Beberapa Kekeliruan Kaum Muslimin Seputar Lailatul Qadar

1 Salah Dalam Berpandangan Dan Berkeyakinan

Diantara kesalahannya adalah:Keyakinan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu memiliki beberapa tanda yang dapat diraih oleh sebagian orang. Lalu orang-orang ini merangkai cerita-cerita khurafat dan khayal. Mereka mengaku melihat cahaya dari langit, atau mereka dibukakan pintu langit dan lain sebagainya.

Semoga Allah merahmati Ibnu Hajar, ketika beliau menyebutkan dalam
Fathul Bari 4/266, bahwa hikmah disembunyikannya lailatul qadar, ialah agar timbul kesungguh-sungguhan dalam mencarinya. Berbeda jika malam qadar tersebut ditentukan, maka kesungguhan-sungguhan hanya
sebatas pada malam tertentu itu.

Kemudian Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ath-Thabari, bahwa beliau memilih pendapat (yang menyatakan, pent.), semua tanda itu tidaklah harus terjadi. Dan diraihnya lailatul qadar itu tidak disyaratkan harus dengan melihat atau mendengar sesuatu.

Ath Thabari lalu mengatakan: “Dalam hal dirahasiakannya lailatul qadar, terdapat bukti kebohongan orang yang beranggapan, bahwa pada malam itu akan ada hal-hal yang dapat terlihat mata, apa yang tidak dapat terlihat pada seluruh malam yang lain.

Jika pernyataan itu benar, tentu lailatul qadar itu akan tampak bagi setiap orang yang menghidupkan malam-malam selama setahun, utamanya
malam-malam Ramadhan.”

Lailautl Qadar itu dirahasiakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, menyebabkan orang tertuntut untuk melaksanakan qiyamul lail selama satu bulan penuh. Hal ini berbeda jika pengetahuan tentang waktunya dapat diketahui secara jelas.”

Kesimpulannya, lailatul qadar tetap ada sampai hari kiamat. Sekalipun penentuan tepatnya kejadian tersebut dirahasiakan, dalam arti, tetap tidak dapat menghilangkan kesamaran dan ketidakjelasan tentang waktunya.

2 Kesalahan-kesalahan Dalam Amal Perbuatan Dan Tingkah Laku

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada lailatul qadar itu banyak sekali. Hampir tidak ada yang bisa selamat, kecuali yang
dipelihara Allah. Diantaranya, Mencari dan menyelidiki keberadaannya dan tersibukkan dengan mengintai tanda-tanda lailatul qadar, sehingga lalai beribadah ataupun berbuat taat pada malam itu.

Betapa banyak orang-orang yang shalat, kita lihat diantara mereka
lupa membaca Al Qur’an, dzikr dan lupa mencari ilmu karena urusan
ini. Engkau dapati salah seorang diantara mereka -menjelang terbitnya
matahari memperhatikan matahari untuk mengetahui, apakah sinar matahari ini terik ataukah tidak? Mestinya, orang-orang ini memperhatikan pesan yang terdapat pada sabda Nabi, Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) menjadi lebih baik bagi kalian.

Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa malam itu tidak ditentukan.
Para ahli ilmu menarik kesimpulan dari sabda Nabi bahwa dirahasiakannya
waktu lailatul qadar itu lebih baik. Mereka mengatakan, “Hikmah dalam hal itu, agar seorang hamba bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada tiap-tiap malam dengan harapan agar bertepatan dengan lailatul qadar. Berbeda jika lailatul qadar itu (telah) ditentukan. Maka, sungguh amal itu hanya akan diperbanyak (pada) satu malam saja, sehingga ia luput dari beribadah pada malam lainnya, atau berkurang.”

Bahkan sebagian ahli ilmu mengambil satu faidah dari sabda Nabi tersebut,
bahwa sebaiknya orang yang mengetahui lailatul qadar itu menyembunyikannya -berdasarkan dalil- bahwa Allah telah mentaqdirkan kepada NabiNya untuk tidak memberitakan ketepatan waktunya. Sedangkan semua kebaikan ada pada apa yang telah ditaqdirkan bagi Nabi. Maka, merupakan sunnah untuk mengikuti beliau dalam hal ini.

