You are currently browsing the tag archive for the 'Puisi' tag.
Ia tidak harus berbalut sutera untuk terlihat menawan,,,
Ketika busana panjang tanpa pita2 pun mampu menembus kabut pesona zaman,
Ia tidak harus mendongakkan kepala untuk menyirat kehormatan..
Ketika tunduknya hati dan pandangan menempatkan diri pada kemuliaan..
Ia tidak harus berhiaskan intan berlian untuk meraih keanggunan..
Ketika cahaya kesabaran akan meluruhkan kilaunya butiran tasbih mulia menghitung akhlaknya..
Titian menuju Ridha MU memang tidak dihiasi mawar melati dan sedap malam sekali-kali masih tercium harumnya, karena mungkin masih ada terjaga prilaku dan lisannya,,
Perjalanan menuju MU sangat panjang dan meletihkan,,
hanya mendung dan pelangi,,
hanya gelap dan terang,,
saling berganti menyapa,,
Ya Rabb…
Tanpa keridhan Mu, bisakah sedekah, shalat, dan sujudnya mengantar diri ke ujung pengembaraan pada MU??…
(kontribusi dari Risma W.)
Ini adalah sebuah puisi tentang seorang suami yang meminta ijin poligami kepada istrinya.
Puisi suami yg minta ijin poligami…
Istriku…,
jika engkau bumi, akulah matahari
aku menyinari kamu
kamu mengharapkan aku
ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
lantas aku ingat satu hal bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap aku sinari
Jadi..
Banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat
namun kejahatan yang paling nista adalah
kejahatan yang mengabaikan anak-anak
kita melalaikan mata air hayat kita
Kita bisa tunda berbagai kebutuhan kita
kebutuhan anak kita tak bisa ditunda
Pada saat ini tulang belulang sedang terbentuk
darahnya dibuat dan susunan syarafnya tengah disusun
Kepadanya kita tak bisa berkata
esok namanya adalah kini
(Gabriela Mistar, pemenang noobel sastra 1945, alih bahas oleh Taufiq Ismail)
Bila Tuhan cepat mengabulkan Doamu,
Maka DIA Menyayangimu
Bila DIA lambat Mengabulkan doamu,
Maka DIA Ingin Mengujimu,
Bila DIA Tidak Memgabulkan Doamu,
Maka Dia Merancang Sesuatu Yang lebih Baik Untukmu
Oleh karena itu,
Senantiasalah Bersangka Baik Pada ALLAH
Dalam Keadaan apapun
Seorang teman mengingatkan Saya melalui sebuah email

ilustrasi
Selepas tahajud, menjelang fajar menyapa bumi, aku merenungi segala sesuatunya. Mengangankan gerangan apa yang akan terjadi esok hari setelah embun pertama menetes. Rintik gerimis di luar, lirih senandung Madah Rasul, menyayat, mengiris jiwa kosong ini. Menemaniku dalam tangis dini hari ini.
Perjalanan masih jauh, jika memang aku harus terus berjalan, namun teramat banyak yang harus aku perjuangkan. Tidak saja hidupku sendiri, pun hidup orang-orang terkasih. Beban dalam perjalanan teramat berat. Sementara iblis laknat terus saja berbisik agar aku mengambil jalan pintas dalam segala hal, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan. Ah, bukankah itu belum tentu keinginanku? Read the rest of this entry »

Ada sekuntum hari
Dimana wanginya mengharumi bumi sepanjang waktu
Karena saat itulah kemahamurahan sang Khaliq berlimpah
Menyatu pada segala inti hidup
Adalah Ramadhan
Ia bertelaga bening
Airnya mutiara maghfiroh
Gericiknya dzikir dan tadarrus
Tepianya doa lemah lembut, lirih dan berpasrah hati
Siapa tak ingin jadi ikannya?
Mari berenang dengan kesunyian nafsu
Agar setiap sirip kita tak patah sia-sia
Ia rahasia
Tak sekedar lapar dahaga
Tapi sesungguhnya itulah hakekat cinta
Dan salah satu cara bertegur sapa dengan Alloh
Karena dengan lapar dan haus
Kita bisa lebih menyadari bahwa kita tak berpunya
Bisa lebih memahami
Bahwa kita tak lebih dari sebutir debu
Di antara kemahaluasan-Nya
Ia sepantasnya dirindukan
Karena ia lebih
Di cakrawala bertebar pengampunan, rakhmat
Dan segala kebaikan
Juga nuzulul qur’an dan lailatur qodar

photo: kutaikartanegara.com
pastilah engkau bersimpuh selalu mengingat nama-Nya
menyanyikan bait cinta kasih dan pujia-pujian untuk-Nya
andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu
pastilah engkau mengingat-Nya setiap saat
engkau rapikan sholatmu menjadi ala waktiha
tidak seperti selama ini yang hanya fi waktiha
atau bahkan terlalu sering engkau lupakan
sholatmu pastilah menjadi sangat berkualitas
khusu’, tawadhu’ sebagaimana seorang hamba
saat memohon sesuatu kepada Tuannya
merenungi akan sumpah yang terus saja engkau ingkari
ingatkah janjimu
bahwa sholatmu, ibadahmu, hidup dan matimu
hanya engkau serahkan kepada-Nya
andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu
pastilah rumahmu akan engkau hiasa dengan amal sholeh
engkau tak akan melepas sedetikpun tanpa melantunkan firman-firman-Nya
siang, malam senantiasa mengabdi pada-Nya
saat siang tiba,
engkau singkap lebih banyak waktu di antara urusan duniamu
untuk menyatakn cintamu kepada-Nya
saat malam tiba,
qiyamu lail menjadi akrab bagimu
andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu
pastilah engkau kenang kembali dosa-dosamu
durhaka kepada ayah bunda karena telah melupakan mereka
menangis karena tak sempat berziarah menabur doa untuk mereka
air mata membanjir dari matamu
membasahi hatimu yang penuh dosa dan nista
andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu
pastilah engkau akan bercucuran iar mata
mengharap, memohon untuk bertemu Ramadhan berikutnya
dengan nikmat yang telah engkau rasakan
Taqobbalallahu Mina Wa Minkum Shiyamanaa Wa Shiyamakum
Kullu’a Amin Wa Antum Bi Khoirin Minal Aidin wal Faidzin
Mohon maaf lahir & bathin

RSS - Comments
Top Comments