You are currently browsing the tag archive for the 'renungan' tag.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS al-Isra` [17]: 23)

Read the rest of this entry »

Hari ini saya menerima email dari seorang temen di pamulang yang mengingatku agar menjadi seorang pribadi yang disukai. Sesudah aku buka email dan aku baca, terus aku browsing. Dan ternyata sudah banyak tulisan tentang ini, bahkan sama persis. Namun sebagai apresiasi dan penghargaan kepadanya saya post email tersebut.

10 Kiat Menjadi Seorang Pribadi Yang Disukai

Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat. Read the rest of this entry »

mungkin sekarang lagi stress

ilustrasi: mungkin sekarang lagi stress

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: ‘Seberapa berat menurut perkiraan anda segelas air ini?’ Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.

Read the rest of this entry »

Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia dibalik buah jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes perlombaan hasil pertanian. Petani itu mengaku ia sama sekali tidak mempunyai rahasia khusus karena ia selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya pada tetangga-tetangga di sekitar perkebunannya.

‘Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?’ tanya sang wartawan.

‘Tak tahukah anda?,’ jawab petani itu. ‘Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang keladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.’

Begitu pula dengan hidup kita.
Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula.

Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.

HIKMAH ‘UBASUTE NO HANASHI’

Dahulu kala di Jepang terdapat sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh para petani miskin yang disebut ‘Ubasute’, yaitu membuang orang tua mereka yang telah lanjut usia di daerah pegunungan. Hal ini dilakukan karena mereka terlalu miskin untuk menghidupi orang tua mereka. Cerita ini adalah cerita kuno dan di masa ini tentu saja tidak dilakukan hal seperti itu.

Ceritanya
Pada hari itu, seorang ibu tua dengan digendong oleh puteranya berangkat menuju gunung untuk ‘disisihkan’ . Namun selama perjalanan ia mematahkan ranting-ranting dan menjatuhkannya. Ketika ditanya oleh puteranya, ia menjawab, ‘Agar kau tidak tersesat pada waktu kembali ke desa’. Mendengar hal itu, puteranya terharu dan menangis lalu menggendong ibunya dan kembali ke rumah mereka.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisah diatas?
Tentu banyak sekali, melimpah bagaikan air yang mengucur, mengalir deras ke telaga hati. Betapa kasih sayang orangtua kita tak akan luntur sepanjang zaman, walaupun mungkin kita sendiri telah menjadi orang tua dari anak-anak kita

Setelah pasang surut kehidupan rumah tangga, aku sekali lagi mencoba dan berusaha keras melakukan hal-hal yang barangkali dapat aku lakukan untuk “mengambil hati istriku”. Akhirnya (setelah browsing kesana kemari), ada beberapa hal yang menarik untuk direnungkan dan dilaksanakan sebagai seorang suami:

• Mempelajari dan memperhatikan apa yang disukai oleh istri.
• Memanggil istri dengan sebutan-sebutan indah / yang dia sukai.
• Mendengarkan dengan baik dan segenap perasaan ketika istri berbicara, terutama pembicaraan yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang dia hadapi dan berkeinginan untuk meminta pendapat serta pemikiran anda.
• Jagalah kebersihan badan. Hiasi dan perindah penampilan agar dikagumi oleh istri.
• Buatlah istri merasa terhormat dan dibanggakan dan keberadaannya dalam rumah adalah hal penting
• Selalu menyebutkan hal-hal yang baik tentang istri ketika berada di depan keluarganya ataupun keluarga anda, baik dia hadir saat itu atau tidak.
• Suami tak boleh egois dan harus pandai menjaga perasaan istrinya.

ilustrasi gambar diambil dari sini

Ayah dan Ibu kini telah tiada. Aku mencoba menggambarkan bagaimakah gerangan ayah dan ibu bercerita kepadaku tentang makna kasih sayang beliau kepadaku.

Ispirasi tulisan diambil dari website yang (maaf kepada pemilik aslinya) tertutup browsernya sebelum saya sempat manempatkan link di sini.

Nak, sebelum kamu lahir ke dunia, ayah dan ibu dalam kehidupan yang sangat sederhana. Dalam kesederhanaan itu, kami memohon kepada allah agar kami dikaruniai anak-anak yang sholih dan sholihah, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan belajar. Read the rest of this entry »

Begitulah, agar tulisan di sini selalu membuatku mengingat tempat-tempat indah, tempat aku dapat saling mengirim embun, juga matahari ke seluruh dunia.

Friends

  • 431,188 and counting

Online