Indahnya Cahaya-Mu

Sahabat, apa yang terlintas ketika berbicara seputar wanita? banyak hal bukan?, meskipun identiknya dengan makhluk lemah, suka mendramatisir keadaan, rentan rasa, banyak masalah, tapi siapa takut? Tidak apa-apa kita identik dengan kondisi-kondisi tadi sejauh Allah dalam jiwa.

Melihat sifat-sifat wanita yang tadi tampaknya sesama muslimah harus dan senang ditemani, karena muslimah itu rentan yaitu lemah, karena feminimnya, sensitifnya, sehingga buat orang satu hal bukan masalah tapi buat dia bisa jadi sudah nangis bombay, sudah sedih sehingga membuat murung. Kadang karena berlebihannya perasaan seorang muslimah, menjadikan waktu yang sebenarnya berharga dengan keindahan Allah menjadi sirna.

Kalau lagi bete, jutek, sebel, sakit hati, dikecewakan dan dalam menanti si dia yang tak kunjung datang seolah Allah tidak berpihak, sudah tahajjud, shaum senin kamis, shaum daud, kok Allah tidak berpihak juga ya, pernah tidak seperti itu? Nah jadi kita ini bukan saja harus menyadari, namun juga harus bertanya pada diri sendiri, hidup ini buat apa? jawaban yang tepat untuk ibadah bukan? sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyaat:56 yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (ibadah) kepada-Ku”.

Kalau begitu tidak ada alasan untuk bersedih, apalagi setelah kita merenungi hadits Rasulullah SAW yang kutipannya seperti ini, bahwa Allah sedang memilih kepada siapa cinta-Nya akan diberikan, kemudian Allah akan menguji hambanya dengan memberi cinta-Nya apabila hambanya dapat sabar dalam cobaannya itu Allah akan memilihnya untuk memberikan cinta-Nya dan apabila dia ikhlas, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dan ridho Allah ada beserta hambanya yang ridho dan ikhlas. Jadi kalau lagi susah hati itu bukan berarti Allah tidak berpihak, kenapa? karena Allah sedang menguji kita dalam keadaan tidak berkenan, tidak enak, tidak menyenangkan, cinta kita kepada Allah harus tetap tinggi. Adanya kesedihan yang muncul, adanya fikiran kondisi tersebut karena Allah tidak berpihak, jangan sampai membuat kita larut didalamnya, kenapa? karena kalau dalam keadaan begitu Allah memanggil kita kemudian wafat, kita bagaimana?

Dalam arti mengapa kita tidak melihat kenikmatan dan kebesaran Allah yang banyak jauh lebih banyak disekeliling kita. Kebiasaan kita hanya fokus pada masalah yang satu itu, padahal Allah sangat mengagungkan kaum perempuan, bahkan Allah telah menyiapkan surga khusus untuk kaum wanita, yaitu surga Allah yang ke lima, yang saat ini sudah dihuni oleh Fatimah az Zahra, Siti Hawa, Siti Asiyah yang walaupun suaminya telah berlaku dzalim padanya Siti Asiyah tetap taat pada suaminya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan akidah sampai Siti Asiyah memohon dalam doanya kepada Allah, “Ya Rabb, jika Engkau tidak memberikan surgaku didunia ini maka berikanlah surga-Mu di akhirat kelak”, sehingga terwujudlah sekarang bermukim di surga kelima, pada saat Nabi mi’raj, terlihat di sana Jibril menjelaskan pada Nabi bahwa inilah tempat wanita yang ada di dunia sebagai balasan perilaku baiknya didunia, semua kembali pada kita apakah kita mampu qonaah atau tidak dalam menerima qada dan qadar dari Allah SWT.