Dari uraian di depan, dapat diketahui kekeliruan orang-orang dalam
giatnya mereka shalat secara khusus, atau beribadah secara umum pada
malam ke dua puluh tujuh, dengan memastikan atau seakan memastikan,
bahwa malam itu adalah lailatul qadar, kemudian meninggalkan shalat dan tidak bersungguh-sungguh berbuat taat pada malam-malam lainnya.

Persangkaannya, bahwa mereka hanya akan mendapatkan ganjaran ibadah lebih dari seribu bulan ketika menghidupkan malam ini (malam duapuluh tujuh, pent.) saja.

Kekeliruan ini membuat banyak orang melampaui batas dalam berbuat
taat pada malam ini. Anda bisa lihat, diantara mereka ada yang tidak
tidur, bahkan tidak henti-hentinya shalat dengan memaksakan diri tanpa
tidur.

Bahkan mungkin ada sebagian yang shalat, lalu memperlama shalatnya,
sementara dia berjuang keras melawan kantuknya. Dan sungguh, kami
pernah melihat diantara mereka ada yang tidur dalam sujud.

Dalam hal ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita -berkat karunia dan nikmatNya.

Diantara kesalahan sebagian kaum muslimin pada malam ini, yaitu sibuk
mengatur acara, menyampaikan ceramah. Sebagian lagi sibuk dengan nasyid-nasyid dan nyanyian puji-pujian, sehingga lalai berbuatan taat.

Anda bisa saksikan, ada orang yang begitu bersemangat, berkeliling
ke masjid-masjid dengan menyampaikan berita terkini, serta bagaimana
upaya pemecahannya. Itu dilakukan hingga menyebabkan pemanfaatan malam itu keluar dari apa yang dimaksudkan syari’at.

Diantara kekeliaruan mereka juga, yaitu mengkhususkan sebagian ibadah
pada malam itu seperti shalat khusus lailatul qadar.

Sebagian lagi senantiasa mengerjakan shalat Tasbih secara berjama’ah
tanpa hujjah. Sebagian lagi -pada malam ini- melaksanakan shalat
hifzhul Qur’an, padahal tidak ada dasarnya.

Pelanggaran-pelanggaran dan kekeliruan yang berkaitan dengan lailatul
qadar -yang dilakukan banyak kaum muslimin- sangat beragam dan banyak sekali. Kalau kita kumpulkan dan kita selidiki, maka tentu pembicaraan ini menjadi panjang.

Apa yang kami sampaikan disini, baru sebagian kecil saja. (Insya Allah)
bermanfaat bagi penuntut ilmu, pendamba kebenaran dan pencari al haq.

Dikutip dari majalah As-Sunnah 07/III/1419H hal 39 – 40, melalui: blog.vbaitullah

2 comments

  1. Cara pandang ikut mempengaruhi cara ibadahnya.contohnya umat islam banyak yang nggak ngerti arti al fatihah, padahal dia baca setiap hari dalam sholat, klo lailatul qadar lebih banyak dipahami sebagai gejala mistis bukan sebagai gejala perubahan masyarakat.

    Sebagai rekomendasi baca buku The Power of Al fatihahnya Prof Dr M Amin aziz, lihatlah apa penyebab keterpurukan umat Islam disitu.
    http://WWW.poweralfatihah.com

    Tanggapan:
    Ketika melihat sebuah posting saya di komentari dan di situ tercantum nama dan nama link yang sangat luar biasa, segera saya ikuti link itu dan browsing serta membuka-buka beberapa tulisan (tentu belum semuanya). Setelah itu, Saya yang sudah bukan siapa-siapa menjadi jauh merasa lebih kecil dari yang saya rasakan. Terima kasih atas pencerahanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s