Cerpen Selingkuh

26 10 2009

Gusminah Jadi Monster

Gusminah, istriku, masih tetap pada pendiriannya. Ia menuntut cerai, menuntut pesangon dari gajiku, dan menuntut biaya hidup penuh buat anak-anak. Ia jadi kemaruk sekali, jadi sangat berhitung dalam urusan uang.

Aku bagai tak mengenal lagi Gusminah yang dulu, yang senantiasa siap berkorban, yang begitu lembut dan tulus, yang begitu penuh belas kasih. Gusminah yang setia menjalankan roda rumah tangga kami. Ia bangun sebelum azan subuh, dan seluruh urusan rumah ini menjadi beres berkat dirinya.

Gusminahku telah berubah. Ia tampil bagai monster yang sangat egois. Matanya tak lagi bermuatan cinta suci bermakna. Aku sibuk membela diri pada semua orang yang menyalahkanku atas perceraian ini. Aku katakan pada semua orang, Gusminah kelewatan.

Masak ia mencemburui mayat. Orang sudah mati ia permasalahkan sebagai sasaran cuci mataku. Beberapa hari lalu, berita kriminal di televisi meliput pembunuhan istri Mamat, bernama Sutari.

Mamat memang bawahan di kantorku. Berulang kali foto mendiang Sutari ditayangkan televisi. Mata Gusminah menjadi berbeda. Ia tampak serius.

“Aku tak tahu istri Pak Mamat secantik dan seseksi itu,” ia mulai tegang. Lalu berita santer lain, bahwa Sutari sering menjadi buah bibir para lelaki teman sekantorku, lantaran cantik sekali.

“Cocoknya Sutari itu jadi model, peragawati, atau bintang sinetron. Mata siapa pun takkan puas memandangnya,” pujian itu Gusminah dengar dari bawahan lainku yang kebetulan mampir ke rumah kami.

Gusminah sendiri sejak lama kularang menampakkan batang hidung di kantorku. Ia tak perlu tahu semua urusan kantor, dan perkumpulan para istri di kantorku. Aku katakan, hanya membuang waktu saja.

Gusminah kini jadi segalak monster dan sangat egois, ia ditunggangi amarah luar biasa. Sangat berbeda dengan Gusminahku tempo dulu.

Dulu, beberapa tahun silam, waktu akan kuceraikan dia, ia meratap-ratap, menangis, dan tampak frustrasi. Ia seperti bayi yang kehilangan induk, seperti anak kecil yang kehilangan pijakan. Ia berlutut memohon kepadaku, “Jangan ceraikan aku…,” tangisnya. Saat itu aku merasa menang.

Aku merasa sukses dengan politikku mengekang perempuan, membatasi ruang geraknya, dan membantai kemerdekaannya. Aku berhasil mempersempit ruang geraknya dengan membebaninya dengan pekerjaan rumah tangga, dan aku tak pernah ikhlas sedikit pun jika istriku punya pembantu. Ya, aku merasa berdosa, wong ibuku saja tak dibantu pembantu, masak istriku mau ongkang-ongkang kaki?

Tapi itu dulu. Kini ia berdiri tegap di hadapanku, seperti Srikandi yang siap menghujamkan tombaknya ke jantungku. Seperti kupu-kupu cantik yang siap terbang, dan sesekali bagai bunglon yang suka berubah warna. Ya, semenjak ia mencuri waktu luang untuk menjual desain mebel rotan ke banyak perusahaan ekspor. Menjual desain tekstil, dan desain busana ke perusahaan garmen ekspor.

Ternyata, upayaku mengubahnya menjadi katak dalam tempurung kurang sukses.

Terus terang, sejak menikah denganku, aku mengekangnya, menghambat kariernya, mencegah ia bekerja, menghambat komunikasinya dengan dunia luar, mengharap ia tetap bodoh dan tergantung kepadaku, meski gajiku sering kurang dari cukup. Ia tampaknya tertekan harus mencukupi yang jelas tak cukup.

