Gedung Film

Mungkin saat bioskop-bioskop Indonesia kehilangan penontonnya, tidak ada yang membayangkan nantinya akan muncul bioskop-bioskop mewah dengan kursi empuk yang lebar dan karcis seharga 10 piring nasi dan ayam goreng di warung Padang. Tapi hal yang tak terbayangkan itu kini benar-benar terjadi.

Kini, bioskop dengan kursi empuk dan berpendingin adalah hal biasa. Pilihan tontonan hingga empat film dalam satu waktu adalah kemestian. Orang tak pelit lagi untuk membeli tiket bioskop, meski mereka punya televisi kabel dengan puluhan kanal, pemutar VCD dan DVD, bahkan bioskop kecil di rumah sendiri.

Tontonan menarik semakin banyak di luar gedung bioskop, tapi kenapa kini orang kembali meramaikan gedung bioskop? Alasannya bisa bermacam-macam. Erwin Agus, misalnya. Meski ia menghabiskan Rp 150 juta untuk dua home theater (yang satu dengan proyektor 100 inci dan lainnya dengan televisi 50 inci) serta satu car theater, ia tetap saja pergi menonton bioskop.

Kegilaannya ini membuatnya mencoba hampir semua bioskop menengah atas di Jakarta, termasuk MPX di Pasaraya Grande dan Studio XXI. “Saya membeli tiket untuk sound-nya,” kata Erwin tentang alasan utamanya menonton di bioskop. “Dulu Plaza Senayan dan Planet Hollywood bagus, tapi sekarang saya lebih suka yang di MPX.” Bagaimanapun tata suara merek Bose yang dibelinya masih kalah jauh dibandingkan tata suara bioskop.

Di luar masalah tata suara, pria yang suka bermain biliar ini juga ingin menikmati film dengan lebih tenang. “Kalau di bioskop kita lebih serius nonton-nya. Lebih terfokus. Di bioskop kita tidak bisa istirahat dan terpaksa duduk selama 1 jam 45 menit tanpa beranjak,” katanya. “Lagi pula, di bioskop kan nggak ada gangguan. Beda dengan di rumah yang selalu ada gangguan. Kalau di rumah juga kita tergoda untuk istirahat.” Karenanya, ia lebih senang pergi seorang diri agar tidak ada gangguan.

Arif Firmansyah, 25 tahun, sependapat dengan Erwin. Bioskop, baginya, adalah tempat memanjakan mata dan telinga. “Kalau film bagus, gue harus nonton di bioskop,” kata manajer fitness ini. “Kalaupun VCD-nya ada di depan mata, gue nggak bakal tonton di rumah. Sayang, kalau film bagus ditonton di rumah. Nggak puas.”

Tapi masalah tata suara dan kualitas gambar bukanlah satu-satunya alasan. Bagi Anita Setiawati, 21 tahun, sesuka apa pun ia pada suatu film, ia tetap harus mengajak pacar atau teman. Ia tidak sudi untuk menonton sendiri hanya demi mendapatkan tontonan yang menarik. “Ih, kayak orang gila,” katanya. “Nggak pernah gue nonton sendiri. Bosan lagi nonton sendirian, kayak orang nggak punya teman saja.” Dia lebih baik membayari tiket teman daripada harus menonton sendiri.

Arif bahkan menjadikan gedung bioskop sebagai salah satu bagian penting dari daftar tempat yang dikunjunginya saat berkencan. “Nonton itu sudah keharusan dalam date, terutama kalau date pertama,” kata pria berbadan tegap ini. “Date pertama itu pasti komunikasinya kan kurang baik, nah itu bisa diakali dengan nonton.”

Yang lebih mendekatkan tontonan dengan gaya hidup memang Studio XXI. Selain memanjakan penonton dengan kursi seperti kursi pesawat terbang kelas utama, mereka juga menyediakan kafe yang lumayan mewah di ruang tunggunya. Dan yang terpenting, Studio XXI terletak di Plaza X-Center yang kelak menjadi pusat nongkrong-nya anak muda Jakarta. MPX mungkin memang memanjakan penonton yang mengutamakan tontonan seperti Erwin (dia kurang senang tata suara Studio XXI), tapi bagi mereka yang menganggap kegiatan menonton adalah bagian dari pergaulan, seperti Anita dan Arif, Studio XXI adalah pilihan yang sangat tepat.

Kini, bioskop bukan sekadar tempat menonton film. Bukan lagi jendela dunia. Kalau memang begitu, pasti tidak ada kafe bagus di ruang tunggu sinema. Bioskop adalah gaya hidup orang kota kelas menengah. Layar lebar yang tak dikombinasikan dengan gaya hidup kota tidak akan hidup. Lihatlah, kemewahan bioskop di kota besar tak berdampak bagi sekaratnya bioskop di kota kecil. Mungkin benar apa kata Alfredo, pemutar proyektor dalam Nuovo Cinema Paradiso, “Bisnis bioskop gaya lama tinggal kenangan.”

ditulis oleh: qaris tajudin, selengkapnya di sini

gambar dari tempo photo stock

Advertisements

2 comments

  1. Paling manstabs, Studio XXI EX.
    Kursi empuk, tata suara T O P B G T.
    Buat Erwin Agus nih -mudah-mudahan aja pas search namanya sendiri di Google keluar halaman ini :), sistem tata suara semahal apapun kalo ga diimbangi dengan keadaan ruangannya akan tidak maksimal. Misalnya dinding yang sejajar, penempatan speaker, material dinding, itu semua akan sangat mempengaruhi kualitas ruangan yang dihasilkan. Baiknya ruangan di treat khusus, misalnya dilapisi absorber dan diberi duffuser.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s