Menelusuri Dunia Geisha

LATAR BELAKANG

Banyak hal menarik yang bisa menjadi bahan kajian dari masyarakat Jepang. Kecuali perkembangan ilmu dan teknologinya yang semakin sophisticated, juga hal-hal yang menyangkut budaya dan tradisi. Berbeda dengan negara-negara lain yang melakukan modernisasi dengan menyingkirkan tradisi, jepang adalah sedikit negara yang bisa melakukan keduanya secara bersama-sama.

Salah satunya adalah tentang Geisha. Nama ini amat identik dengan Jepang, bahkan dalam beberapa segi telah menjadi ikon yang sangat populer. Geisha sangat menarik untuk dikaji karena memiliki kandungan yang kompleks menyangkut perspektif gender, potret kelas sosial masyarakat, tradisi dan seni budaya, serta sisi gelap lainnya berupa prostitusi, bahkan belakangan berkaitan dengan fenomena trafficking atau perdagangan manusia.


PERUMUSAN MASALAH

Dengan menyimak latar belakang masalah seperti terurai pada paragraph terdahulu, dapat dirumuskan masalah yang muncul sebagai berikut :

Apakah Geisha itu?
Apakah Geisha itu pelacur?
Apakah yang menyebabkan munculnya geisha?
Bagaimana peran Geisha di masa sekarang?

TUJUAN PENELITIAN

Makalah ini diangkat dari penelitian sederhana dengan tujuan :
Untuk mengetahui apakah sesungguhnya geisha itu?
Untuk mengetahui apakah geisha itu pelacur, ataukah sekedar wanita penghibur.
Untuk mengetahui sebab-sebab munculnya geisha
Untuk mengetahui peran geisha pada masa sekarang

METODOLOGI PENELITIAN

Kajian pustaka
Wawancara dengan nara sumber

E. URAIAN MASALAH

Dunia geisha adalah sebuah wilayah yang kompleks dan penuh teka-teki utamanya masyarakat luar. Sebagian orang melihat geisha merupakan sisi gelap masyarakat modern Jepang, tetapi masyarakat, negara dan pemerintah Jepang sendiri tidak pernah mempersoalkannya. Geisha yang sulit dilacak secara pasti tahun-tahun kemunculannya, sampai sekarang tetap eksis dengan perlindungan hukum penuh. Dalam banyak hal negara bahkan memanfaatkannya.

Sumber-sumber literer juga tidak terlalu banyak mengungkap tentang geisha. Buku-buku tentang Jepang modern yang ditulis oleh para sosiolog seperti Michio Nagai, Kenneth B. Pyle, atau Tadashi Fukutake, tidak pernah menyinggung soal geisha[1]. Kita menemukan uraian tentang geisha secara komprehensif justru pada buku fiksi Memoirs of A Geisha, (1997), karya sejarawan Arthur Golden. Walaupun fiksi, tetapi data dan peristiwa yang tersaji diakui sebagai sebuah fakta, tetapi demi menjaga nama baik nama-nama tokoh di Jepang yang masih hidup yang muncul dalam buku tersebut, maka banyak nama yang disamarkan. Buku itu pulalah yang menjadi sumber telaahan utama tulisan ini.

I. Apakah Geisha itu?

Geisha berasal dari kata gei yang berarti seni, dengan akhiran sha di belakangnya geisha dengan demikian sesungguhnya berarti seniman.[2] Memang ia seorang seniman karena untuk memperoleh predikat geisha ia harus menguasai begitu banyak aspek seni.

Seorang geisha harus menguasai banyak hal dari dunia seni seperti menari, menyanyi, memainkan musik, bermain teater, memakai kimono, merias wajah dengan makeup tebal dan dandanan rambut yang rumit, menuang sake dengan cara yang anggun dan sesensual mungkin, bercerita tentang banyak hal dari sastera hingga sejarah, memakaikan jas dan sepatu tamu, dan banyak lagi.

Penguasaan aspek-aspek seni itu tidak diperoleh dengan sembarangan, atau sekedar memperoleh ketrampilan sambil lalu, tetapi harus ditempuh lewat pendidikan formal sekolah geisha. Di sekolah tersebut, yang bisa memakan waktu hingga tiga tahun, seorang geisha belajar banyak hal aspek-aspek kebudayaan Jepang.

Untuk belajar musik saja misalnya, seorang geisha tidak cukup satu jenis musik yang dipelajari. Selain shamisen (alat musik petik), juga belajar tsutsumi atau gendang kecil atau gendang sedang yang disebut okawa atau gendang paling besar yang disebut taiko, serta seruling Jepang yang disebut fue. Geisha harus belajar memainkan semua instrumen ini, meskipun pada akhirnya kepadanya akan disarankan untuk mendalami secara khusus salah satu atau dua instrumen saja.

