Aku Ingin Menjadi Ayah Seperti Nabi

Ketika matahariku menyapa bumi di terik siang wilayah Jakarta Selatan, Putriku terlahir berkulit gelap. Lalu aku suarakan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kiri matahariku.

Beberapa saat kemudian, saya menemui ibunda matahari menunjukkan photo matahari kami kepadanya. Saya terharu, ibunda matahari menangis, mengeluarkan air mata, terharu. Saya faham dan mengerti bahwa itu adalah air mata kehagaiaan, air mata tanda syukur kepada Allah.

Ibunda matahari berkata: “Lihat anak kita hitam seperti ayahnya. Salah saya ketika hamil benci sama ayahnya.” Subhanallah, ibunda matahari benar, Sayapun mengiyakan. Ia memang legam.

Lalu kami beri nama putri kami Adara Kaila Nareswari. Nama yang kami persiapkan dan saya pilih setelah saya memohon petunjuk dan berdoa kepada Allah, melewati malam-malam sebagai suami siaga.

Lalu sayapun berangan jauh menatap ke depan. Ya Allah, saya ingin setiap ulang tahunnya tiba nanti dirayakan dengan pengajian khataman Al Qur’an semalaman. Saya berharap agar ia nanti memahami dan menjalankan hidup dengan bimbingan Kitabullah. Alangkah bahagianya kami ayah-bunda jika suatu saat nanti bahkan ia menjadi seorang yang hafal Al Quran.

Ya Rasulullah, Saya ingin menjadi ayah sebagaimana Engkau menjadi ayah ya Rasulullah. Engkau menggendong anak-anak dan cucu-cucumu, bahkan terkadang Engkau bermain berkejaran dengan mereka. Engkau tanami mereka dengan kecintaan kepada Allah. Engkau mendidik mereka dengan sempurna.

(Diilhami oleh Tulisan Neno Warisman yang berjudul “Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu”)

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu
Oleh : Neno Warisman – ‘Izinkan Aku Bertutur’

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan
seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, alhamdulillah

(Tulisan ini didapat dari forwarded email oleh Ninta)

5 comments

  1. mendidik anak sangat perlu untuk hati-hati, jangan sampai salah dalam mendidik anak sehingga membuat anak menjadi orang yang pesimis, minder dan lain-lain.karena didikan ortu dapat membentuk kepribadian anak.

    —————————————————-
    Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

  2. ^_^ Wah… deltapapa ternyata temennya Bunda Ais.
    Berarti teman saya juga… hehehe *maksa mode on*

    Barakallah atas karunia Allah yang dititipkan kepada mas.
    Mudah-mudahan makin mendekatkan diri pd Allah.

    Saya sedang belajar menghafal Al-Quran. Namun ternyata susah yah, kalo tidak ada penyemangat. Mudah-mudahan Allah menurunkan pertolonganNya dengan menurunkan sesosok embun yang kelak saling menyejukkan, saling menyemangati, untuk menghafal Al-Quran. Tak lebih. Jika pun dikaruniakan buah hati, maka tidak ada keinginan saya selain membuatnya menghafal seluruh isi Al-Quran.
    *loh kok saya jadi curhat yah… hehehehe….

    Sekali lagi barakallah. Dan terima kasih atas kunjungannya ke blog saya.

    jwb: amin, terima kasih atas doanya

  3. *seka air mata*

    Subhanallah…aamiin..Semoga Allah menjadikan mas Dwi ayah yang terbaik untuk Adara…ayah seperti Rasul tercinta…aamiin Insya Allah…

    selamat datang Adara…semoga mjd anak yg shalihah, dermawan, dan amanah seperti Fatima putri Rasul…

    salam untuk bunda matahari…
    Semoga Allah menganugrahi kebahagiaan dan kasih sayangNya untuk mas Dwi sekeluarga..aamiin…
    🙂

    Jwb: thanks ninta. seperti sudah saya sebut di atas, tulisan ini diilhami oleh sebuah forwarded email dari ninta. (Aku jadi punya ide buat posting. Tq emailnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s