Tagged: pendidikan

Contohlah Ibu

Ketika mengunjungi keluarga anaknya (sebut saja keluarga Adinda), seorang nenek memberi selembar uang kertas kepada cucunya. Uang itu diterima oleh sang cucu tanpa mengucapkan terima kasih.

Adinda, sang ibu menegur, “Apakah baik bagi anak yang menerima pemberian tetapi diam saja? Coba, apa yang biasa ibu ucapkan apabila ayahmu memberi ibu uang?”

Anak itu berpikir sejenak lalu menjawab, “Oh ya, kalau menerima uang dari ayah, ibu selalu bilang ‘kok cuma segini, yah…????”

Komunikasi Orangtua dan Anak

Saat berkomunikasi maupun bernegosiasi, setiap orangtua punya gaya berbeda.

Ada yang hard bargainer, collaborator, conflict avoider, dan acoomodator. Teori ini muncul dilatarbelakangi pengamatan secara langsung oleh ahli atas perilaku orangtua terhadap anak-anaknya. Ada yang keras, selalu mendengarkan dan bekerja sama, senang menghindari konflik, atau malah selalu mengikuti kemauan anak. Sebenarnya, setiap gaya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut penjelasannya:

1. Hard Bargainer
Ciri-ciri:
* Bertipe keras. Jika memiliki pendapat dan keinginan, ia akan mempertahankan sekuat tenaga.
* Memaksakan kehendak karena semua aturan di rumah harus ia yang buat.
* Merasa jika pendapatnyalah yang paling benar, paling bisa mengatur.
* Sulit mendengarkan pendapat orang lain apalagi dari anak. Kalaupun mau mendengarkan, ia akan meminta alasan yang kuat dari anak.
* Senang mengancam dan memberi hukuman. Continue reading

Awas, teriakan dan pukulan bisa bikin anak bodoh

Buat yang masih suka berteriak dan memukul anak.

Cara mendidik anak dengan pukulan dan teriakan bisa menjadi salah satu penyebab anak menjadi bodoh. “Otak yang seharusnya dipakai untuk berpikir, hanya dipakai untuk mempertahankan hidup akibat pukulan dan teriakan,” kata Psykolog Ery Soekresno dalam seminar “Mendidik Anak Tanpa Pukulan dan Teriakan” di Aula Setda Pemprov Banten di Serang, Ahad (17/1).

Ery menyatakan, mendidik anak dengan cara pukulan dan teriakan memang bisa mempercepat anak untuk mengerti melakukan sesuatu tindakan, namun hal itu bukan suatu penyadaran terhadap anak, karena ada unsur keterpaksaan. Sebab, menegakkan disiplin dan aturan adalah melatih anak untuk dapat mengendalikan dorongan dari dalam dirinya sehingga tercapai tujuan yang mulia.

Menurut Erry, mendidik anak tidak sama dengan menghukum. Tujuan pendidikan adalah menjadikan anak bahagia dan produktif dengan cara memberikan hasil karya nyata. Jika mendidik dengan teriakan dan pukulan, maka yang bekerja adalah otak reftil yang ada di belakang. Anak jadi bodoh karena menggunakan otak itu untuk mempertahankan hidup.

“Anak hanya berpikir untuk mempertahankan diri, sulit berpikir yang lain. Pukulan dan teriakan sudah tidak cukup, tapi anak harus faham,” kata psykolog Kelompok Pecinta Pendidikan Bangsa (KPPB) tersebut.

Selain itu, Ery menambahkan cara mendidik anak dengan teriakan dan pukulan juga bisa mengakibatkan anak menjadi kurang percaya diri. Anak akan cenderung melakukan tindakan kriminal karena meniru perbuatan orang tuanya.

“Namun yang harus dilakukan orang tua adalah membuat aturan dan memberikan konsekuensi saat anak melanggar aturan, sesuai dengan apa yang dilanggarnya,” kata Ery. Seminar yang diselenggarakan oleh Taman Kanak Kanak Islam Terpadu (TKIT) Al-Izzah Serang ini diikuti ratusan ibu-ibu dari wilayah Kota Serang.(MI/BEY). metrotvnews.com

Mendidik Anak | Allah Selalu Bersamamu

Salah satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya adalah upaya menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi kehidupan yang sarat dengan problema.

Cara terbaik untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak akan pertolongan Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu dipahamkan bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan seberat apapun akan bisa diselesaikan.
Continue reading

Kekerasan Bukan Solusi Mendidik Anak

Membentak anak, sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian orang tua. Saat melihat anak melakukan kesalahan, atau ketidakpatuhan, orang tua memang sering dibuat jengkel. Secara refleks, karena emosi, orang tua sering bermaksud ‘menasihati’, tapi diucapkan dengan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih sering dilakukan oleh orang tua yang temperamental.

Perhatikan contoh ini (dan masih banyak lagi tentunya):

“Bid…ayo mandi! Disuruh mandi saja kok malas amat!”,  bentak ibu Abid (7) seraya menyeret paksa anaknya yang sedang asyik bermain.

“Fatma…jangan dekati kompor itu! Bahaya, tahu!”. Bentak ayah Fatma yang memergoki putrinya (4) sedang mengutak-atik kompor minyak. Ketika bocah kecil itu menangis mendengar bentakan ayahnya, sang ayah malah kembali membentak, “Heh…diam!” Si kecil pun semakin ketakutan.

Continue reading

Belajar Memahami Anak-anak

Anak merupakan amanah Allah yang harus kita didik agar menjadi anak saleh yang dapat membantu orang tuanya menjadi ahli surga. Bukankah selain ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, doa anak yang saleh merupakan amalan yang tidak akan putus walaupun kita wafat kelak? Memang tidak mudah hanya sekadar mewujudkan cita-cita ini, kalau apa yang kita berikan kepada anak hanya berupa teori-teori hidup belaka.

Kenyataannya, orang tua perlu berkolaborasi serta memberikan dukungannya bila hendak menerapkan pola hidup yang Islami apalagi terhadap anak-anak. Jangan sampai kita salah dengan alasan untuk melindungi anak sementara di sisi lain kita tengah berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan kebenaran (Islam). Kekompakan orang tua dalam keluarga akan sangat membantu melahirkan anak-anak saleh. Oleh karena itu, salehkanlah diri kita dulu selaku orang tua. Jika kita, misalnya ingin anak-anak melaksanakan shalat wajib tepat pada waktunya maka kita pun harus menerapkan hal yang sama.

Continue reading