Itu semua dipelajari karena geisha memiliki tugas paling utama sebagai penghibur. Dengan segala kemampuan yang dimiliki ia bekerja memberikan hiburan menemani kaum laki-laki di rumah-rumah minum (café), atau pada upacara-upacara lainnya yang berlanjut dengan pesta di rumah minum atau di rumah tempat tinggal.

Sebagaimana kita tahu, masyarakat Jepang memiliki tradisi seni kuliner minum teh yang sudah turun temurun dari satu generai ke generasi lainnya. Traidi minum the ini biasa dilakukan di rumah-rumh tempat tinggal. Tetapi di rumah-rumah minum para lelaki Jepang lebih suka menenggak minuman keras bernama sake. Di rumah minum inilah, para geisha akan memberikan layanan jasanya kepada para tamu, dari sekedar menemani duduk, mengantarkan tamu ke toilet, menuangkan sake ke dalam cangkir, bercerita, bermain kartu, menyanyi, dan menari.

Untuk bisa masuk ke rumah minum juga bukan pekerjaan yang mudah. Walapun ia sudah tamat sekolah geisha, ia harus magang terlebih dahulu sebagai calon geisha atau geisha magang selama beberapa tahun kepada geisha senior dengan diangkat sebagai adik. Dengan cara magang inilah diharapkan ketika ia tampil menjadi geisha mandiri, ia sungguh-sunguh telah memiliki berbagai ketrampilan yang mumpuni. Hal itu diperlukan karena mereka yang akan dihibur bukan sembarang lelaki yang memiliki uang untuk membayar biaya pelayanan rumah minum, tetapi para lelaki dari kalangan atas apakah pebisnis, selebritis, hingga pejabat-pejabat pemerintahan.

II. Apakah Geisha itu Pelacur?

Pertanyaan ini paling banyak muncul ketika kita menyebut geisha. Para geisha sendiri—tentu saja—tidak mau disebut pelacur. Budayawan Sutanto, yang banyak mendalami kebudayaan Jepang dengan tegas mengatakan bahwa geisha tidak sama dengan pelacur. “Pelacur bisa hanya mengandalkan kecantikan wajah dan olah tubuh, sedangkan geisha soal kecantikan hanyalah salah satu persyaratan. Ada jasa kemampuan yang dijual, bukan menjual tubuh”kata Sutanto.[3]

Sedangkan Mami Kato, seorang wanita ekspatriat dari Jepang mengaku sulit menilai seorang geisha itu pelacur atau bukan. Sebabnya, hampir tidak ada wanita Jepang—apalagi ibu rumah tangga—yang tahu tentang dunia geisha kecuali para pelaku.”Dunia geisha hanya milik laki-laki dan pelaku saja. Selebihnya itu misteri karena bukan sebuah dunia yang terbuka untuk umum”ujarnya.[4]

Arthur Golden yang lama mendalami tentang dunia geisha pun tidak memberikan jawaban secara pasti:

“Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Geisha yang disebut “hot spring geisha” atau geisha sumber air panas, yang menghibur di tempat-tempat peristirahatan, jelas pelacur. Tetapi anda harus melihat betapa memeainkan shamisen, dan betapa banyak pengetahuan mereka tentang upacara minum teh, sebelum Anda menentukan apakah mereka layak menyebut diri mereka sendiri sebagai geisha. Namun, bahkan di distrik geisha di Kyoto dan Tokyo dan kota-kota besar lainnya, jelas terdapat sejumlah pelacur”. [5]

Kesulitan memberikan jawaban bisa dipahami karena dalam perikau dan kejadian tertentu, banyak hal yang menghubungkan geisha dengan dunia pelacuran.

Pertama, rekruitmen geisha tidak selamanya terbuka. Tidak jarang para calon geisha itu diperoleh melalui proses perdagangan manusia. Si calon geisha tidak sadar bahwa dirinya sedang menjadi obyek perdagangan, karena pelakunya adalah para anggota sindikat yang memperdaya orang tua anak yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Kedua, geisha selama masa persiapan, masa sekolah, hingga benar-benar menjadi seorang geisha tinggal di sebuah gion atau semacam rumah penampungan. Di dalam gion itu, ada induk semang yang disebut IBu, yang berkuasa penuh atas gion seisinya, termasuk para geisha, geisha magang, dan para pembantunya. Ibu inilah yang mengurus segala keperluan geisha termasuk mengatur pemasukan dan pengeluaran. Semua biaya hidup dan pendidikan geisha, bahkan mungkin pelanggaran-pelanggaran yang bisa dinilai dengan uang, ditanggung oleh Ibu, tetapi itu semua dihitung sebagai hutang. Bila nanti geisha sudah menghasilkan uang, mula-mula digunakan untuk mengembalikan hutang yang dimiliki seorang geisha.

