You are currently browsing the tag archive for the 'pendidikan' tag.
Salah satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya adalah upaya menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi kehidupan yang sarat dengan problema.
Cara terbaik untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak akan pertolongan Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu dipahamkan bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan seberat apapun akan bisa diselesaikan.
Read the rest of this entry »
Membentak anak, sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian orang tua. Saat melihat anak melakukan kesalahan, atau ketidakpatuhan, orang tua memang sering dibuat jengkel. Secara refleks, karena emosi, orang tua sering bermaksud ‘menasihati’, tapi diucapkan dengan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih sering dilakukan oleh orang tua yang temperamental.
Perhatikan contoh ini (dan masih banyak lagi tentunya):
“Bid…ayo mandi! Disuruh mandi saja kok malas amat!”, bentak ibu Abid (7) seraya menyeret paksa anaknya yang sedang asyik bermain.
“Fatma…jangan dekati kompor itu! Bahaya, tahu!”. Bentak ayah Fatma yang memergoki putrinya (4) sedang mengutak-atik kompor minyak. Ketika bocah kecil itu menangis mendengar bentakan ayahnya, sang ayah malah kembali membentak, “Heh…diam!” Si kecil pun semakin ketakutan.

Anak merupakan amanah Allah yang harus kita didik agar menjadi anak saleh yang dapat membantu orang tuanya menjadi ahli surga. Bukankah selain ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, doa anak yang saleh merupakan amalan yang tidak akan putus walaupun kita wafat kelak? Memang tidak mudah hanya sekadar mewujudkan cita-cita ini, kalau apa yang kita berikan kepada anak hanya berupa teori-teori hidup belaka.
Kenyataannya, orang tua perlu berkolaborasi serta memberikan dukungannya bila hendak menerapkan pola hidup yang Islami apalagi terhadap anak-anak. Jangan sampai kita salah dengan alasan untuk melindungi anak sementara di sisi lain kita tengah berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan kebenaran (Islam). Kekompakan orang tua dalam keluarga akan sangat membantu melahirkan anak-anak saleh. Oleh karena itu, salehkanlah diri kita dulu selaku orang tua. Jika kita, misalnya ingin anak-anak melaksanakan shalat wajib tepat pada waktunya maka kita pun harus menerapkan hal yang sama.
AL-UMMU MADROSATUN | Peran wanita sebagai ibu bagi anak-anaknya.
Ungkapan Al-Ummu madrosatun (Ibu adalah sekolah) alangkah luas maknanya.Dan di pundak ibulah terletak tanggung jawab perkembangan ruhiyah (mental),aqliyah (intelektual), dan jasadiyah (fisik) seorang anak terpikul. Seorang ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya dan rumah tangga suaminya. Dan ia akan ditanya oleh Alloh atas kepemimpinannya itu. Sebagaimana Rosululloh bersabda :
“Setiap manusia keturunan adam itu adalah pemimpin, maka seorang pria adalah pemimpin bagi keluarganya sedangkan wanita adalah pemimpin rumah tangga”. (HR. Ibnu Sunni dari Abi Hurairah). Read the rest of this entry »
Ananda, ayah tidak berpesan banyak kepadamu nak, hanya renungkanlah Nasehat Luqman untuk Anaknya seperti Firman Allah dalam Surat Luqman
Kewajiban bersyukur
Surat Luqman Ayat 12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Read the rest of this entry »
Menurut perspektif Islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani dan jasmani mereka berteraskan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al-Quran, Hadis dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan ” Insan Rabbani” yang beriman, bertakwa dan beramal soleh.
Falsafah pendidikan sebenarnya menekankan aspek rohani dan jasmani, sesuai dengan kejadian manusia itu sendiri yaang terdiri daripada roh dan jasad. Ianya melibatkan beberapa peringkat, bermula dari dalam kandungan sehinggalah ia lahir dan menjadi dewasa.
Ketika matahariku menyapa bumi di terik siang wilayah Jakarta Selatan, Putriku terlahir berkulit gelap. Lalu aku suarakan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kiri matahariku.
Beberapa saat kemudian, saya menemui ibunda matahari menunjukkan photo matahari kami kepadanya. Saya terharu, ibunda matahari menangis, mengeluarkan air mata, terharu. Saya faham dan mengerti bahwa itu adalah air mata kehagaiaan, air mata tanda syukur kepada Allah.
Ibunda matahari berkata: “Lihat anak kita hitam seperti ayahnya. Salah saya ketika hamil benci sama ayahnya.” Subhanallah, ibunda matahari benar, Sayapun mengiyakan. Ia memang legam.
Lalu kami beri nama putri kami Adara Kaila Nareswari. Nama yang kami persiapkan dan saya pilih setelah saya memohon petunjuk dan berdoa kepada Allah, melewati malam-malam sebagai suami siaga.
Lalu sayapun berangan jauh menatap ke depan. Ya Allah, saya ingin setiap ulang tahunnya tiba nanti dirayakan dengan pengajian khataman Al Qur’an semalaman. Saya berharap agar ia nanti memahami dan menjalankan hidup dengan bimbingan Kitabullah. Alangkah bahagianya kami ayah-bunda jika suatu saat nanti bahkan ia menjadi seorang yang hafal Al Quran.
Ya Rasulullah, Saya ingin menjadi ayah sebagaimana Engkau menjadi ayah ya Rasulullah. Engkau menggendong anak-anak dan cucu-cucumu, bahkan terkadang Engkau bermain berkejaran dengan mereka. Engkau tanami mereka dengan kecintaan kepada Allah. Engkau mendidik mereka dengan sempurna.
(Diilhami oleh Tulisan Neno Warisman yang berjudul “Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu”)

RSS - Comments
Top Comments