Wanita Penghuni Syurga

“Apabila seorang wanita telah melaksanakan sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga harga diri, dan taat pada suaminya maka ia dipersilahkan masuk surga dari pintu mana saja yang ia sukai”. (HR. Ahmad)

Hadits di atas menyebutkan ciri-ciri wanita penghuni surga. Jika seorang wanita memahami hadits tersebut, seyogyanya ia tak perlu repot dengan pelbagai persoalan dan urusan. Isu persamaan gender yang dihembuskan kaum sekuler tidak akan berarti apa-apa bagi wanita yang berharap menjadi penghuni surga.

Sholat dan puasa merupakan kewajiban bagi setiap manusia beriman sebagai bukti pengabdian kepada Allah Swt. aturan dan ketentuannya telah ditetapkan dengan jelas. Hingga tak perlu dipersoalkan tentang jumlah, waktu dan cara pelaksanaannya.


Yang menjadi persoalan adalah sejauh mana kewajiban menjaga diri dan taat kepada suami dilaksanakan. Kewajiban itu memang termasuk ibadah ghoiru mahdloh yang mengenal kerelatifan. Tentu ada batasan-batasan yang tak mungkin dilampaui, suami sebagai kepala rumah tangga, wajib ditaati oleh istri sepanjang perintahnya tidak menentang aturan Allah Swt. Istri yang nusuz (membangkang), tidak mengindahkan perintah suami, merupakan tindak kedurhakaan. Sebab jika dengan landasan iman yang ada didadanya, sudah barang tentu keputusan diambil oleh suami yang sudah lewat pertimbangan-pertimbangan tertentu dan jauh dari tindakan kezaliman.

Sebenarnya, apabila seorang istri dengan penuh kepatuhan mentaati ajaran Islam, pekerjaan ini sudah memberatkan baginya. Tugas istri adalah mengurus rumah tangga. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya meski dilalukan dengan sebaik-baiknya. Istri berkewajiban pula melakukan pendidikan kepada anak-anak, agar mereka kenal aturan. Dengan demikian mereka tidak liar, brutal dan tak tahu diri. Ibulah yang harus mengambil alih peran sebagai penguasa di rumah tatkala suami pergi.

Begitupun sikapnya terhadap suami. Dia mesti bermuka manis, menyambut kedatangannya. Menghadirkan wajah cemberut, kusam adalah suatu yang tidak selayaknya, karena hal itu hanya akan menambah beratnya beban suami yang mungkin akan mengakibatkan ketegangan yang tak terselesaikan.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa pelbagai tindak penyelewengan seorang suami terkait erat dengan perlakukan yang diperolehnya dari sang istri sendiri. Boleh jadi memang ia tak memperoleh ketenteraman di rumah. Atau tak menjumpai suasana sejuk yang mampu menurunkan ketegangan yang ada dikepalanya. Atau istri memang tak bisa menjaga diri sepeninggal suami. Meskipun dengan penyelewengan itu suami tak mendapatkan apa yang diinginkan, namun setidaknya perasaannya telah terlampiaskan.

Meskipun tidak dijelaskan secara operasional sejauh mana pelaksanaan kewajiban itu, tapi setidaknya ada batas-batas tertentu yang tidak boleh dilewati. Secara gampang dapat disebutkan misalnya: tidak memberikan peluang kepada laki-laki selain muhrimnya memasuki rumah tanpa sepengetahuan suami. Keluar rumah tidak seorang diri, itupun atas seizin suami. Tidak memamerkan aurat, berlaku sopan sehingga tidak menimbulkan kebencian orang lain. Tidak pula pantas baginya berdandan, berpakaian dan bertingkah yang membuat laki-laki lain tergiur olehnya.

Mencari wanita dengan kualitas surgawi semacam ini merupakan pekerjaan yang teramat sulit. Karena boleh dikatakan kebebasan telah menjadi mode kaum wanita kita saat ini. Mereka semuanya berkeliaran lepas dari kontrol suami, bagi yang bersuami, bagi yang masih lajang juga lepas kontrol dari pengawasan orang tua.

Amanah untuk menjaga rumah, mendesain, dan menata lingkungan rumah tangga yang asri tidak menarik keinginan mereka lagi. Yang didambakan adalah kedudukan seiring dengan suami, bahkan mengambil peran ganda di luar rumah. Urusan-urusan dalam negeri diserahkannya kepada pembantu. Jadilah anak-anak mereka mencontoh pembantu yang mengasuh mereka. Terkadang anak-anak mereka lebih rindu kepada pembantu ketimbang kepada ibunya. Hal itu kerap terjadi ketika pembantu pulang mudik.

Memang, peran pembantu besar sekali, melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin; seperti mencuci pakaian, mengepel lantai dan membereskan barang-barang yang tidak pada tempatnya. Tetapi apakah mungkin ia akan mampu menangani pendidikan anak-anak dengan penuh kasih sayang sebagaimana seorang ibu? Dan mungkinkah ia melayani majikan seperti istri sendiri yang melakukannya? Inilah yang terabaikan selama ini, sehingga banyak suami tak betah tinggal di rumah. Anak-anak juga lebih senang keluyuran kesana kemari tak tentu arah dan tujuan. Kenakalan mereka tidak bisa dikendalikan. Itu semua bisa jadi karena tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, utamanya ibu.

Kenakalan itu merupakan ekspresi jiwanya, pemberontakan naluriahnya. Bahkan seakan menjadi rumus pasti, bahwa hilangnya kasih sayang di rumah akan membawa pengaruh terhadap tingkah lakunya di luar rumah. Penanganan untuk mengatasinya harus dimulai dari keluarga itu sendiri. Lewat ibu sebagai penanggung jawab langsung pendidikan anak-anak di rumah.

Alternatif pemecahannya, seorang istri harus menempatkan diri sebagaimana fitrahnya sebagai wanita. Mengambil tugas yang tidak teremban oleh fitrah dan kemampuan suami, menjadi tulang punggung dan mitra membina kehidupan yang serasi.

Selama suami berada dijalan Allah Swt., istri tak diperkenankan melanggar aturan suami, walau serendah apapun derajat suami dimatanya. Walaupun dia lebih pandai, lebih pintar, lebih kaya dengan segala kelebihan lainnya, adalah menjadi kewajiban baginya untuk senantiasa taat, pada suami.

Bagaimanapun juga kedudukan suami adalah pemimpin rumah tangga. Dialah yang berwenang terhadap segala keputusan. Kebenaran dan kekeliruan di dalam memimpin serta mengatur istri dan anak-anaknya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt. Sehingga istri harus memberikan pertimbangan, berkonsultasi terlebih dahulu kepada suaminya. Di sanalah letak kebahagian rumah tangga. Anak-anak yang sholeh, istri yang taat, suami yang setia, akan senantiasa menjadi penyejuk pandangan mata. Suasana yang demikian akan membuat suami lebih betah di rumah. Kemungkinan berbuat untuk macam-macam di luar rumah akan kecil, paling tidak dia akan tak tega melakukannya.

Istri yang mampu menciptakan suasana demikian dengan dilandasi iman adalah profil penghuni surga. Seorang wanita yang senantiasa sibuk mengurusi rumah tangganya, dan memenuhi kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya adalah istri berkualitas surga. Kiranya jangan sampai mengambil tugas lain, yang tak primer, sementara yang wajib terabaikan.

sumber

About these ads

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s