Siapa yang wajahnya jutek itu berarti kalbunya tidak sehat, katanya yakin Allah ada, sholatnya rajin, tapi sholatnya, ngajinya, asmaul husnanya tidak menetes ke kalbunya, itu namanya asbun (asal bunyi), dzikirnya kejar setoran, istighfar itu harus tertembak ke yang kita maksud, jadi seorang kalbu muslimah, jika ia kuat tertetes oleh Rabbani nya Allah, apapun yang menyerang dia, dia bertahan untuk bisa meraihnya. Kita harus mampu membaca apa yang diinginkan Allah, bukan yang diinginkan diri supaya kecewa. Bukankah Allah SWT sudah berfirman “….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Hal lain yang tidak jarang membuat kita kecewa karena tidak terwujud kebahagaiaan pada saat yang diharapkann, rentannya seorang muslimah di situ kalau dia terkecewakan dia runtuh sehingga banyak melakukan sensasi-sensasi. Ingatlah permasalahan demi permasalahan tidak akan pernah selesai sampai akhir hayat kita, baik mulai dari tingkat kita sampai ketingkatan ulama sekalipun past akan mengalami jatuh bangun dengan segudang permasalahan pada tingkatannya masing-masing, oleh karena itu betapa penting seorang muslimah untuk senantiasa riyadhoh (latihan) agar kekuatan mentalnya dalam setiap kekecewaan bukan hanya terobati tetapi dapat menjadi kokoh dan tegar dalam bersikap.

Tips untuk menghindari kekecewaan:

Pertama, jangan sekali-sekali menargetkan apa yang kita mau, selalu dalam segala hal harus ada judul didepannya yaitu dengan kata “Insya Allah”, Kalau Allah ridho akan keinginan kita mudah-mudahan tercapai, kalau tidak jangan memaksakan karena tidak akan terwujud, senantiasa qonaah dan ikhlas. Kalau banyak keinginan siap-siap untuk kecewa, kalau sudah kecewa susah, menjeritlah hanya kepada Allah, Allah itu bisa menjadi sahabat, sampaikan kepada Allah segala keluh kesah kita, hanya kepada Allah dengan sepenuh keyakinan, kenapa? karena yang membuat rasa itu Allah, yang membuat senang juga Allah. Kita ikhtiar maksimal tetapi Allah yang memutuskan, kalau kalbu kita tertuntun pada saat marah, marahnya tidak akan lama, kata “Insya Allah” ini aplikasi dari sebuah tawakal kepada Allah.

Kedua, harus haqul yakin kepada Allah, contoh sudah taaruf, sudah menentukan hari pernikahan, tiba-tiba ada sesuatu hal yang menyebabkan batalnya pernikahan itu, kita harus membacanya sebagai pertolongan Allah.

Ketiga, kita harus pasrah, tawakal kepada Allah,.berpikir positif terus sehingga menuju cahaya Allah, kalau tujuannya sebatas mendapatkan seseorang, tentu akan berakhir setelah di dapat, kalau tidak dapat kecewa, tapi kalau tujuannya menuju cahaya Allah bisa dipastikan tidak akan ada kekecewaan karena itulah tujuan sesungguhnya dan tujuan sebenarnya, kalau hal ini sudah hadir di hati luar biasa indahnya.

Segala puji bagi Allah, karena kebesaran-Nya kita bisa menghujamkan pinta seorang hamba ini ke dalam kalbu kita, Insya Allah bermanfaat.

“Allahu Rabbi, aku minta izin bila suatu saat aku jatuh cinta, jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang, hingga membuat lalai akan adanya Engkau. Allahu Rabbi, aku punya pinta bila suatu saat aku jatuh cinta, penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas biar rasaku pada-Mu tetap utuh. Allahu Rabbi, izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu dan membuat semakin mengagumi-Mu”.

“Allahu Rabbi, bila suatu saat aku jatuh cinta, pertemukanlah kami, berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu, Allahu Rabbi, pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh cinta jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku anugerahkanlah aku cinta-Mu, cinta yang tak pernah pupus oleh waktu”.

Sahabat yang dimuliakan Allah, Rabi’ah al Adawiyah, hanya merindukan Allah selama hidupnya, Rasulullah berkata, jika ada seseorang yang datang bermaksud meminangmu, maka bukan ummatku kalau tidak mengikuti sunnahku, tapi bagi yang tidak berkesempatan jangan pernah khawatir karena sudah pasti Allah mempunyai rahasia dibalik semuanya.

Kalbu seorang muslimah langkahnya bisa berkata tanpa berkata, perilakunya bisa dibaca oleh orang lain, indah kalbunya indah pula kata-katanya, atau justru sebaliknya, maka jika ingin hidup ini indah jadikanlah cahaya Allah sebagai tujuan kita, karena Allah begitu indah dan keindahannya akan terbiasa kepada kita jika Dia menghendaki.. Wallahualam bishawab.

Tulisan Oleh: Ummu Ghaida Muthmainnah (Teh Ninih)

sumber

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s