Republik “Kacau Balau”

Adalah pertanyaan yang sah dan niscaya jika seseorang menanyakan “Republik apa ini? Rakyat, masyarakat kecil mengeluh minyak tanah langka (mungkin karena perlahan tidak akan ada subsidi) pemerintah menggantinya dengan himbauan agar masyarakat memakai gas.

Kompor gas dibagikan secara gratis meskipun pada kenyataannya warga masyarakat yang menerima harus mengeluarkan uang paling tidak Rp. 15.000,- untuk biaya angkut dan bongkar muat. Kata pak RT ini karena kompor dan tabung di drop di kelurahan dan perlu tenaga kuli untuk bongkar dan distribusinya. Ah, tanggung amat ya, kenapa gak sekalian disubsidi biaya bongkar muat dan biaya angkut ini? Republik apa ini?

Sudah begitu sekarang gas susah didapat, kalaupun ada dengan tenggang waktu yang cukup lama dan harganya yang jauh di atas harga resmi. Lagi-lagi karena biaya angkut. Apa ini karena pertamina “dilarang” menaikkan harga gas tiap bulan oleh pemerintah? Tapi menurut hemat saya emang kebangetan kalau harga gas naik tiap bulan dengan alasan agar sama dengan harga mekanisme pasar dunia. Emang pendapatan rakyat republik ini sama dengan pendapatan rakyat di negara-negara lain. Ah, sing mboten-mboten mawon. Ada-ada saja. Republik apa ini?

Terakhir yang paling hot adalah pembagian zakat maal oleh seorang saudagar di Pasuruan yang menelan korban 21 orang tewas. Niat baik, menjalankan kewajiban perintah agama malah berujung malapetaka. Tahun-tahun sebelumnya juga dibagi dengan cara yang sama, tidak ada insiden, tapi tahun ini malah jadi malapetaka. Anehnya di sebuah stasiun televisi ada yang menulis di running text dengan istilah “Zakat Maut”. Gendheng ! mana ada istilah Zakat Maut. Republik apa ini?

Malah sekarang panitia, dan saksi-saksi serta yang punya hajat diperiksa polisi. Mau bagi zakat kok harus koordinasi dengan polisi. Apa kita yakin polisi gak “minta bagian”?. Salah siapa ini? Salah yang berzakat? Salah warga yang berebutan gak teratur? Kenapa mereka jadi berebutan dan “memburu” uang sebesar 3o ribu rupiah? Apa salah yang ngurus negara sehingga warga bisa begitu? Republik apa ini?

Mungkin seharusnya memang zakat disalurkan lewat panitia zakat (amil) baik yang dibentuk pemerintah, ormas, parpol (kalau ada) atau institusi apa gitu. Tidak dibagi sendiri. Bisa jadi niatnya memang begitu, tapi karena negara ini di cap sebagai negara korup, dimana orang-orang yang seharusnya menjadi panutan malah memberi contoh yang tidak baik, korupsi, manipulasi, dll, jadi seseorang yang akan memberikan amanatnya “takut” jangan-jangan zakat gue dikorupsi, disunat dan tidak sampai kepada yang berhak. Lebih baik gue bagi sendiri, ketahuan jelas dari pada dikorupsi. Republik apa ini?

Menurut polisi penyebab kematian adalah karena warga kekurangan oksigen, nah, siapa yang jual oksigen, harganya berapa? Beli dimana? Mungkin Tuhan murka dengan segala carut marut negeri ini. Terus dimana Polisi pada saat ada konsentrasi massa begitu? apa harus tunggu laporan atau harus inisiatif? Dimana Intelejen saat itu, Dimana reserse? jangan salahkan orang lain dong. Lihat diri sendiri dulu. ah, Republik apa ini?

