Sinetron Islami Jadi Tren

riantisandra dewimarshandazaskia meccaluna mayatiti kamal

Sukses film Islami layar lebar, seperti Ayat Ayat Cinta dan Kun Fay Kun, mulai merambah layar kaca. Di beberapa stasiun televisi mulai banyak tayangan sinetron relijius Islami. Bakal jadi tren?

RCTI, misalnya, bekerja sama dengan Sinemart kembali memproduksi sinetron religi Hamba Hamba Allah. Tontonan bernapaskan keislaman ini mulai menjumpai pemirsa tiap Senin-Sabtu pukul 18.00 WIB. Program baru ini hadir di layar RCTI menggantikan slot sinetron Gara Gara Cinta .

Boleh jadi, sinetron relijius ini mengikuti jejak keberhasilan sinetron Munajah Cinta yang sudah tayang lebih dulu, sejak 4 Mei silam. Ini diakui petugas humas RCTI Pudji Pramono. Ia membenarkan kehadiran sinetron Hamba Hamba Allah ini untuk mengikuti jejak Munajah Cinta yang cukup sukses. “Ya, tidak ada salahnya kan kalau keberhasilan satu sinetron, diikuti sinetron lain,” ungkap Pudji. Ia mengatakan Munajah Cinta menjadi tontonan favorit pemirsa RCTI. Tayangan itu kini selalu berada di jajaran 10 tayangan favorit pemirsa televisi. Pihaknya juga berharap Hamba Hamba Allah akan jadi tayangan yang disukai pemirsa. “Karena sinetron ini punya kekuatan cerita dan daya pikat para bintangnya,” papar Pudji.

Kehadiran dua sinetron religi ini telah mendorong RCTI menambah program bernapaskan Islam. Ini sekaligus diharapkan lebih mendekatkan pemirsa kepada Sang Pencipta. “Kedua sinetron Islami ini memang mempunyai nilai-nilai religius yang sangat bermakna dalam menjalani hidup,” kata

Harsiwi Achmad, Direktur Program RCTI.
Sinetron Hamba-Hamba Allah berdurasi 60 menit ini didukung artis-artis ternama seperti Dea Imut, Haykal Kamil, Teddy Syach, Astri Ivo, Rheina ‘Ipeh’, Iszur Muchtar, Joy Octaviano, Deni Malik, dan Opick. Bintang yang terakhir ini selama ini dikenal sebagai penyanyi lagu-lagu Islami yang tersohor lewat tembang Tombo Ati. Dalam sinetron ini Opick berperan

sebagai ustadz Jaelani. “Hamba Hamba Allah merupakan sinetron perdana dari Opick. Ia mulai memberanikan diri menjajaki dunia akting,” ujar

Pudji.
Di luar dugaan, ternyata sinetron bernapaskan Islami punya nilai jual. “Biasanya sinetron religi hanya meraih sukses jika ditayangkan di bulan Ramadhan, tapi hal itu tidak berlaku pada Munajah Cinta yang justru sukses di tengah maraknya sinetron remaja dan keluarga yang tayang di televisi,” papar Harsiwi. Munajah Cinta, lanjut Harsiwi, masuk dalam jajaran 10 besar rating AGB Nielsen. “Angka ini jadi bukti jika sinetron

bernapaskan Islam bisa diterima pemirsa,” ujar Harsiwi. Sinetron ini, katanya, memang memiliki daya pikat. Apalagi, dibintangi aktris yang tengah naik daun, yakni Rianty Cartwright, Zaskia A Mecca, dan Baim Wong. “Tidak bisa dimungkiri popularitas Rianty Cartwright dan Zaskia A Mecca setelah bermain dalam Ayat Ayat Cinta menempatkan keduanya menjadi idola masyarakat,” ujar Harsiwi.
Deddy Mizwar yang banyak memproduksi sinetron reliji kemasan komedi menyatakan rasa senangnya dengan kondisi itu. “Yah, sekarang tayangan relijius bukan hanya konsumsi saat Ramadhan saja, tetapi juga hari-hari biasa. Itu bagus karena kita memang mempunyai penduduk Muslim dalam jumlah cukup besar,” ungkapnya.
Sambutan yang sama pun datang dari Chaerul Umam. Ia menyatakan, sinetron Islami memang harus jadi tren, karena jumlah penduduk beragama Islam memang lebih banyak. Namun, kata dia, membuat sinetron yang benar-benar Islami tidak terlalu mudah. Salah satunya adalah pengadeganan yang diusahakan 99% Islami. Tidak bisa dipungkiri, katanya, saat ini terjadi kontradiksi di sinetron Islami kita. Ceritanya Islami tapi pengadeganannya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Misalnya berpelukannya antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim.

Chaerul Umam mengaku sedih melihat kenyataan ini. “Karenanya, sinetron Islami yang mulai banyak ditayangkan di layar televisi harus benar-benar menjaga nilai-nilai keislamannya,” ungkap Mamang, sapaan akrabnya.