Ketiga, dalam dunia geisha dikenal sebuah peristiwa yang disebut sebagai mizuage, yaitu peristiwa “memerawani”. Ini dilakukan oleh seorang geisha magang yang dianggap sudah layak menjadi seorang geisha yang sesungguhnya. Orang berhak melakukan mizuage adalah siapa yang berani membayar harga paling tinggi. Tetapi setelah mizuage antara antara geisha dan pembayar tertinggi tidak ada ikatan apapun. Peristiwa ini bisa dibandingkan dengan “bukak klambu” dalam inisiasi seorang ronggeng atau penari kesenian tradisional dengan iringan angklung dan gendang di daerah Banyumas. Untuk memenuhi syarat sebagai ronggeng, ia harus melakukan upacara bukak kelambu atau malam pertama. Lelaki yang berhak melakukan bukak kelambu adalah yang mau membayar paling mahal di antara para lelaki penawar.[6] Dalam kasus geisha, peminat mizuage melakukan transaksi dengan pemilik gion atau induk semang, sementara sang geisha hanya mendengar angka-angka transaksi tetapi tidak melihat uangnya.

Keempat, seorang geisha dalam menekuni pekerjaan sehari-hari memang sebatas memberikan pelayanan jasa hiburan memlalui ketrampilan yang dimiliki. Sedangkan dalam konteks sex, seorang geisha akan dianggap sukses bila memiliki danna, yaitu lelaki yang memberikan perlindungan baik secara mental maupun materiil. Seorang geisha akan dianggap gagal bila ia tidak memiliki seorang pria yang bertindak sebagai pelindungnya dan membiayai pengeluarannya. Pria ini akan menjamin hidupnya tetap elegan, dan sebagai gantinya si geisha akan memberikan layanan seksual, hanya untuk si pria yang disebut danna. Apakah ini pelacuran? Bagi Arthur, tidak, dalam arti yang sama sebagaimana pemahaman kita di Barat, di mana pelacur melayani berbagai pria setiap malam. Baginya, geisha kelas atas dapat disamakan dengan istri simpanan, dan bukan pelacur.

III. Apakah yang Menyebabkan Munculnya Geisha

Ada beberapa analisis tentang sebab-sebab munculnya geisha. Salah satunya adalah karena masyarakat Jepang tidak menerima kehidupan poligami. Sebagai kompensasinya, para laki-laki Jepang memiliki wanita simpanan. Geisha inilah yang dijadikan sebagai wanita simpanan karena memiliki sejumlah kelebihan seperti usianya yang lebih muda daripada isteri di rumah, berparas cantik karena secara otomatis telah melalui seleksi di antara para calon geisha, serta memiliki kemampuan aneka seni yang tidak dimiliki oleh isteri di rumah.

Kondisi tersebut bertemu dengan kemiskinan masyarakat Jepang di masa lalu. Para geisha, betapapun ia bukan pelacur, tetapi jarang sekali berasal dari keluarga mampu, bangsawan, tuan tanah, atau saudagar. Kebanyakan geisha berasal dari keluarga miskin, yang dijual oleh orang tuanya kepada makelar guna menutup kebutuhan hidupnya yang sulit.

“Di masa lalu geisha jelas bukan pilihan. Kemiskinanlah yang memaksa wanita Jepang untuk menjadi seorang geisha. Tetapi sekarang motivasi sudah berubah. Boleh jadi menjadi geisha adalah sebuah pilihan, di tengah beragamnya aneka pekerjaan. Dunia geisha menawarkan kemungkinan hidup jauh lebih baik tanpa harus bekerja keras. Apalagi bila bisa dijadikan isteri simpanan oleh lelaki kaya raya atau pejabat tinggi, tentu ini sebuah situasi yang sangat diharapkan”kata Mami Kato.

IV. Bagaimana Peran Geisha di Masa Sekarang

Ini sebuah pertanyaan menarik karena setelah berlangsung sekian decade bahkan abad, dunia geisha tetap bertahan. Mengagumkan karena begitu banyak jenis hiburan di masa serbatekonologi ini, tetapi geisha tetap eksis. Memang jumlahnya merosot tajam dibandingkan pada masa-masa sebelum Perang Dunia II. Satu gion saja sebelum PD II mencapai 800 orang, sedangkan pada tahun 1980 an hanya 60 an dengan hanya ada beberapa geisha magang.

Yang menarik bahwa belakangan pelanggan geisha tidak hanya para lelaki Jepang, tetapi kaum pria dari negara asing yang sedang melakukan urusan bisnis atau sekedar melakukan kunjungan wisata pun “disuguhi” geisha di café-café dengan penampilan modern. Di New York bahkan telah lahir beberapa café yang juga meneyediakan puluhan geisha.

