Buku tentang Kehidupan Geisha

Buku pertama, “Memoirs of a Geisha” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan jauh lebih populer daripada buku kedua “Geisha of Gion”.

Perbedaan lainnya adalah yang pertama adalah karya fiksi sedangkan yang kedua adalah benar-benar memoar dari Geisha terkenal Mineko Iwasaki.

Hal yang menarik yang menghubungkan kedua buku ini adalah Mineko Iwasaki. Beliau merupakan salah satu narasumber Arthur Golden untuk penulisan buku fiksinya, “Memoirs of a Geisha”.


Tragisnya, yang mendorong beliau menulis buku memoar adalah ketidak-akuratan yang diceritakan Arthur Golden di buku fiksinya. Ibu Iwasaki kecewa sekali dengan cara Arthur Golden menggambarkan geisha. Di buku fiksi tersebut, geisha (seniwati) digambarkan tidak ada bedanya dengan Tayu (pelacur tingkat tinggi). Walaupun banyak tayu yang pintar menari, menyanyi, dan memainkan alat musik, tidak ada satupun yang berhak disebut geisha. Geisha harus membuktikan dirinya sebagai seniwati yang mumpuni di bidang yang dipilihnya, entah penari, pemain alat musik, atau penyanyi dengan melewati ujian bertahap yang berat di hadapan komite seni Jepang dan tingkah laku mereka terikat kode etik yang ditetapkan oleh asosiasi Geisha.

Di buku “Memoir of a Geisha” kita diajak mengikuti hidup Geisha Kyoto, Sayuri Nitta dari kota kelahirannya di Yoroido kemudian besar di Kyoto dan akhirnya hidup di New York sampai akhir hayatnya. Chiyo (nama kecil Sayuri) dijual ke okiya oleh orang tuanya ketika ia berusia 9 tahun. Pertama-tama masa depannya terlihat suram, tetapi setelah Mameha, seorang geisha terkenal mulai melindunginya dan menjadi kakak angkatnya, ia berkembang menjadi maiko ( di buku ini didefinisikan sebagai calon geisha yang spesialisasinya menari) yang menjanjikan. Walaupun dimulai dengan berbagai penderitaan, Sayuri berhasil mendapatkan impiannya, hidup dengan pria yang dicintainya.

Buku ini menggambarkan betapa beratnya hidup Sayuri ketika hendak menjadi geisha. Di sini Arthur Golden menggambarkan geisha sebagai seniwati yang tidak hanya pintar menari, tetapi juga menyanyi dan bermain alat musik. Di lain pihak Arthur Golden juga menggambarkan geisha sebagai budak yang dieksploitasi okiyanya, sebagai contohnya okiya berhak melelang kegadisan geisha dan seberuntung-beruntungnya geisha, ia hanya bisa menjadi simpanan pria yang dicintainya.

Sebaliknya, di buku memoar Mineko Iwasaki, kita diajak melihat kehidupan sebenarnya seorang geisha. Hal pertama yang menonjol, Mineko tidak dijual orang tuanya ke okiya, ia memilih tinggal di okiya karena satu-satunya cara untuk menjadi penari Noh Mai (salah satu jenis tari-tarian di Jepang) adalah dengan pindah tinggal ke okiya. Hal ini disebabkan pendidikan untuk menjadi geisha sangat ketat dan hanya dengan tinggal di okiya hal tersebut dimungkinkan. Dari buku ini okiya terlihat lebih mirip seperti asrama elit putri, beda sekali dengan yang digambarkan di buku Arthur Golden. Di buku tersebut okiya digambarkan seperti rumah pelacuran tingkat tinggi. Tinggal di okiya bukanlah hal yang menyengsarakan, salah satu keberhasilan Mineko adalah berkat kerjasama staff okiya dalam mengurus pendidikannya.

Sejujurnya saya agak kecewa dengan Bapak Golden. Beliau adalah ahli tentang budaya Jepang. Kesalahpahaman yang ada di bukunya benar-benar tidak masuk akal. Buat saya, beliau sengaja mengaburkan fakta yang ada untuk menghasilkan buku yang menarik. Memang dengan mengaburkan dan mengabungkan tayu dan geisha ke satu profesi, profesi tersebut menjadi kontroversial dan menarik untuk diceritakan. Jika ia mengambil mentah-mentah kisah geisha, yang didapat adalah kisah yang mirip kehidupan Mineko Iwasaki, yang relatif tidak bergejolak dan penuh kasih sayang. Bukan resep untuk buku yang sukses.

