Cermin Sebuah Hati

Untukmu “Ibu”

Tuesday, December 23, 2008 · 3 Comments

Ternyata tanggal 22 Desember kemarin banyak yang cari-cari tulisan tentang “ibu”, begitupun saya yakin banyak posting tentang “ibu”. Begitu saya melihat traffic blog saya, pada hari itu banyak pembaca yang sampai ke sini.

Selamat hari ibu deh buat ibu-ibu, yang masih punya ibu, atau sudah gak punya ibu, juga buat yang mau jadi ibu, termasuk yang ogah jadi ibu atau gak bisa jadi ibu, juga buat yang sok keibu-ibuan. Ibu tiri, ibu mertua baik yang galak maupun yang sayang ama menantu, meskipun bukan menantu pilihan, idaman dan harapan. Ibu kota yang kejam juga. Ibu apa lagi nih ya ?????

Ah, Saya nyanyikan saja lagu masa kecil buat Anda. (Anda juga boleh ikut nyanyi lho. Yuk, satu, dua, tiiiiiiiii )

Kasih Ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.

Ya, lagu indah yang semakin tak terdengar, tersisih oleh anak-anak yang lebih hapal menyanyikan lagunya cancuters, sarungers, kutangers dan apalagi lagu tema sinetron.

Di antara sekian banyak lagu bertema ibu, tentang ibu, pujaan untuk ibu dan banyak lagi, cuma ada satu yang paling saya suka:

Nyanyi Rindu Untuk Ibu
oleh: Ebiet G. Ade

Tubuhmu yang terbungkuk, tersandar lemah di kursi kayu tua
Jemari kurus terkulai menggenggam pena engkau goreskan sajak
Sisa rambutmu perak, tinggal segenggam
Terbaca pahit, kerasnya perjalanan
Nampaknya ingin kautumpahkan seluruhnya di dalam puisi

Dari alis matamu terbentuk garis guratan kokoh jiwa
Angin yang deras menghempas tak kau hiraukan batinmu kuat bertahan
Meskipun raga semakin rapuh tak pernah risau, selalu tersimpul senyum
Sepantasnyalah kujadikan suri teladan, potret perjuangan

Oh, oh, oh, ibu, ada yang ingin kutanyakan padamu
Hasil panenan kemarau ini sesubur panen yang kita petik bersama
Oh, oh, oh, ibu, apa kabar sawah kita sepetak?
Masih bisakah kita tanami? atau terendam ditelan zaman?

Setelah cucumu lahir aku lebih faham betapa beratnya
membesarkan dan setia melindungi semua anak-anakmu
Kita yang s’lalu hidup sederhana kau sanggup mengasuh hingga kami dewasa
Dengarkanlah nyanyian yang aku peruntukkan buatmu, ibu

Oh, oh, oh, ibu, ada yang ingin kutanyakan padamu
Hasil panenan kemarau ini sesubur panen yang kita petik bersama
Oh, oh, oh, ibu, apa kabar sawah kita sepetak?
Masih bisakah kita tanami? atau terendam ditelan zaman?

Categories: Cermin Sebuah Hati · Curhat
Tagged: , , , , , ,

3 responses so far ↓

Leave a Comment