Surga itu seperti apa? Tidak ada yang tahu kecuali Allah Yang Maha Tahu. Adas tulisan menarik di sufinews.com anekdot tentang surga:

Surga Allah Ibarat “Puncak”

Dalam sebuah pengajian, Ustadz Madun membahas soal balasan orang-orang yang beramal saleh.

“Kalian harus tahu, orang yang banyak beramal saleh dan selalu taat pada perintah Allah akan dibalas dengan surga,” ujar sang Ustadz.
“Bagaimana gambaran surga menurut Pak Ustadz?” tanya seorang jamaah.
“Sungguh, saya sendiri sebenarnya tidak tahu, karena saya belum pernah menikmati surga.”

“Apakah benar surga Allah seperti banyak diceritakan dalam al-Qur’an?” tanya yang lain.
“Wah, itu juga saya tak tahu. Tapi saya punya gambaran surga itu mungkin ibarat kawasan Puncak di Bogor sana.”
“Kok bisa begitu?”
“Lha, al-Qur’an mengatakan bahwa surga itu yang banyak pohon rindang dan di bawahnya ada air yang mengalir. Kira-kira begitu, kan?”
“Iya, tapi masak cuma begitu?” jamaah tambah penasaran.

“Surga yang diceritakan dalam al-Qur’an itu menurut saya hanyalah sebuah metafor, bukan gambaran surga yang sebenarnya. Sementara surga yang sesungguhnya hanya Allah yang tahu. Jadi saya mengibaratkan surga itu kira-kira sama seperti kawasan Puncak yang indah, dingin, sejuk, dan banyak kedamaian di dalamnya. Kenapa Allah menggambarkan surga seperti (dalam al-Qur’an) itu, karena turunnya ayat tersebut di daerah gurun pasir yang tandus dan gersang. Jadi Allah mengimingi-imingi kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya bahwa surga itu kira-kira demikian,” papar sang Ustadz. Para jamaah tampak lega sekalipun masih diliputi tanda tanya.

Temen saya nyleneh juga, sambil bercanda mealah mengatakan bahwa surga itu seperti “kulkas”: sejuk, ada makanan, buah-buahan segar, ikan, air dingin dan macem-macem.

Kita ini memang aneh. Maunya surga, tapi mau tahu dulu surga itu seperti apa. Wah, emang mau beli sepatu. Dicoba dulu, cocok pas baru beli !!!!.

Gak penting surga itu seperti apa yang pasti bahwa kita diwajibkan untuk beribadah, berbuat baik, beramal sholih, dan melakukan kebajikan lain, kerjakan itu. Tidak seharusnya mengerjakan sesuatu amal tetapi menghitung-hitung balasannya.