Ada lagi bahkan masyarakat yang menjual daging sampah, tidak perlu diperhalus dengan istilah daging tak layak konsusmsi segala. Itu jelas-jelas dipungut dari tempat samapah restoran dan hotel. Jadi ya namanya daging sampah. Lagi, masyarakat pengin makan enak (daging, ayam, ikan) tapi harga terus melambung gak kebeli akhirnya beli yang murah, eh …. gak taunya malah sampah. Beli di pasar bingung juga, jangan-jangan daging “glonggongan” yang mengandung banyak bibit penyakit juga. Republik apa ini?

Main sepak bola juga begitu. Tim kesayangan kalah, wasit, pemain dipukuli sampai-sampai menelan korban tewas. Banyak yang lupa bahwa olah raga adalah sport, jadi ya mestinya mengedepankan sportifitas bukan “holiganisme” gaya preman kampungan. Ah, Republik apa ini?

Istri bunuh suami, suami bunuh istri, perampokan, narkoba, pencurian, pemalakan, tawuran antar warga, korupsi, skandal tingkat tinggi (seperti kasus korupsi BLBI), pengeboman, makanan kedaluarsa dan tidak di daftar di Depkes dijual bebas dipasaran, demo buruh-buruh pabrik. Gula impor diselewengkan, harga-harga kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok terus naik gak perah bisa turun. Yang bisa turun cuma kolor. Republik apa ini?

Bantuan langsung tunai (BLT) tahap kedua mulai dibagi lagi. Kali ini besarnya Rp. 400 ribu. Hayo, kira-kira orang pada berebutan gak? Kira-kira tertib gak? Kira-kira ada masalah gak? Kalo nanti tetep aja orang berdesak-desakan, ada yang pingsan, pokoknya gak tertib, siapa yang salah? Apa pemerintah gak bisa ngatur mekanisme pembagianya, kenapa kantor pos juga tidak buat jadwal pengambilan. Hayo, Republik apa ini?

Ironis, segelintir orang terus bertambah duitnya karena “menjual” Ramadhan. Eko dan Parto Patrio, Tessi, komeng, Adul, Okky Lukman, Tukul sobek-sobek, Olga, Jojon, Ruben, dan banyak lagi yang tidak usah pusing mikirin THR, karena order Ramadhan tiap hari, wow, ….. berapa duit tuh yang mereka dapat? Bukan iri atau menghitung rejeki orang tapi kok ya terlalu timpang gitu. Republik apa ini?

Tidak seharusnya memang kita-kita yang susah ini mengeluh. Ada yang bilang bahwa kita harus berdiri di tempat yang tepat, berdiri dimana rejeki itu paling banyak berada. Berdirilah di tempat yang tepat, dimana itu adanya? Untuk tahu tempatnya apa harus kirim SMS: REG spasi PRIMBON, REG sapsi RAMAL, REG spasi TANGGAL LAHIR, REG spasi NOMOR HANDPHONE, REG spasi WETON, dan REG spasi MASIH BANYAK LAGI dan mengirim ke nomor premium super mahal (Rp. 2000 +/ SMS) entah kalau sudah daftar di sana kita “dirampok” dapat SMS berapa banyak sehari tanpa kita tahu sebelumnya tiba-tiba pulsa berkurang? Kenapa super mahal? IYA, seorang temen yang bekerja di salah satu operator mengatakan bahwa biaya untuk SMS cukup dengan Rp. 70-80/SMS. Kenapa dijual mahal banget begitu? Apa tidak regulasi yang mengatur hal ini? Republik apa ini?

Itu semua adalah potret kemiskinan rakyat Indonesia. Yang kaya ingin dilihat kekayaannya, jadi cenderung pamer. Sedangkan yang miskin atau merasa miskin atau ingin disebut miskin tidak dengan ihklas mensyukuri pemberian Tuhan lewat zakat, sedekah, BLT atau apa saja, tetapi malah “merampok” apa yang seharusnya diterima dengan nrimo, urut, sabar, antri dan yang penting ikhlas. Lalu siapa yang dapat menjawab pertanyaan Republik apa ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s