MPX Grande, Tempat Duduknya Nyaman

MPX Grande, Tempat Duduknya Nyaman Coy!

Sabtu malam Minggu kemarin, ketika saya di Jakarta, saya kontak salah satu rekan saya yang berkecimpung di dunia bioskop. Wew.., rupanya yang bersangkutan sedang sakit typhus. Cepet sembuh ya . Tapi beliau kemudian merefer saya untuk kontak satu kawan saya juga, berinisial DW. Akhirnya, malam Minggu kemarin itu, saya jadi berkesempatan nonton film di MPX Grande. Entah mengapa.., akhir-akhir ini saya sedang keranjingan membandingkan bioskop-bioskop yang ada di Bandung dan Jakarta. Ini terjadi sejak adanya Blitz Megaplex di Bandung, sampai-sampai harus nonton Casino Royale hingga 3 kali.

Tadinya disarankan untuk menonton di teater-1 yang sudah berstandar THX, tapi rupanya animo malam Minggu kemarin adalah Indihe. Jadi yang diputar adalah film India: Eklavya. Bintang filmnya sih Amitabh Bachchan, Sanjay Dutt, sangat terkenal. Tapi, acha, acha, mosok ah nonton film drama di THX, Indihe lagi.., heheh. Rupanya.., tuntutan pasar adalah segala-galanya. Saking hebatnya tuntutan pasar, theater kelas atasnya pun (Diamond) diputar film tersebut. Dan memang luar biasa.., baru kali ini lihat orang India banyak banget.., hehehe.. Ya sudah, jadinya saya nonton di teater-3 saja, kebetulan sedang memutar film yang ingin sekali saya tonton, yaitu Flags Of Our Fathers.

Kalau saya perhatikan, interior lobby MPX kental dengan nuansa Amrik sono. Mulai dari signbox film-filmnya, sampai area menuju teaternya, yang didesain mirip ruang dalam pesawat terbang. Masuk teater-3, kapasitas tempat duduknya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 50-an tempat duduk.

Impresi pertama saya adalah tempat duduknya nyuaman banget ya.. (kalau orang Sunda bilang: “nyelegon”). Untuk ukuran saya saja yang pantatnya bahenol, masih ada jarak sisa dengan handrest. Handrest-nya juga berukuran lebar sekali, kira-kira 2-3 kali handrest yang ada di bioskop 21. Kalau Anda pernah naik sedan Mercedes dan duduk di belakang, kira-kira handrestnya sebesar itu lah.

Handrest tersebut juga dapat dilipat ke antara sandaran kursi, jadi kalau buat yang pasangan, hmmm, bisa duduk lebih dempetan tuh . Tapi konsekuensinya, cup holder jadi diletakan di belakang kursi yang ada di depan kita, bukan di kursi yang kita duduki sendiri. Akibatnya, kalau di kegelapan musti meraba-raba mencari lubang tempat minuman atau pop corn tersebut, dan kita harus memajukan badan kita ke depan untuk meraih minuman. Untuk urusan ini, grup 21 yang paling ok. Minuman tepat ada di sisi atas dengkul kita, tinggal ambil, pop corn juga tinggal comot, karena ukurannya rada pas dimasukan ke cup holder. Kalau di Blitz, cup holder agak di bawah dengkul.

Rupanya, di MPX sudah sejak awal, kursi tempat duduknya dibuat curam. Jadi lebih nyaman karena pandangan kita ke layar tidak terhalang kepala orang lain. Di teater-3 ini, layarnya berbentuk datar, bukan cekung seperti layaknya di bioskop grup 21. Saya tidak tahu apakah lensa proyektornya juga berbeda? Awalnya, karena arah sebaran cahaya dari lensa adalah berbentuk sedikit melingkar (alias cekung), maka layar bioskop terutama untuk layar yang sangat lebar, konturnya dibuat cekung. Ini untuk menghindari gambar menjadi blur di layar bagian kiri dan kanan layar (out of focus). Nah, saya masih belum dapat informasi, apakah sekarang sudah digunakan lensa tertentu yang dapat memproyeksikan cahaya dengan ketajaman fokus yang sama di semua area layar.