Lama kelamaan, aku tak tega juga. Memang gajiku terbatas.

Padahal kebutuhan anak-anak semakin membengkak, apalagi untuk dunia pendidikan yang kian mahal. Mulai kukendorkan sikapku, kuizinkan ia meraih relasi seperti saaat gadisnya dulu, memanfaatkan kepintaran dan keahlian yang ia miliki di masa lalu.

“Kenapa kau tidak pertimbangkan anak-anak kita?”

“Sudah tentu saja. Aku akan membangun usaha yang lebih maju. Kalau sudah bercerai denganmu, aku akan terbebas dari belenggu sakit hati, rasa jijik, apalagi jika memandang matamu yang habis-habisan cuci mata di rumah Pak Mamat, memandangi wajah istrinya yang jelita dan seksi itu, Sutari!! Kubayangkan diriku bakal terbebas dari keharusan menjadi pembantu seperti aturan mainmu. Akan kugaji pembantu, lalu aku bebas mengembangkan karierku, sebagai desainer mebel rotan, eksportir.

Sekarang saja sudah banyak pesanan. Tapi aku tetap kau wajibkan untuk sibuk mencuci, memasak, mengepel, menyeterika, membersihkan selokan, menyapu halaman, menyabit rumput, aku tak bisa memenuhi order lebih banyakAku tergilas di kancah persaingan hidup ini! Otomatis aku tak bisa lebih banyak membiayai pendidikan berkualitas bagi anak-anak….”

“Tapi kita bisa atur sekarang, kita cari pembantu tanpa bercerai,” ratapku.

Istriku mencibir, “Jangan, nanti kau merasa berdosa pada ibumu, masak istrimu punya pembantu, sedang ibumu tidak? “

“Demi anak-anak istriku, kita jangan cerai. Nanti kamu aku kasih kelonggaran , hari libur….”

“Apa itu akan bisa menjamin hatiku bakal tenang? Bukan cuma itu masalahnya, bukan cuma aku merasa disulap jadi pembantu, tapi juga karena kebiasaan cuci matamu itu. Bukankah wanita seperti Sutari yang keseharian mengurus rumah suami dan anak tapi cantik bak bintang film Indo itu amat memikatmu. Itu tipe wanita idolamu bukan?”

“Ssst, tak baik menyebut nama orang yang sudah meninggal.”

“Tapi justru sejak ia dibunuh oleh kakak kandungnya sendiri karena masalah warisan, aku baru tahu bahwa ia cantik sekali. Dulu aku sempat heran, kenapa Mas sering sekali ke rumah Pak Mamat. Dia itu kan bawahanmu, kenapa bukan Pak Mamat yang kemari, malah sebaliknya?

Pantas, aku ingat betul tahun-tahun di mana gairahmu menggebu jika akan ke rumah Pak Mamat. Kau rela pulang kemalaman karena mobil kita diperbaiki Pak Mamat di garasi rumahnya, tapi kau turun tangan sampai bajumu kotor. Aku kenal lama denganmu Mas, aku tahu betul saat kau tertarik dan tergila-gila pada wanita cantik yang kesehariannya identik dengan pembantu!!” ia mendampratku lagi.

“Fitnah… itu fitnah!!”

Yah, begitulah cara aku menampik tuduhan istriku. Marah, keras, dan kasar!! Walau hatiku kecil mengakui aku memang salah, suka nakal, ber-affair-ria. Terus terang, jika istriku sudah mulai menuduhku (padahal memang betul aku suka ber-affair-ria), aku mencak-mencak hebat.

Yah, mana ada sih maling mengaku maling. Mana mungkin aku mengaku gemar main mata dengan banyak perempuan.

Mana mungkin kuceritakan, kalau aku telat pulang kantor aku suka mampir ke mana dululah, misalkan mengantar teman wanita di kantor yang menarik hatiku.

