhi kewajiban yang dibebankan kepada suami, juga berimbas semakin cintanya sang istri kepada suami. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam (yang artinya): “Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling cinta mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, dihasankan oleh Al Albani).

Demikian semoga bermanfaat buat saya dan semua. Afwan kalo ada yang kurang berkenan.

sumber

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s