Mineko lahir dari keluarga aristokrat, seperti juga kebanyakan geisha-geisha lainnya. Dulu, ketika belum ada universitas untuk bidang seni, menjadi geisha adalah salah satu cara para wanita untuk mendapat pendidikan yang terbaik di bidang seni, tidak heran banyak keluarga terpandang yang rela mengirim anaknya ke okiya sejak usia 4 tahun. Mineko mulai belajar menari dari begawan tari Noh Mai di Jepang sejak berusia 6 tahun. Karena berbakat, pada usia 15 tahun ia sudah mulai menjadi maiko (penari semi-profesional) dan pada usia 21 tahun berhasil menjadi geiko (penari profesional) nomer satu di Gion, Kyoto. Ibu angkatnya Masako, adalah jikata (pemusik), geisha yang spesialisnya bermain alat musik, hal ini sangat menguntungkan karena mereka dapat sering berlatih bersama. Mineko menari, Masako mengiringinya dengan musik. Di dunia geisha, pewaris okiya adalah geisha paling berbakat di okiya tersebut dan geisha tersebut diangkat anak oleh pemilik okiya saat itu. Menjadi geisha merupakan impian banyak gadis, selain itu menikah dengan geisha merupakan hal terhormat di Jepang. Geisha tidak saja seorang seniwati tapi juga terpelajar, kenal banyak orang penting, kaya dan mandiri.

Ada satu keanehan di dunia geisha yang memicu kesalahpahaman antara Geisha dan Tayu. Pada acara-acara festival, geisha tidak dibayar ketika menari, menyanyi, dan bermain alat musik. Padahal orang-orang membayar tiket masuk yang sangat mahal untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Sayangnya uang tersebut jatuh ke tangan orang lain (di buku ini Ibu Iwasaki tidak menyebutkan siapa orang-orang tersebut, tapi ia mencela orang-orang yang menjadi sangat kaya akibat sistem ini). Terpaksalah para geisha mencari cara lain untuk mendapatkan uang untuk membiayai gaya hidup mereka yang mahal. Kimono, alat musik, pelajaran seni bukanlah hal yang murah. Pendapatan terbesar geisha datang dari sponsor (beberapa geisha menjadi bintang iklan), sumbangan pencinta seni, dan bayaran dari menghibur tamu di pesta-pesta. Nah, yang dua terakhir ini yang sering memicu kesalahpahaman. Penghasilan tayu juga didapat dari menghibur tamu-tamu di pesta (tentunya dengan cara yang lain) dan dari “sugar daddy”. Pencinta seni sering disalah artikan sebagai “sugar daddy” para geisha, yang tentu saja sangat berbeda.

Ibu Iwasaki selama bertahun-tahun berusaha mengubah sistem yang tidak efisien dan merugikan geisha ini selama bertahun-tahun. Sistem ini menempatkan geisha di posisi yang sulit, geisha tidak bisa hidup dari hanya mengandalkan kemampuan seninya tetapi harus melakukan hal-hal lain untuk bertahan hidup, yang sesungguhnya membuat diri mereka tidak bisa berkonsentrasi penuh pada seni. Lelah berjuang, ibu Iwasaki melakukan protes yang kontroversial. Pada puncak karirnya sebagai penari terkenal ia mengundurkan diri dan menutup okiyanya (yang merupakan salah satu okiya terpenting di Kyoto). Sayangnya protes ibu Iwasaki tidak mengubah sistem banyak.

Kesalahpaham tentang geisha menyebarluas ke seluruh dunia. Salah satu contoh yang dialami Mineko adalah ketika ia diundang untuk menghadiri jamuan makan resmi bersama Ratu Elizabeth di Jepang. Ketika itu ia adalah penari Mai terbaik di Kyoto dan untuk menghormati ratu Elizabeth, pemerintah Jepang mendudukan ia di sebelah ratu. Yang ada, Ratu Elizabeth tidak sudi mengobrol, menengok pun tidak mau. Tampaknya Ratu Elizabeth mengira dirinya pelacur tingkat tinggi.

Saran saya, bacalah buku “Memoirs of a Geisha” sebagai hiburan, tetapi jika ingin tahu kehidupan geisha sesungguhnya bacalah “Geisha of Gion, the memoir of Mineko Iwasaki”.

Sumber Tulisan: wrm-indonesia.org

pictures taken from amazon.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s