Aku bahkan senang berlama-lama di kantor. Aku cuci mata bukan dengan hanya memandang Sutari jika ke rumah Pak Mamat, tapi dengan memandangi seorang gadis bernama Erma, bawahanku. Aku sanggup kerja lembur sampai dini hari jika bersama Erma, dan akan berakhir dengan mengantarkan Erma pulang.

Bahagia bisa berduaan dengan Erma di mobilku. Masalah yang satu ini, Gusminah tak pernah tahu. Tapi ia mungkin mencium gelagatku.

Yah, sekadar selingan hidup, masak tidak boleh. Supaya ia tidak terus mendampratku, aku suka marah duluan, dan lebih keras lagi.

Mencegah dan menakuti dia, aku katakan, kalau ia terus berprasangka buruk, nanti malah aku jadi berselingkuh betulan. Meski sebenarnya hati kecilku mengakui, Gusminah tidak salah. Aku senang memainkan affair kecil-kecilan.

Perihal cuci mata, sebetulnya ini cuma satu dari banyak kebiasaanku. Namanya juga lelaki. Persepsiku…, selama aku tak menyetubuhi perempuan lain di atas kasur, itu bukan selingkuh.

Selama aku tak menghamili perempuan itu, juga bukan selingkuh.

Kalau hanya pelukan dan cumbuan kecil, itu juga bukan selingkuh.

Sesekali hati kecilku berteriak, bahwa aku juga licik, tentang istriku, aku paling takut kalau ia memikirkan pria lain di kepalanya. Bahkan aku tak rela sekelebat bayang lelaki lain menyinggahi matanya. Aku tak rela pula pandangan mata lelaki lain memberondong nakal ke arah Gusminah yang memang cantik.

Bahkan, terus terang, kalau kubiarkan ia bekerja rutin di kantoran di luar rumah, aku tak yakin kalau tidak akan banyak lelaki mata keranjang – mirip saya ini- bakal memburunya, tak peduli ia sudah punya tiga anak.

Kembali ke masalah Sutari, istri Pak Mamat, bawahan di kantorku. Ketika aku tahu istrinya cantik sekali, putih, seksi, dan suka pakai baju seronok, aku jadi betah berlama-lama di rumah pak Mamat. Aku bahkan bertekuk lutut waktu Pak Mamat mengerjai aku, katanya bisa memperbaiki mobilku yang raja mogok. Meski aku tahu ia kurang pintar.

Tapi, asal aku bisa berlama-lama di sana. Apalagi kalau Sutari dengan sumringah, senyum yang menggairahkan menyajikan secangkir kopi panas… ah, aku tersanjung. Sutari juga suka menghormatiku dengan penuh kekaguman, sebab aku ini punya jabatan di kantor, namun Mamat tak pernah cemburu, ia malah suka aku memandangi istrinya. Asal ia diberi order di luar kantor.

Aku juga sangat bersedih waktu mendengar berita Sutari dibunuh kakak kandungnya sendiri akibat perebutan warisan. Dan ini membuat Gusminah marah, ia memandangku dengan jijik, sangat jijik. Seperti kecolongan.

Ah, Gusminah ingin cerai. Tapi ia sekarang tidak pasrah dan tulus lagi, tidak lagi seperti kucing yang lembut, melainkan bagai elang dengan mata yang garang.

“Perekonomian kita sedang sulit-sulitnya. Kenapa sih kau tega Gus…? Ini cuma masalah sepele yang sudah berlalu. Masak kau mencemburui orang yang sudah jadi mayat? Lagi pula aku bersumpah tidak ada apa-apa dengan mendiang Sutari…. Kau mencemburui bayangan,” aku mencoba menurunkan nada suaraku, dan bersumpah palsu.

