You are currently browsing the tag archive for the 'Geisha' tag.

ilustrasi
Apakah di Indonesia ada juga Geisha? Saya tidak tahu. Yang jelas kelihatan adalah bahwa kita menemui banyak gadis-gadis (jelek-jelek boooo) yang pada nongkrong di restoran-restoran Jepang di Jakarta.
Entah mereka ngapain. Apa nemenin para tuan-tuan Jepang di sini atau mereka ngapain gak jelas. Istilahnya “burespang”, bubaran restoran Jepang. Apakah mereka adalah “geisha ala indonesia” atau pelacur? Gak tau deh …..

PERTAMA DAN SATU-SATUNYA DI INTERNET
Kehidupan Seorang Geisha
Sebuah terjemahan bebas atas sebuah tulisan tentang Geisha berjudul “The Life of a Geisha” yang ditulis oleh Eleanor Underwood, dengan pengantar dari Liza Dalby, dan diterjemahkan oleh deltapapa untuk tujuan penulisan skripsi.
Jika ada yang kurang tepat atau keberatan atas posting ini blog saya mohon maaf dan sekaligus minta ijin untuk mempost di sini. Saya hanya bermaksud membantu para mahasiswa atau siapa saja yang mencari referensi tentang geisha yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Lumayanlah bisa dapat terjemahan gratis karena buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Inggris.
Pengarang: Arthur Golden
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Anda tahu Geisha? Yap, geisha adalah semacam pelacur Jepang, tetapi dalam buku ini Anda akan tahu lebih dalam mengenai kehidupan seorang Geisha Jepang pada tahun 1930-an. Meskipun temanya adalah cerita seorang pelacur, namun buku ini jauh dari kesan vulgar dan porno.

Buku pertama, “Memoirs of a Geisha” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan jauh lebih populer daripada buku kedua “Geisha of Gion”.
Perbedaan lainnya adalah yang pertama adalah karya fiksi sedangkan yang kedua adalah benar-benar memoar dari Geisha terkenal Mineko Iwasaki.
Hal yang menarik yang menghubungkan kedua buku ini adalah Mineko Iwasaki. Beliau merupakan salah satu narasumber Arthur Golden untuk penulisan buku fiksinya, “Memoirs of a Geisha”.

Film ini menceritakan tentang sebuah dunia yang eksotik dan misterius di Jepang pada awal tahun 1930-an. Kisahnya berlatar pada era sebelum Perang Dunia II berkecamuk. Saat itu, seorang gadis kecil bernama Chiyo (Suzuka Ohgo) dan kakak perempuannya dibawa ke kota Kyoto untuk bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah geisha.
Selama bekerja disana, Chiyo diperlakukan dengan kasar, bahkan kerap dipukuli. Karena tak tahan lagi, ia dan sang kakak pun berencana untuk kabur. Namun sayang, mereka gagal bertemu kembali di tempat tujuan yang sudah ditentukan, karena Chiyo berhasil tertangkap dan segera dikembalikan ke rumah geisha itu.

Geisha, bagi kebanyakan orang, kata tersebut membuat mereka berpikir tentang prostitusi yang ada di Jepang. Pemahaman seperti itu memang tidak salah karena ada periode ketika geisha hampir tidak jauh berbeda dengan pekerja seks komersial.
Sebenarnya geisha itu apa? Menurut pengertian dari karakter huruf kanjinya, geisha berarti seniman, dimana huruf Gei berarti seni dan huruf Sha berarti pelaku atau orang. Geisha adalah seniwati profesional yang bertugas menghibur tamu yang berkunjung ke tempat dimana ia bekerja. Geisha biasanya bekerja di Ochaya atau kedai teh. Menghibur bukan berarti memberikan “hiburan” tapi menunjukkan berbagai kesenian tradisional Jepang dan bercengkerama dengan tamu tersebut.
Ini adalah contoh photo-photo Geisha modern. Sekarang mereka naik mobil-mobil mewah dan mengenakan baju-baju modern. Ada yang bertattoo juga, ada yang pakai baju tarian minim juga, ada yang kelihatan pusernya juga.
Namun tetap masih ada juga yang mengenakan uniform khas geisha lengkap dengan samishen-nya, meski di abad yang jauh dengan saat pertama kali mereka muncul. Rumah-rumah geisha-pun dipasang papan nama jelas bahkan disertai dengan peta wilayah-wilayah geisha.


Komentar Terbaik