Layar berbentuk datar sangat nyaman kalau tempat duduk kita tepat tegak lurus dengan layar alias di tengah-tengah. Kalau kita duduknya rada kepinggir, maka layar akan terlihat agak trapesium. Distorsi trapesium ini agak berkurang di layar yang berbentuk cekung. Namun keunggulan utama dari layar cekung adalah masalah gain (penguatan). Dengan menggunakan layar cekung, maka sebagian besar cahaya akan dipantulkan kembali ke penonton. Efeknya akan didapat gambar yang lebih bright & contrast. Sedangkan dengan layar datar, maka untuk area lebih pinggir, cahaya akan dipantulkan ke arah luar dari layar (ke dinding), ini mengakibatkan adanya loss. Pengaruh layar cekung atau datar akan sangat terasa pada layar berukuran sangat lebar.

Kalau saya perhatikan, kualitas gambar di MPX-3 ini sudah bagus. Tidak ada area blur di pinggiran gambar film, karena area blur tepat jatuh di border hitam di sisi-sisi layar, jadi gambar film terlihat kotak dan rapi. Untuk audio, saya jujurnya tidak terlalu impresi. Untuk clarity, cukup bagus. Jauh lebih bagus dibandingkan sound di Blitz. Tidak mendem dan tidak “ngosom” (seperti suara yang keluar kalau kita ngomong di balik bantal). Untuk effect surround, juga cukup harmonis dengan channel depan, tidak terlalu dominan. Nada mid dan high cukup terakomodir dengan baik. Duduk berlama-lama menonton, tidak membuat telinga merasa lelah (ear fatigue). Jadi ga ada dongenglah di MPX-3 saya mesti keluar dari bioskop disaat film belum selesai, hehehe. Hanya sayang, untuk low, agak kurang tenaga, kurang tight.

Ada yang cukup unik di MPX Grande ini, yaitu saat announce pemutaran film, tidak terdengar lagi suara Maria Ontoe. Unik juga, karena announce agar penonton segera masuk ke bioskop dibuat dengan model boarding sign layaknya di bandara pesawat terbang. Ada 2 big screen yang menampilkan pemberitahuan tersebut. Nah, bagi yang terbiasa nonton di grup 21, hati-hati keasyikan ngobrol, tahu-tahu film sudah main. Namun, dari obrolan dengan Mr. R yang bertugas malam itu, hal ini sudah diantisipasi oleh pengelola MPX dengan menyiagakan petugas untuk juga memberitahu jika terlihat ada penonton yang belum masuk.

Mengenai sign “EXIT” tampaknya, semua bioskop belum bisa mengantisipasi cahaya “EXIT” yang menggangu di sisi layar tersebut. Bagaimana kalau dipindah tulisannya jadi lebih bawah lagi (lebih bawah dari layar)? Jadi ketika duduk lampu “EXIT” tersebut tidak terlihat dan tentunya tidak mengganggu konsentrasi mata menatap layar, tetapi kalau penonton berdiri ingin ke kamar kecil, tulisan jadi terlihat.

Ada satu lagi, kayaknya semua bioskop di Indonesia tidak memperhatikan jarak nyaman minimal untuk menonton. Kalau dihubungkan dengan sudut pandang mata manusia, tentunya ada jarak minimum antara penonton terdepan dengan layar. Kali ini, saya belum sempat buka-buka”primbon” perhitungannya. Next posting yah… hehehe.

Satu hal yang agak mengganggu dari MPX Grande ini, yaitu lokasi bioskop yang kurang strategis dan agak sulit untuk diakses. Kalau malam, dari Pasaraya saya harus melewati area gelap dulu. Ihh…, rada serem juga. Saya juga sempat kesasar salah naik lift. Di Pasaraya memang ada information board yang menunjukkan informasi bahwa MPX Grande terletak di lantai-9, tetapi saya sebagai orang baru, agak sulit mencari akses ke arah bioskop tersebut.

Hmmm, penasaran dengan MPX-1 dan MPX Diamond neh. Saya tidak tahu apakah Bung DW dan Bung IN akan memberikan kesempatan nonton di Diamond? Kalau MPX-1 dari segi kualitas audio, agaknya sudah tidak diragukan lagi, karena sudah bersertifikasi THX. Yang bikin penasaran adalah MPX Diamond. Menurut isu, untuk konsep bioskop mewah justru MPX Diamond lah yang menjadi pelopor, sebelum The Premiere di launch di Plaza Senayan atau bahkan jauh sebelum EX. Kalau lihat kursi yang dipajang di lobby, sudah terbayang bagaimana nyamannya nonton di MPX Diamond. Tapi.. apa ga jadi ketiduran ya..? Heheheh

sumber tulisan eepinside.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s