Tagged: Curhat

Aku Pasti Pulang

Ramadhan tahun ini baru saja menapakkan kakinya di bumi. Namun godaan sudah saya rasakan begitu berat.

Saya harus menghadapi kejadian demi kejadian, pelecehan demi pelecehan atas martabat seorang lelaki yang wajib dihormati makmumnya.

Biarlah semuanya berlalu. Yang harus segera saya perbaiki adalah bagaimana saya harus mengisi sisa ramadhan tahun in dengan sempurna. Tidak ada yang tahu jika ini adalah ramadhan terakhir saya. Saya harus pulang.

Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap saya harus pulang dengan bekal dan oleh-oleh apa yang selama saya perbuat.

Saya yakin Tuhan tidak memberikan cobaan melainkan dalam batas kemampuan saya.

Entah kapan, saya pasti pulang!

Semakin Keterlaluan

Mengulang kejadian tgl 6 Mei 2010, kali ini temen saya kembali “berantem” dengan “istrinya”.

Seperti biasa, setiap kali istrinya mengeluarkan kata-kata kasar dan makian, anjing, babi, bangsat, bukan manusia, goblog, bego, dan masih banyak lagi. Kata-kata yang sungguh tidak pantas keluar dari mulut seorang ibu. Temen saya selalu tidak tahan. Maka dia gampar bibir istrinya yang kotor itu.

Dan seperti biasa juga, sang istri jagoan, merasa top membalas memukul, tapi selalu saja yang ia pukul daerah-daerah yang mematikan. Mata kanan, merah, bengkak, berdarah. Muka sebelah kiri penuh cakaran. Tidak ketinggalan, (maaf) kemaluan dibetot dan ditendang.

Teguran/tamparan suami (temen saya itu) yang sesungguhnya adalah mengingatkan agar berlaku sopan dan menghormati suami, tidak mengeluarkan kata-kata kotor, dianggapnya sebagai tantangan untuk berkelahi.

Ya, istrinya rupanya menginginkan kematian suaminya atau cacad seumur hidup. Udah gitu istri mengancam mengadukan suaminya untuk kasus KDRT ke polisi. Suaminya berpikir, silahkan saja, yang ada entar malah kebalikanya, istri yang melakukan KDRT terhadap suami.

Silahkan masukin suami kepenjara, gugat cerai, cari makan sendiri biar semuanya selesai dan lega.

Astaghfirullah, kataku lirih ……..

Terlalu

“Anjing,,,,,,, bangsat,,,,,,,,” begitulah kata temanku.

Kenapa?, tanyaku.

“Yah, istri gw memukul gw lagi. Kali ini di bagian mata. Dulu dia tendang kemaluanku skr mata kananku. Bukanyanya gw kalah tapi memang gw biarin, gw biarin biar jadi istri durhaka!”

Dia diam sejenak kemudian melanjutkan secara emosional. “Heran gw, setiap kali ribut selalu main kasar dan bini gw selalu mengancam daerah2 yg mematikan. Yah, buat dia gw emang dianggap musuh yang harus dimatiin.”

Aku bilang: Ya sudah, berdoa saja, semoga dia mendapat ampunan dan hidayah, dosa manusia ditanggung sendiri-sendiri. Biarkan ia memikul dosanya sendiri

Katanya lagi: Istri duhaka dia !

Posted with WordPress for BlackBerry.

Kasus Soetarti dan Rusmini

Nenek Soetarti dan Rusmini (Foto: MediaIndonesia.com)

Apa yang terlintas dan terpikirkan dibenak Anda ketika mendengar berita bahwa dua orang nenek sepuh renta, janda dari pahlawan, harus mondar-mandir ke persidangan karena tuntutan penyerobotan tanah?

Sekedar mengingatkan, Perum Pegadaian melaporkan nenek Soetarti dan Rusmini  ke Polres Jakarta Timur. Tuduhannya, penyerobotan lahan/tahan  dan pidana menempati rumah yang bukan haknya. Continue reading

Pekan Kondom Nasional

Saya kok ora dong babar blas alias ora mudheng maksud pemerintah ini. Katanya negara muslim terbesar di dunia, banyak pemimpin yang muslim, lha kok promosi kondom buat cegah Aids. Astaghfirullah…..

JAKARTA–Pemerintah Indonesia meresmikan Pekan Kondom Nasional (PKN) 2009. Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung program penanggulangan HIV dan AIDS untuk mencegah penyebaran virus HIV di Indonesia. Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan bersama antara Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Departemen Kesehatan RI, Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN), dan sejumlah produsen kondom.

Kegiatan yang juga digelar bersamaan dengan Seminar Nasional AIDS itu dilakukan di Ruang Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (30/11).  Continue reading

Mengapa si Kecil Menangis?

Saya punya baby usia 9 bulan pas hari ini. Biasa kadang nangis rewel, “nakal”, dsb. Tapi lepas dari itu semua sesungguhnya saya sedang menikmati hidup bersamanya. Kadang sepulang saya kerja, dia langsung mengangkat tangannya menandakan dia kepengin ikut (digendong) hendak menceritakan bagaimana ia melewati sepanjang hari tadi.

Tanpa pikir panjang langsung saya dukung ia, hilang semua letih dan lelah serta segala kepenatan. Lalu ia saya dudukkan di sebelah saya. Sambil mata beningnya menatap saya seolah dia berkata: ” Berat ya yah?.

Ah, tidak nak, justru semuanya akan menjadi berat kalau kamu tidak ada di samping ayah.

Saya kadang bertanya-tanya dalam hati saat putri saya menangis. Kenapa nak? Mau apa?  Ternyata
Continue reading