“Naluri perempuan, dan nuraninya, bahkan mampu menyelami mata suaminya sampai ke dalam. Saya tahu banyak tentang affair-affair ringanmu Mas, tapi sangat banyak. Affair kecil yang bertumpuk, main api kecil-kecilan…. Kebohongan-kebohongan kecilmu Mas, sudah aku tahan bertahun-tahun…. Aku sudah capek Mas. Sementara aku jadi babu, memeras otak untuk dapat tambahan, mengurusi rumah mati-matian, mengurusi anak, … ternyata kau malah sibuk cuci mata di luar rumah.”

“Begini saja, kita cari pembantu… supaya kau tidak terlalu lelah, dan bisa cari tambahan uang lebih banyak,” usulku.

“Tidak Mas, aku tidak yakin, aku kuatir, nanti Mas malah akan jatuh cinta pada pembantu. Wong aku saja mas sulap menjadi mirip pembantu, itu sudah satu tanda Mas suka yang tipe-tipe wanita yang mirip pembantu namun cantik. Dan curangnya, kalau mas mau yang necis, berkelas dan wangi, mas cuci mata sepuasnya di kantor.Ya, cuci mata, itu bikin aku sebal Mas….”

“Aku janji, tidak lagi cuci mata.”

Tapi Gusminah masih tetap kukuh. Lama-lama aku marah besar.

“Rumah ini masih atas namaku. jadi, siapa saja yang membangkang, silakan angkat kaki, urusan cerai, baik, kita urus setelah kamu pergi, biarkan anak-anak di sini…!

Gusminah dengan tenang membenahi kopornya, buku-bukunya, barang-barangnya. Ia memanggil taksi, ini mengherankan.

Sebenarnya aku kelabakan, aku kerepotan mengurusi sekolah anak, masak, mencuci, menyeterika, dan menitipi anak ke tetangga.

Terpaksa aku menelepon ibuku dari Kalimantan, dan mengiriminya ongkos supaya bisa mengurusi anak-anakku.

Satu bulan lebih, Gusminah tak juga pulang. Lalu, aku mengatur belanja, ternyata, biaya hidup kami sangat besar. Selama ini Gusminah telah mencukupi kebutuhan dengan tambahan penghasilannya sendiri. Aku kelabakan, tak sempat cuci mata lagi.

Kini aku baru tahu, pasti setiap hari Gusminah kewalahan dan kelelahan.

Ia mengurusi rumah, suami, dan anak. Tapi juga ia harus kerja keras mencari tambahan penghasilan. Biaya pendidikan anak-anak memang sangat tinggi, termasuk ongkos jalan.

Tentu saja ia jadi mudah naik darah, cemburu atas ulahku yang suka cuci mata. Selama ini badan dan otaknya sudah diperas…. Ah, tiba-tiba aku baru merasakan kerinduanku. Tapi, ke mana ia pergi? Apa ia pulang ke Ujungpandang?

Tak mungkin, Gusminah pantang urusan pribadinya diketahui keluarganya, juga pantang merepotkan orang lain. Aku bingung, tapi beruntung kini ibuku datang dan mau mengurusi anak-anak. Rupanya, ibuku sudah tua dan kelelahan.

“Cari istri baru sajalah…,” dengan enteng ibuku menasihati. Tapi, hati nuraniku masih menunggu Gusminah pulang.

Aku teringat, betapa pengorbanannya luar biasa untuk menjadi istriku. Bahkan, terus terang, cincin kawin kami, mas kawin kami, ia beli sendiri, bukan aku yang beli. Bahkan, perhiasan yang ia miliki kami jual habis. Gus…, aku masih menelan ludah.

Dan, dua bulan kemudian, Gusminah datang. Tapi bersama seorang lelaki dan salah seorang kakak perempuannya.

“Kami ingin Gusminah cepat diceraikan, ini calon suami barunya. Ia akan menyiapkan resepsi yang pantas, dan kehidupan yang pantas…,” kakak perempuan Gusminah dengan sinis menatapku. Aku marah, harga diriku teraniaya, dan aku gengsi untuk menolak.

