Multiplex Grande Di luar Akal Sehat

Bintang-bintang tidak selamanya ada di langit. Mereka bisa pula berada di telapak kaki Anda. Namun, fungsinya tetap sama seperti bintang-bintang di kelam malam, yakni sebagai penunjuk arah. Tebaran bintang itu bisa kita temui di Multiplex Grande. Bioskop yang bersemayam di Pasaraya Grande Blok M ini mengambil motif bintang untuk karpetnya. Karpet itu berwarna biru dengan motif bintang putih persegi lima. Seperti bendera Amerika?

Nuansa Amerika sebenarnya sudah terlihat semenjak kita lepas dari tangga berjalan menuju ruang lobi bioskop. Pendar lampu berkedip mengelilingi beberapa poster di sisi kanan, tepat dekat bagian informasi. Dengan melihatnya, pikiran kita seakan ditambat dengan aroma Las Vegas, pusat judi Amerika Serikat. Sedangkan tempat pembelian karcis terlihat lengkungan-lengkungan aneh yang menyekat tiap loketnya. Lengkung berwarna kuning itu semakin melebar ke atasnya.

Masih di ruang lobi, ada kafe dan tempat membeli cemilan. Di masing-masing dinding terpasang poster beberapa lukisan kenamaan, salah satunya karya Vincent van Gogh Beach at Saint Marie. Sedangkan di bagian atas sisi pintu masuk, terpajang dua layar televisi besar yang menyuguhkan video musik. Yang jelas, begitu kita masuk kawasan ini, sepertinya ini bukan di Indonesia, apalagi di Blok M. Yang masih tertinggal nuansa Indonesianya adalah manusia-manusia yang hilir mudik di ruang ini. Itu pun sesekali terlihat orang-orang bule.

Menurut R. Trianggono, General Manager PT Multiplex Grande, desain sepenuhnya dikerjakan arsitek Filipina. Dasar pengambilan desain sendiri dipilih berdasar keunikannya. “Saya yakin belum ada di Indonesia yang seperti ini,” papar Trianggono di ruang kerjanya. Ia mengambil contoh pengambilan warna-warna kursi di bioskopnya. Dari ruang sinema yang ada, masing-masing memiliki warna kursi yang berbeda yakni merah, maroon, biru, hitam, dan ungu. “Sehingga jika ada barang yang ketinggalan, orang tersebut bisa langsung tahu, di teater mana dia menonton,” jelasnya.

Bioskop ini memang menyajikan desain yang unik, dan mungkin tak terbayangkan oleh kita sebelumnya, karena rancangannya seperti diluar akal sehat. Begitu kita masuk lorong setelah karcis disobek oleh gadis-gadis dengan rok terbelah, terhampar ruang seperti kabin pesawat, tepatnya seperti pesawat ruang angkasa yang banyak ditemui di film-film Hollywood–gadis penyobek karcis tadi lalu disebut pramugari. Di tiap dindingnya yang berwarna kuning itu, dipajang poster-poster film klasik. Sedangkan di sudut antara lantai dan dinding, keluar cahaya lembut yang memberi nuansa futuristik.

Jalur masuknya sendiri ada dua, yakni untuk penonton pemegang tiket Gold dan Diamond. Jalur yang tadi, digunakan untuk penonton jenis Gold. Di ruang Gold, penontonnya lebih banyak. Jumlahnya bervariasi dari yang 53 hingga 236 tempat duduk. Di ruang Gold tersedia kursi cinta (love seat). Kursi ini didatangkan dari Prancis, negeri para petualang “hati”. Kursi tersebut menggunakan penyangga tangan yang bisa ditarik ke atas, sehingga batas antara kursi satu dan yang lainnya tidak ada. Bagi sepasang kekasih, kursi ini tepat untuk menatap layar sambil berpelukan.

Sedangkan di ruang Diamond, kursinya lebih santai dan privat. Kursi besar berjumlah 24 itu dilengkapi pengatur sandaran dan penyangga kaki secara elektrik. Tinggal tekan tombol di penyangga tangan sebelah kanan, dan sandaran pun membawa punggung Anda secara santun turun kebawah. Dengan cara yang sama, penyangga kaki akan keluar dari sela kursi bawah. Lalu, bersiaplah menikmati sinema dengan tata suara yang teredam.

Dinding di ruang-ruang ini dibuat kedap suara, sehingga tepuk tangan pun tak kan menggema, apalagi sekadar berbisik. Temboknya disusun terlapis dengan urutan glasswool, kayu, glasswool, dan ditutup dengan kain. Jika tangan kita iseng meraba dinding, ada kalanya akan menemukan lubang dibalik kain-kain itu. Lubang itu berfungsi untuk menjerumuskan suara dan tak akan memantul kembali.

Sebagai pelengkap peredam suara, dipajang speaker sebanyak 24 buah. Sepuluh di depan, lima di samping kanan dan kiri, dan dari tembok belakang ada empat buah. Sehingga, di posisi manapun kita duduk, kualitas suaranya tak jauh berbeda.

Untuk ruang Diamond, komposisi speakernya berbeda. Ruang yang lebih kecil itu dipajang enam speaker di depan, masing-masing tiga di sayap kanan-kiri, dan dua di belakang.

Berbicara masalah bioskop, mau tak mau kita membicarakan proyektor. Proyektor THX digital ini bisa menyalurkan sorot cahaya ke enam teater dalam waktu bersamaan. Tentu saja dengan film yang sama. Teknologi THX pertama kali dilontarkan George Lucas, sineas spesial efek kenamaan Hollywood. Teknologi buatan Lucasfilm ini pertama kali digunakan untuk memutar film Return to Jedi pada 1983. Kini teknologi itu menjadi standar penyajian sinema berkelas, termasuk di Multiplex Grande. anggoro gunawan/tempo news room

Artikel aslinya ada di korantempo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s