Rupanya, selain menjadi wanita seniman penghibur, di masa sekarang geisha telah berperan menjadi pelobi bisnis antarperusahaan dan antarnegara. Sebuah rumor yang beredar luas, bahwa isteri Bung Karno asal Jepang, Kartika Sari Dewi, juga seorang geisha, dengan misi memperlancar arus investasi Jepang di Indonesia tahun 1960-an. Perlu sebuah penelitian untuk membuktikan kebenaran rumor ini.

Yang perlu menjadi pertanyaan serius adalah, apakah ada hubungan antara dunia geisha dengan maraknya trafficking (perdagangan orang) belakangan ini? Sebuah data menunjukkan, bahwa Indonesia telah hadir menjadi penyuplai korban trafiking bersama Vietnam dan Kamboja. Sedangkan salah satu negara tujuan utama adalah Jepang. Diduga, wanita-wanita korban trafiking ini dijadikan “geisha” di Jepang.[7]

Mami Kato tidak menampik kemungkinan ini. “Sekarang wanita Jepang sudah banyak pilihan profesi, tidak harus menjadi geisha betapapun miskinnya. Untuk memenuhi kebutuhan geisha bisa saja mendatangkan dari negara lain”tuturnya.

Persoalannya, wanita-wanita muda yang datang ke Jepang tidak memiliki ketrampilan aneka seni, tidak pernah magang, dan tidak pernah menempuh pendidikan pada sekolah geisha. Jadi, geisha macam apakah yang didatangkan dari luar Jepang?

Apakah para korban trafficking itu menjadi pelacur? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan kajian tersendiri untuk memperoleh jawabnya.

KESIMPULAN

Jepang merupakan satu dari sedikit negara yang bisa melakukan proses modernisasi tanpa menggusur nilai-nilai tradisi. Salah satunya adalah dunia geisha yang muncul sejak berabad-abad lalu hingga kini masih bertahan walaupun melalui berbagai modifikasi dan improvisasi.
Geisha sesungguhnya seniman yang menjual jasa hiburan kepada para pelanggannya di rumah-rumah minum. Tetapi belakangan menimbulkan tafsir lain yang mendekati dunia prostitusi, karena geisha harus melakukan upacara mizuage dan hampir semua geisha yang sukses harus memiliki danna.

Di masa lalu geisha muncul karena keterpaksaan akibat kemiskinan masyarakat Jepang. Tetapi belakangan geisha merupakan sebuah pilihan profesi. Praktek geisha tidak hanya di gion-gion, tetapi di hotel-hotel dan tempat mewah lainnya. Peran geisha di masa lalu semata-mata menjadi wanita penghibur, tetapi di masa sekarang sangat mungkin mengalami pergeseran peran sebagai jembatan lobi bisnis baik antarperusahaan maupun antar negara.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmad Tohari; Ronggeng Dukuh Paruk, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1985.
2. Golden, Arthur; Memoirs of a Geisha, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006.
3. Fukutake, Tadashi; Masyarakat Pedesaan di Jepang, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1989.
4. Fukutake, Tadashi; Masyarakat Jepang Dewasa Ini, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,1998.
5. Nagai, Michio; Pergulatan Jepang dalam Modernisasi Pendidikan, Gramedia, Jakarta,1993.
6. Pyle, B., Kenneth; Generasi Baru zaman Meiji, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998.
7. Wawancara dengan Sutanto, Magelang, tanggal 22 Desember 2007.
8. Wawancara dengan Mami Kato, Magelang, tanggal 22 Desember 2007.

[1] Dari empat buku karya mereka (Lihat daftar Pustaka), tak satu pun kata geisha terdapat dalam Indeks.
[2] Arthur Golden; Memoirs of a geisha, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006, hal. 152.
[3] Sutanto, wawancara penulis dengan penulis, di Studio Mendut, Magelang, 22 Desember 2007.
[4] Mami Kato, wawancara dengan penulis, di Magelang, 22 Desember 2007.
[5] Arthur Golden, op.cit, hal. 489
[7] Tubagus rahmat Sentika, Trafficking Mengancam Anak-anak, makalah seminar, Jakarta, 2005.

Mohon ijin dari penulis aslinya, Bapak Hadi Supeno untuk mengcopy-paste tulisannya di sini dan bagi yang ingin melihat tulisan aslinya dapat dlihat di hadisupeno.multiply.com

Advertisements

4 comments

  1. wow, two thumbs up for the GEISHA. it’s not that easy to learn so many art works, but they can do it well. serendah apapun pandangan publik tentang Geisha, saya tetap salut banget dengan kehidupa mereka. buat saya, Geisha adalah wanita yang cerdas, anggun, sekaligus tangguh.
    semoga publik tidak hanya menyoroti sisi buruk Geisha.
    NOBODY IS PERFECT, right?
    Smile…….

    jwb: agree

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s