“Baiklah!!” bentakku.

Anak-anak menangis, meminta kami untuk tidak bercerai.

“Ini salah ayah, kata ibu, ayah tukang cuci mata, ini salah ayah, cuci mata melulu dengan perempuan lain. Ayah sih mata keranjang,” ujar anak-anakku menghardikku.

Tapi, Gusminah masih tegar dan yakin, ia pasti menahan semua kesedihan, tapi ia kini mulai pintar mengambil sikap. Kini aku menyepi di ruang sepi, kata ibu aku harus cepat cari istri baru.

Dan anak-anak kami, berikan saja pada Gus. Namun Gusminah menolak, karena katanya ia ingin merasakan lahir kembali, bebas dari memikirkan cari duit buat biaya anak. Apalagi mengurusi dan mendidik anak.

“Bukankah Mas bilang itu kerjaan ringan, sepele…. Sekarang, aku serahkan tugas ringanku itu pada Mas. Setelah bertahun-tahun membusuk menjadi istri Mas, jadi pekerja romusha di rumah ini, dan menelan rasa cemburu bertubi-tubi. Aku mau tahu rasanya lahir kembali,” wajahnya menjadi keras dan kejam.

Ini bukan lagi Gusminah yang dulu penuh ketulusan, ia sudah diubah oleh amarah….

Gusminah telah berubah menjadi monster, dan akulah yang berperan besar dalam merobek-robek kepribadian Gusminah.

Akulah yang membidani kepribadian baru dalam diri Gusminah. Menjadi monster jahat dan egois. Lewat penderitaan belasan tahun lamanya. | sriti.com

About these ads

Actions

Information

6 responses

30 09 2013
Dhewi chancer

yach selingkuh lagi smpek berapa hari susu gue di pegang pegang di remas remas aduh pokoknya gwe tiap hari ktemuan terus 1 hari 4 kali jadi 4 pegangan donk yha gacg 4 pegangan saja bnyak lah kata pacar gwe mlem nya ketemuan lagi katanya masih kurang megang susu gwe dan tempek gwe smpek gwe sma dia foto bareng pas cipoan megang susu megang tempek gwe smalem begitu terus yha wajar gwe kan chantik yha

26 03 2013
bambang Suparno

Aku berdo’a setiap hari setiap malam hanya utk kesembuhan isteri saya ya Allah. Sega puja-puiji habuya milik-Mu, Yang menguasai hari kemudian, hanya kepada-Mu aku beribadah dan hanya kepada-Mu ku memohon, tunjukkan kami jalan yang lurus N jalannya orang2 yang Engkau beri NikmatN bukan jalannya orang2 yang ingkar kepada-Mu. Berikan kesembuhan isteri-ku yang post strook, DM dan lukanya. Agar mampu mobilsasi, beribadah kepada-Mu kembali Ya Allah Ua Robbi “asalukal’adzim, Robbal ‘aesyil’adzim anyashfiyani syifaan la yughoziru syaqoma , amin. (Untuk kesembuhjan isteri hamba )a Allah.)

22 03 2013
syarfiati

nie nm’y suami krg ajr g tw diri g bs nyukupn kluarga tp msh ttp mengekang istri untk tdk bkrja d’luar rmh dsr suami biadap mlh enk”n maen mata dgn wanita laen.

20 03 2012
jakarta

ini cerita cukup bagus tentang rumah tangga yang sudah retak seharusnya si suami dalam cerita jangan hanya memanfaatkan istrinya untuk selalu mengurusi pekerjaan rumah sementara suaminya hanya cuci mata ama perempuan-perempuan di luar sana.

23 02 2011
salazar

krendd bgt cerita’a..

2 03 2014
Erma

Good ceritany:-)sy suka,mkny jd laki2 tu lebih menghargai nmny istri jngn pdang sple pkrja’an rumah tangga,bru try bru tau kn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: