Ayah, Maafkan Ananda

Pagi baru saja tiba ketika aku sampai di kampung halaman. Dan Ayah dengan lemah menjumpaiku di ruang keluarga. Bergegas aku rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama.

Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ayah juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. “Alhamdulillah, kamu sudah pulang” itu ucapannya kemudian. Sudah lama tidak pulang.

Kemudian ia menyuruhku melakukan banyak hal.

Selepas maghrib. Tangan Ayah gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat aku tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?

“Dingin” bisikku, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ayah masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.

Adzan isya berkumandang,

Ayah berdiri di sampingku, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.

Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. “Duh Allah, sayangi Ayah” spontan saya memohon. “Nak.” suara ayah membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depaku, kebiasaan saat selesai shalat, aku rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya.

“Tangan ayah kenapa?” tanyakupelan. Sebelum menjawab, ayah tersenyum maniss sekali.

“Penyakit orang tua”

Sekarang tangan ayah hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga” tambahnya.

Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Aku memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis ayah sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan mengapakah aku seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untukku. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalanku. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak peciku ketika aku tergesa pergi surau. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika aku mencari kekuatan di pangkuannya saat hatiku bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang aku jalani.

Sewaktu akua baru memasuki bangku SMA dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ayah paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu ayah menyisipkan nasehat dan petuah yang sangat berharga.

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, aku masih merajuknya “Ayah, ikutlah ke Jakarta, biar dekat dengan Saya”. “Ah, Allah lebih perkasa di banding kamu, Dia menjaga Ayah dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, ayahakan lebih senang” Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas aku pergi. Ayah tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, aku merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat , aku reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untukku. Selagi sisa waktu yang aku punya masih ada, tangannya aku ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening ….

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s