e-book depdiknas: download buku pelajaran gratis

Salut dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Depdiknas yang telah mebeli hak cipta atas banyak buku-buku pejaran sekolah. Dengan begitu buku bisa menjadi lebih murah karena bisa download sendiri alias bisa cetak sendiri.

Hebatnya lagi, kalau tidak salah Depdiknas juga mengijinkan untuk memperdagangkan hasil download kita sesuai dengan Harga Eceran tertinggi (HET). Nah, buat yang kurang kerjaan seperti Anda dan Saya yang tiap hari nongkrongin komputer, mungkin ini bisa jadi sambilan buat nambah income. Bagaimana menjualnya? Terserah Anda dan Bravo Depdiknas.

SILAHKAN DOWNLOAD GRATIS ebook.depdiknas

Ada juga yang menanyakan apakah Buku Sekolah Elektronik: Terobosan yang Jitu dan Visioner?

Depdiknas telah meluncurkan Buku Sekolah Elektronik (BSE). Ada dua fasilitas yang disediakan dalam website tersebut, yakni Download dan Baca Online. Menurut Mendiknas, Bambang Sudibyo, masyarakat luas dapat mengakses secara gratis buku dalam bentuk elektronik atau ebook melalui website Depdiknas. Guru, murid, pemerintah daerah, ataupun pengusaha diperkenankan untuk mengunduh, meng-copy, mencetak, menggandakan, bahkan sampai memperdagangkannya. Buku yang diterbitkan secara online tersebut, menurut Mendiknas, merupakan buku-buku yang telah dibeli hak ciptanya oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang telah dinilai kelayakannya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pemerintah menargetkan untuk membeli sebanyak 200 hak cipta buku pada Agustus 2008.

Di tengah wacana pembelajaran elektronik yang kini tengah hangat diperbincangkan, langkah Depdiknas lewat BSE-nya memang bisa dibilang sebagai terobosan yang jitu dan visioner. Melalui BSE, masyarakat luas yang memiliki fasilisitas internet dapat mengunduh dan membaca buku-buku teks, mulai jenjang SD hingga SMA/SMK, secara gratis. Bahkan, mereka yang memiliki naluri bisnis, bisa memanfaatkan fasilitas tersebut jadi memiliki nilai jual.

Di tengah mahalnya harga buku yang dinilai memberatkan orang tua/wali murid, BSE bisa dianggap sebagai upaya untuk menyiasati kegelisahan orang tua. Bayangkan saja, di SMP ada sekitar 12 mata pelajaran. Kalau harga sebuah buku, misalnya Rp30.000,00, praktis setiap awal tahun pelajaran orang tua mesti mengeluarkan uang dari koceknya sebesar Rp360.000,00. Itu baru alokasi dana untuk membeli buku, belum terhitung pengeluaran untuk membayar SPP, seragam, atau keperluan sekolah yang lain. Memang, selama ini pemerintah telah memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, tak sedikit sekolah yang masih tetap memungut biaya dengan dalih macam-macam. Begitulah kenyataan “pendidikan biaya tinggi” yang mesti dihadapi oleh orang tua.

Dari sisi ini, kehadiran BSE bisa dianggap sebagai upaya untuk meringankan beban orang tua dalam memenuhi kebutuhan buku teks untuk putra-putrinya. Yang jadi persoalan adalah, sudahkah penyediaan fasilitas elektronik semacam itu diimbangi dengan intensifnya sosialisasi dan pelatihan bagi para guru dan siswa?

Kita harus jujur mengakui, kesenjangan desa-kota selama ini masih sangat lebar. Bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah perkotaan yang sudah demikian akrab dan mudah dalam mengakses internet, kehadiran BSE jelas akan memberikan dampak positif dalam mendukung kegiatan pembelajaran. Di bawah bimbingan guru, para siswa bisa diajak bersama-sama untuk mempelajari buku secara online, membahas dan mendalaminya secara bersama-sama, melakukan diskusi secara dialogis dan interaktif, sehingga atmosfer pembelajaran pun menjadi lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Namun, bagaimana halnya dengan sekolah-sekolah pinggiran yang masih jauh dari sentuhan internet? Alih-alih koneksi internet, perangkat komputer saja masih banyak yang belum memilikinya. Sekolah-sekolah pinggiran semacam itulah yang perlu mendapatkan perhatian dan subsidi lebih optimal untuk mengatasi lebarnya kesenjangan desa-kota. Selain itu, website BSE juga belum didukung dengan software yang praktis dan memudahkan bagi publik dalam mengaksesnya. Proses download dan membaca online-nya tergolong berat. Dengan menggunakan software adobe flash player, akses terhadap BSE cenderung melelahkan dan memboroskan bandwith. Memang tampilannya menarik dan interaktif. Namun, hal itu tak akan manfaatnya jika masyarakat luas mengalami hambatan teknis dalam mengaksesnya.

Di tengah peradaban global, memang sudah saatnya sekolah mulai melirik pembelajaran elektronik sebagai upaya untuk melahirkan generasi-generasi masa depan yang tidak “gagap” teknologi; generasi yang mampu berpikir global dan bertindak lokal. Untuk itu, perlu ada sosialisasi dan pelatihan secara intensif tentang pembelajaran berbasis Teknologi dan Informasi (TI) kepada para guru agar mampu memanfaatkan media tersebut secara kreatif dan inovatif. Mudah-mudahan kehadiran BSE menjadi awal yang bagus dalam mempersiapkan generasi masa depan yang cerdas, terampil, kreatif, dan beradab, lewat sentuhan teknologi elektronika yang mencerahkan. ***

sumber: sawali.info

Tapi sayang sekali bahwa sosialisasi buku elektronik ini masih sangat kurang, seperti apa yang lansir oleh liputan6.com

Sosialisasi Buku Elektronik Minim

Liputan6.com, Jakarta: Langkah Departemen Pendidikan Nasional untuk memudahkan para siswa dengan meluncurkan buku sekolah elektronik ternyata belum tersosialisasikan dengan baik. Minimnya sosialisasi terlihat di Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Jakarta Selatan. Padahal, SMAN 6 dikenal sebagai sekolah unggulan yang tenaga pengajar dan sebagian besar muridnya sudah terbiasa mengakses internet.

Namun, keberadaan buku elektronik itu tak diketahui mereka. “Belum. Bahkan, kami baru tahu dari SCTV mengenai hal ini,” kata Hamid. S, staf Hubungan Masyarakat SMAN 6, Senin (21/6) pagi. “Misalnya pemerintah mengeluarkan buku elektronik, itu merupakan sebuah bantuan.” Sejauh ini, pihak sekolah masih menggunakan buku paket biasa.

Buku sekolah elektronik diperuntukkan agar proses pendidikan lebih cepat dan hemat. Dengan mengakses http://www.depdiknas.go.id, para siswa bisa langsung melihat buku yang diperlukan dan mencetaknya tanpa dipungut biaya. Tapi sayang, pada kenyataaannya justru banyak sekolah yang masih asing dengan buku sekolah elektronik.(BOG/Nova Rini dan Hengki Rahman)

sumber: liputan6.com

Catatan Saya : Sungguh amat sangat disayangkan download-nya agak lambat, barangkali Diknas aja yang download sendiri dan dibagikan secara gratris ke sekolah-sekolah)

2 comments

  1. Slm. Salut dengan program e- book depdiknas dan Alhamdulillah saya bisa download dengan mudah tp gimana caranya untuk mendapatkan kaset atau CD untuk listeningnya. Terima kasih sebelumnya untuk infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s