Namun Mamang merasa senang karena sinetron Islami saat ini memang tidak lagi bicara soal azab dari Allah, seperti yang jadi tren pada 2007. Saat itu banyak sinetron bernapaskan Islam yang kebablasan. Ia mengungkapkan banyak sinetron Islami cenderung hanya menunjukkan hukuman yang menyakitkan dari Allah. “Padahal, kan Allah juga amat banyak memberikan kesenangan kepada kita. Kenapa yang diungkapkan hanya azab Allah saja, berkahnya tidak pernah?” katanya. Sudah begitu, katanya, banyak rumah produksi yang menggarap sinetron religius nyaris sama dengan sinetron misteri. “Nah, kalau sekarang beda, karena kemasannya soal percintaan,” ungkapnya Mamang.

sumber: www.waspada.co.id

Mengkritisi Sinetron Religi

Sinetron Religi adalah Sinetron yang menjadikan agama sebagai topik sentralnya. Saat ini cukup banyak sinetron religin yang ditayangkan di berbagai stasiun televisi Indonesia. Mulai yang mengangkat kisah nyata, fiksi sampai yang melegenda dan penuh misteri. Legenda-legenda di masyarakat yang berbumbu agamapun juga kerap hadir mewarnai pertelevisian tanah air.

Keberadaan sinetron religin ini cukup membawa angin segar bagi industri persinetronan tanah air. Dulu dinetron di Indonesia hanya didominasi oleh sinetron remaja dan percintaan. Namun, kemasan yang disajikan sinetron religi sepertinya perlu di kritisi agar di kemudian hari dapat dihadirkan dengan lebih baik dan bermanfaat utamanya bagi peningkatan akhlak bangsa yang sudah mulai bobrok ini.
Kebiadaban Sinetron Religi
Inilah yang penulis soroti saat melihat aneka macam epidose yang ditayangkan Sinetron religi. Kekerasan dan Kebiadaban. Apalagi jika tema utamanya adalah hukuman bagi orang yang berdosa, maka adegan-adegan kelicikan, kekerasan dan kebiadaban seakan selalu kita temui dalam tiap adegan.

Mungkin sutradara sinetron ingin menunjukkan sosok yang kejam, bengis dan layak untuk diadzab langsung. Namun, hikmah yang ada justru berbalik, karena dalam waktu bersamaan ditampilkan sosok yang lemah dan tak berdaya serta tak ada semangat perlawanan sebagaimana sifat seorang muslim sejati. Hampir bisa dipastikan di tiap episode, orang yang taat beribadah, beriman bahkan seorang ustad sekalipun harus tunduk, menyerah dan tak melawan saat dijadikan bulan-bulanan si jahat.

Memang hal ini tak dapat dihilangkan, karena tak mungkin memberi penjelasan di dalam sinetron (memberi semacam tulisan mungkin), namun setidaknya porsi kekerasan sebaiknya dikurangi atau diganti dengan adegan lain misal cerita yang berkembang di masyarakat, dll. Dan penulis pikir, untuk menunjukkan seseorang berwatak jahat, tak harus membutuhkan lebih dari tiga perempat jam tayang. Dalam durasi 5–10 menit penulis rasa sudah cukup.

Satu hal lagi yang perlu disoroti adalah proses pertaubatan dari jahat menjadi baik. Biasanya si jahat begitu mudah beralih dari jahat ke baik. Hanya lewat doa dan sholat malam si baik, lalu sim salabim si jahat tiba-tiba jadi baik. Padahal dalam kehidupan hanya, proses perjuangan membuat seseorang bertaubat tak cukup dengan hanya doa, namun terkadang perlu jihad dan tindakan nyata.

Bila dirangkum dalam sekali episode, adegan yang menunjukkan kasih sayang dan ketentraman hanya berkisar 2–5 menit saja. Itupun diletakkan di akhir cerita bahkan terkadang dibuat semacam cerita terputus sehingga penonton tak mampu mengambil hikmah dan manfaat suatu pertaubatan.

Perbaikan Kualitas Sinetron Religi
Untuk itu penulis rasa perlu adanya suatu perbaikan kualitas dalam penyajian Sinetron Religi. Penulis pikir ada begitu banyak tema dan cerita yang terjadi di Masyarakat yang dapat dijadikan sebagai bahan cerita. Lihatlah bagaimana seorang yang dulunya napi, kemudian bertaubat, mengumpulkan napi-napi yang lain membentuk usaha kerajinan dan sukses menembus pasar ekspor. Satu lagi cerita perjuangan seorang muslim mulai dari gerobak dorong, hingga menjadi restoran yang memiliki cabang dimana-mana. Atau kisah orang-orang yang terbelit hutang, yang kemudian mampu lepas dari cengkraman hutang dan menjadi pengusaha sukses.

Penulis pikir sudah saatnya masyarakat kita dicekoki dengan optimisme, ide-ide segar dan cemerlang. Cukup sudah menakut-nakuti rakyat dengan cerita-cerita yang tak bermanfaat. Saatnya memberi harapan pada masyarakat bahwa sukses itu bukan impian tapi mampu diraih oleh siapa saja.

Artikel ini mungkin takkan dibaca oleh para sutradara atau produsen sinetron. Tapi bagi anda yang membaca penulis berikan sedikit saran. Kritisi benar-benar apapun yang diberikan oleh televisi kepada kita. Sehebat apapun cerita yang diberikan, bentuklah pola pikir bahwa itu hanya cerita dan dampingilah putra-putri kita saat menontonnya.

sumber: darman-online.blogspot.com

Advertisements

One comment

  1. “Lewu tatau habaras bulau habusung hintan hakarangan lamiang
    “Lewu tatau dia rumpang tulang rundung raja dia kamalasu uhate”

    Salam dari tanah Borneo nan kaya raya dengan rakyat jelatanya yang kian menderita.

    Tukar link or visit : //diarypuan.wordpress.com

    Keep Rise for established Khilafah Islamiyah. Arigatou Gozaimasu.
    ~Mia Hideaki San~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s