Membuat Bioskop

Kalau kita amati saat ini orang sudah mulai berdatangan kembali ke gedung film (maksudnya nonton bioskop). Meskipun DVD/VCD berikut playernya beredar murah di masyarakat Namun orang tetap saja datang ke bioskop.

Orang ke bioskop sekarang ini tidak semata-mata nonton, tapi mereka ingin menikmati “experience” dalam menonton bioskop. Dan Indonesia sekarang ini justru masih miskin bioskop. Menurut Raam Punjabi: Indonesia Miskin Bioskop.
Kapanlagi.com

Ram Punjabi: Kapanlagi.com

Kapanlagi.com – Perkembangan perfilman nasional dinilai produser dan ‘Raja Sinetron’, Raam Punjabi, masih belum diimbangi dengan jumlah bioskop yang ada. Ia bahkan berpendapat bahwa Indonesia adalah negara yang miskin bioskop.

“Dengan populasi 230 juta jiwa, jumlah total bioskop sebanyak 473 hanyalah sebesar nol koma sekian persen kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas hiburan film,” kata Raam dalam acara bedah buku 100 Tahun Bioskop di Indonesia karya H M Johan Tjasmadi di Jakarta, Senin (28/4).

Sehubungan itu, bos Rapi Film itu mengatakan, upaya memajukan industri perfilman nasional mutlak dilakukan dan harus didukung semua pihak termasuk pemerintah.

Menurut Raam, semakin banyak produksi film berkualitas dan sekaligus disukai masyarakat akan mendorong pertumbuhan gedung bioskop. “Kalau film hidup, bioskop pun hidup,” katanya.

Menurut dia, terbitnya buku sejarah 100 Tahun Bioskop di Indonesia akan memberi manfaat besar bagi industri hiburan itu sendiri, karena ada banyak sekali pengetahuan yang dapat dipelajari. “Paling tidak untuk bahan dasar penulisan selanjutnya,” katanya.

Buku karya Johan Tjasmadi mengungkap tidak hanya sejarah bioskop di Indonesia, tetapi juga pengalaman sang penulis sebagai pengusaha bioskop selama 50 tahun terakhir, sebagian besar ketika menjabat ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia sejak 1970-1999.

Pengusaha yang memulai karir tahun 1954 sebagai tukang sobek tiket di bioskop Garden Hall (sekarang TIM 21) ini juga membeberkan pengetahuannya tentang keterkaitan film laris dan logika penonton, serta tanggung jawab pembuatan film dari segala aspek kehidupan masyarakat, budaya, dan bangsa.

Menurut buku itu, jumlah bioskop pada masa Hindia Belanda (1900-1942) mencapai 300 gedung kemudian merosot drastis hingga tersisa 52 di era Pendudukan Jepang, dan sampai saat ini jumlahnya tidak lebih dari 473.

“Padahal jumlah penduduk terus bertambah, sekarang sudah sekitar 230 juta orang,” pungkas Raam. (*/boo)

sumber tulisan : kapanlagi.com

Tulisan lain yang berkaitan dengan perkembangan bioskop di Indonesia, misalnya:

Pola Konsumsi Film Terus Bergeser

Punahnya Bioskop Primadona

Seabad Kehadiran Bioskop di Indonesia

Sejarah Film & Bioskop di Indonesia…

Bioskop di Jakarta Pun Dulu Pisahkan Pria dan Wanita

Advertisements

One comment

  1. Pak ram,sy salah seorang penggemar flm2 anda.sy jg salah seorang yg punya mslh pribadi yg rumit.jika boleh dan diterima sy ingin menumpahkan smua unek2 sy.bgmn ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s