Pengemis Merajalela

Selalu, menjelang Hari-Hari Raya Keagamaan terutama Idul Fitri, Lebaran. Banyk pengemis bermunculan di setiap penjuru kota. Setiap iseng melewati pemukiman-pemukiman mewah di Jakarta, hari-hari deket Lebaran gini banyak saya lihat “keluarga kecil” lengkap dengan gerobak.

Tidak hanya itu, tempat-tempat dan jalan raya yang biasanya tidak ada tukang sapu berseragam ataupun tidak, tiba-tiba dipenuhi oleh 3 atau 4 orang di satu lokasi. Tanpa berprasangka buruk, kita bisa menebak apa yang mereka inginkan.

Memang kalau kita ingin memberi, bersedekah ya, memberi saja, tanpa boleh punya prasangka apa-apa. “Memberi dengan tangan kanan, tangan kiri tidak mengetahuinya”.

Namun, jika keadaannya masyarakatnya demikian, lantas bagaimana kita harus bersikap? Apa bisa kita sebut mereka “perampok” yang sedikit maaf mengekspose “ciri-ciri pengemis dan kemiskinan”?

Bahkan ada pengemis yang tak sampai 3 jam ia telah meraup sekitar 250 ribu. Baru ia pulang dan bermalas-malasan. Coba kita hitung bila ia melakukannya selama sebulan dengan rata-rata 100 ribu/3jam. Ia mendapatkan Rp. 3.000.000,-. (Lebih dari gaji seorang Sarjana fresh graduate). Benar-benar profesi menjanjikan. Menjadi pengemis. Setiap bulan mereka bisa pulang kampung. Bahkan seseorang pernah mengenali seorang pengemis, kemudian kepergok di kantor pos menukarkan uang receh yang ia peroleh; malamnya belanja
makanan kecil di sebuah toko swalayan besar yang ada di mal.

Saya juga sempat menghela nafas ketika suatu saat saya memberi kepada seorang pengemis anak-anak, terus tidak lama kemudian saya bertemu dengannya kembali lagi main ding dong di sebuah mall.

Bulan puasa adalah bulan yg penuh pahala untuk bersedekah, begitu yang mereka ketahui. Sehingga dengan perlengkapan gerobag mereka hanya diam tak bekerja. Duduk-duduk, tidur-tiduran di pinggir-pingir jalan raya menanti datangnya pemberian dari orang-orang yang berpuasa.

Indonesia dengan banyak penganut Islam. Membayar zakat adalah kewajiban. Kemanakah larinya zakat yang tentunya jumlahnya sangat besar? Bagaimanakah tatacara, kebijaksanaan pengelolaan zakat umat sehingga dari tahun ketahun jumlah orang miskin, yang pura-pura miskin justru makin bertambah -tambah? Kemana Badan Amal Zakat dan Sedekah? Mengapa kerja mereka selama ini tidak optimal? Kenapa dana zakat yang begitu besar hanya terserap 10%-nya saja oleh Bazis?

Apakah Anda juga memperhatikan tayangan televisi pengantri Bantuan Langsung Tunai yang menunggu giliran di panggil sambil bertelepon ria dengan HP?

Sudah saatnya Kita Museumkan Kemiskinan

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,
Saya yakin kita bisa menciptakan dunia yang bebas dari kemiskinan, karena kemiskinan tidak dibikin oleh rakyat miskin. Kemiskinan diciptakan dan dilestarikan oleh sistem sosial-ekonomi yang kita rancang sendiri; pranata-pranata dan konsep-konsep yang menyusun sistem itu; kebijakan-kebijakan yang kita terapkan.

Kemiskinan tercipta karena kita membangun kerangka teoretis berdasarkan asumsi-asumsi yang merendahkan kapasitas manusia, dengan merancang konsep-konsep yang terlampau sempit (seperti konsep bisnis, kelayakan kredit, kewirausahaan, lapangan kerja) atau mengembangkan lembaga-lembaga yang belum matang (Seperti lembaga-lembaga keuangan yang tidak mengikutsertakan kaum miskin). Kemiskinan disebabkan oleh kegagalan pada tataran konseptual, dan bukan kurangnya kapabilitas di pihak rakyat.

Saya percaya sepenuh hati bahwa kita bisa menciptakan dunia yang bebas-kemiskinan bila secara kolektif kita mempercayainya. Dalam dunia yang bebas-kemiskinan, tempat satu-satunya Anda bisa melihat kemiskinan adalah di museum-museum kemiskinan. Ketika anak-anak sekolah berkunjung ke museum-museum kemis+kinan itu, mereka akan ngeri melihat kesengsaraan dan kehinadinaan yang harus dilalui sebagian umat manusia. Mereka akan menyalahkan leluhurnya karena mentolerir kondisi yang tidak manusiawi yang sudah berlangsung begitu lama atas begitu banyak orang ini.

Seorang manusia lahir di dunia ini dengan bekal penuh bukan hanya untuk mengurusi dirinya sendiri saja, tetapi juga turut menyumbangkan upaya untuk memperluas kesejahteraan dunia secara keseluruhan. Ada yang punya peluang untuk menggali potensi mereka sampai takaran tertentu, tapi banyak lainnya yang tak pernah mendapat kesempatan apapun seumur hidupnya untuk menguak bakat-bakat menakjubkan yang hadir bersama kelahirannya. Mereka mati tanpa pernah tergali dan dunia tak pernah merasakan kreativitas dan sumbangsih mereka.

Grameen telah memberi saya keyakinan tak tergoyahkan mengenai kreativitas manusia. Hal ini telah membuat saya meyakini bahwa manusia tidaklah terlahir untuk menderita sengsara akibat kelaparan dan kemiskinan.

Bagi saya orang miskin itu seperti pohon bonsai. Manakala Anda menanam bibit terbaik dari pohon tertinggi dalam pot kembang, Anda pun mendapat replika dan pohon tertinggi itu, namun tingginya hanya sekian inci. Tak ada yang salah dengan bibit yang Anda tanam, hanya lahannya saja yang sama sekali tidak memadai. Orang miskin itu orang bonsai. Tak ada yang salah dengan bibitnya. Sederhana saja, masyarakat tak pernah memberi mereka lahan untuk bertumbuh kembang. Yang diperlukan untuk membuat masyarakat miskin keluar dari kemiskinan adalah menciptakan lingkungan yang memberdayakan mereka. Begitu kaum miskin bisa melejitkan energi dan kreativitas mereka, kemiskinan akan lenyap dengan cepat.

Mari kita bergandeng tangan untuk memberi setiap makhluk manusia kesempatan yang adil untuk melejitkan energi dan kreativitas mereka.

Bapak dan ibu sekalian, Akan saya sudahi dengan menyatakan penghormatan saya yang mendalam kepada Komite Nobel Norwegia karena mengakui bahwa masyarakat miskin, khususnya kaum perempuan miskin, mempunyai potensi sekaligus hak untuk menjalani hidup dengan layak, dan bahwa pembiayaan mikro bisa turut melejitkan potensi itu.

Saya percaya bahwa penghargaan yang Anda berikan pada kami ini akan mengilhami lebih banyak lagi inisiatif berani di seluruh dunia untuk membuat gebrakan bersejarah dalam mengakhiri kemiskinan global.
Terima kasih.

(Pidato Muhammad Yunus, Saat Menerima Hadiah NOBEL Perdamaian 2006. Terima kasih kepada R.Kintoko yang telah mengirimkan artikel ini kepada saya. Salam Suksesmulia. Jamil Azzaini)

(dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s