Nestapa Di Balik Keringat

Tadi malam datang kepada Saya seorang teman. Kami berteman akrab sejak kecil hingga sekarang kami sama-sama dewasa. Betapa terkejutnya saya ketika ia bercerita, berkeluh kesah tentang kehidupannya. Saya pikir, dan saya yakin teman-teman kami yang lain, menganggap ia hidup cukup bahagia.

Meskipun tinggal di rumah kontrakan yang mungil, rumah itu tertata apik, bersih dan membuat iri para “kontraktor” lain. Ia tidak berpenghasilan besar, namun cukup untuk menopang hidupnya bersama keluarganya. Ya, ia hanya berdua bersama istri yang dicintainya. Ia belum diberi anugrah seorang putra sebagai pelengkap hidupnya.


Saya terbelalak ketika ia mengadu bahwa ia merasa hidupnya lebih banyak diatur oleh istri yang dicintainya itu. Pendapatan yang ia dapat semuanya ia percayakan kepada istrinya, ia hanya mengambil sebatas yang diperlukannya, dia bilang yang ia ambil itu kurang dari sepertiga penghasilannya. Sebagai seorang suami ia merasa terlalu sering dilecehkan. Istrinya, yang menurut saya cantik, tak henti-hentinya membandingkan dia dengan orang-orang di sekitarnya. Umpatan, celaan, ucapan kasar, pelecehan jiwa dan raga adalah makanannya sehari-hari. Masya Allah, begitukah?

Ia hanya diajak bicara dengan lemah lembut, hanya dan hanya saat gajian tiba. Di akhir bulan seperti sekarang ini, ia bahkan tidak diajak bicara. Istrinya hanya memasak nasi putih yang hanya tinggal colok “mejik kom” satu-satunya yang ia punya. Lauk ia harus berusaha sendiri. Katanya, ia teramat sering hanya membeli gorengan seharga dua ribu rupiah sebagai lauk atas makan malamnya. Subhanallah, benarkah begitu?

“Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.” Ya,meskipun tidak persis begitu namun gejala seperti itulah yang ia alami. Istrinya yang cantik itu tidak pernah mau menyadari dan mensyukuri apa-apa yang dihasilkan suaminya. Astaghfirullah benarkah demikian?

“Aku merasa bagaikan mesin pencari uang saja, tidak lebih,” ujarnya kepada Saya malam itu. “Bekerja, gajian, dan setoran. Hasil jerih payahku tak pernah dihargai, tak pernah berarti dan selalu kurang”, lanjutnya.

Ah, jika semua yang diceritakanya benar sungguh ia hanya menuai nestapa di balik keringat. Astagfirullahaladziem, saya hanya diam, tak berkomentar sepatah katapun, membiarkan matanya mengembang basah. Ia seorang lelaki memang, saya menghargai itu walaupun ia tak kuasa menahan sesak nafas dan tubuh mungilnya yang semakin rapuh hingga ia memeluk saya “sesegukan” menumpahkan nestapa atas keringatnya.

photo: ilustrasi

Advertisements

4 comments

  1. apa alasannya dia masih tetap pulang kpd istrinya? cinta? well kalau alasannya itu berarti tambah satu lagi definisiku tentang cinta, “membiarkan dirimu terpuruk di dalam lumpur”

    jwb: dia belum ngaku terus terang sama saya. entar deh ya …. btw, makasih dah mampir sini, niko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s